Hikmah Khalifah Umar bin Khattab r.a memilih shalat di samping gereja

Hari ini perjuangan rakyat Palestina telah sampai pada titik nadir menghadapi rezim zionis Israel laknatullah. Hampir tiap hari kita dengar berita di TV ataupun media online lainnya tentang tewasnya warga sipil di jalur gaza. Meski jumlah pasukan zionis Israel tidaklah banyak tapi umat islam diseluruh dunia belum mampu membungkam mereka karena keretakan ukhuwah yang kini dialami. Apakah para pemimpin dunia islam hanya tinggal diam dan lebih memilih untuk sibuk di zona aman masing-masing. Kalau kita menengok sejarah masa lalu saat Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a merebut tanah baitul maqdis maka kita akan dibuat tecengang, betapa mudahnya Umara yang satu ini membebaskan tanah suci Al Quds.

Suatu hari di tahun 638M, Uskup dari Yerusalem mengumumkan bahwa seorang pemimpin besar Islam, ‘Umar bin Khattab, akan datang untuk menandatangani perjanjian damai dan perlindungan khalifah bagi kota suci Yerusalem. Maka seluruh penduduk Yerusalem pun tumpah ruah di gerbang kota. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan tampak bersiap menanti arak-arakan kunjungan kenegaraan yang akan tiba, untuk melihat, menyambut dan mengucapkan selamat datang kepada khalifah yang terkenal karena keadilannya itu. Namun arak-arakan yang diharapkan itu tidak ada. Di cakrawala mereka hanya melihat dua orang yang sederhana bersama seekor unta yang kelelahan.

Salah seorang dari mereka duduk di atas punggung unta, dan yang lainnya berjalan kaki sambil menuntun untanya. Mengira bahwa khalifah pastilah yang duduk di punggung unta, segera seluruh penduduk kota berlarian menyongsong dan menyalami sang penunggang unta untuk menyambutnya, tapi… nanti dulu. “Aku bukanlah Khalifah Islam yang kalian nantikan. Aku hanyalah pengawalnya,” penunggang unta itu mencoba menjelaskan. Dalam melewati perjalanan jauh dari Damaskus ke Jerusalem, ‘Umar menghargai pengawalnya dengan bergantian menaiki unta mereka. Pada saat menjelang tiba di gerbang kota, merupakan giliran ‘Umar a.s. lah yang berjalan menuntun unta. Semua orang takjub dengan pribadi sang pemimpin besar Islam itu. Saat tiba waktu shalat, sang Uskup mengajak ‘Umar ke sebuah gedung yang indah dan mempersilahkan ‘Umar shalat di sana.

Menyadari bahwa gedung itu tempat suci orang Kristen, ‘Umar memilih shalat di depan pintu gereja. Mengapa? Haramkah shalat di sana? “Jika saya shalat di tempat suci kalian,” demikian kata ‘Umar kepada sang Uskup setelah selesai shalat, “para pengikut saya yang tidak mengerti dan orang-orang yang datang ke sini di masa yang akan datang akan mengambil alih bangunan ini kemudian mengubahnya menjadi masjid, hanya karena saya pernah shalat di dalamnya. Mereka akan menghancurkan tempat ibadah kalian. Untuk menghindari kesulitan ini dan supaya gereja kalian tetap sebagaimana adanya, maka saya shalat di luar.”

Jerusalem adalah kota suci agama-agama besar. Tanahnya telah dibasahi dan disuburkan oleh ribuan darah manusia —sejak abad ke 20 SM hingga sekarang, abad ke-20 M— yang berperang atas nama agama dan berpindah tangan berkali-kali. Namun dengan kuasa cinta, mereka dengan suka cita masuk kekuasaan Islam ditangan seorang ‘Umar, pengawalnya dan seekor unta, sebagaimana Ibrahim a.s diterima Melchizedek, Raja Salem (Jerusalem) pada tahun 1900 SM. Memuji Allah sambil menghancurkan orang lain bukanlah jihad. Mengapa Dia mengirimkan para Nabi dan Rasul jika Dia bertindak seperti itu? Rasulullah Muhammad saw sendiri diutus bukannya untuk memusnahkan manusia; dia diutus dengan kebijaksanaan yang dapat menunjukkan kepada manusia bagaimana ia mengalahkan kejahatannya sendiri. Dan jika umatnya telah mampu mengikis habis sifat-sifat jahat dalam dirinya, maka tidak akan ada lagi permusuhan dan perbedaan di antara manusia: semuanya sama, anak cucu Adam a.s, makhluk Tuhan. Matahari tidak pernah memilih kepada siapa dia curahkan sinarnya, bulan tidak pernah memilih kepada siapa dia usapkan kelembutannya, mengapa kita harus memilih memberikan kasih sayang kepada sesama? Jika kita menerima dan memahami Islam, maka kita tidak akan menganggap siapapun sebagai musuh. Kita tidak akan lagi melihat perbedaan apapun dan membuat pertentangan, apalagi melakukan ‘takfirisme’ (mengkafirkan orang lain) kepada sesama muslim.

Allah memberikan payung perahmatan Islam ini bukan hanya kepada umat Islam, tapi kepada manusia bahkan seluruh alam semesta. Islam bukanlah agama untuk pertentangan, peperangan dan kehancuran, jika ada yang demikian tentulah bukan ajaran Islam. Islam adalah rahmatan lil-’âlamîn. Ajarannya bukanlah untuk mementingkan (ego) diri sendiri, golongan sendiri, agama atau manusia, tapi bukan pula untuk tidak memiliki kepentingan. Ajarannya adalah untuk mencurahkan kasih sayang, keselamatan dan kedamaian kepada seisi alam semesta. Untuk merahmati alam semesta. Islam hanya memandang yang Satu; satu keadilan, keimanan, kebijakan dan kebenaran untuk apa dan siapa saja. Itulah yang dikatakan Uskup kepada ‘Umar saat memberikan kunci Kota Suci Jerusalem. Namun dia kemudian bertanya, “Tetapi berapa lamakah kunci itu akan tetap di tanganmu? Kapankah tempat suci ini akan kembali kepada kami?”. Jawab ‘Umar, “Hari ini, tempat ini memang telah beralih kepada kami. Dengan empat sifat; keimanan, kebijakan, keadilan dan kebenaran, kota ini beralih pada kami. Selama empat sifat itu dimiliki dan diamalkan kaum muslimin, maka mereka akan mempertahankan kota ini. Tetapi jika sifat-sifat itu terpisah dari Islam, maka tempat ini akan berpindah tangan sekali lagi.” ‘Umar kemudian melanjutkan, “Ketika hal itu terjadi (perpindahan tangan Jerusalem), kaum muslimin seakan tepung dalam adonan dan yang merebutnya hanyalah sedikit garam”. Perkataan ‘Umar terbukti benar adanya. Selama umat Islam memiliki keempat sifat ini dan hidup dalam kasih sayang dan memberikan ketentraman kepada orang lain, kedamaian akan ditemukan dalam Islam. Namun apabila keadilan ini berubah, keadilan akan hilang, maka tibalah saatnya kita tidak menemukan kedamaian dalam Islam dan di dunia. Rasa kasih sayang dan perdamaian adalah kekuatan Islam, yang akan memberikan kekuatan dan kedamaian pada seluruh dunia. Inilah yang menaklukan dunia: dengan menaklukan hati dengan cinta. Pedang tidak akan menaklukan dunia; cinta lebih tajam dari pedang. Cinta itulah pedang agung nan lembut; pedang hanyalah ilusi ego dan kekuasaan. Dan rahmat-Nya pun mendahului murka-Nya. Hamba mohon ampunan-Mu. Hamba mohon pertolongan dan rahmat-Mu.

(Kumpulan-kumpulan cerita Islami)

11 thoughts on “Hikmah Khalifah Umar bin Khattab r.a memilih shalat di samping gereja

  1. Setuju sekali…ini juga diterapkan oleh Wali Songo dengan metode dakwahnya…tanpa memakai kekerasan sama sekali. Untuk mencapai tujuan yang mulia harus dikerjakan dengan cara yang mulia pula. Belajarlah Islam yang dalam seperti yang sudah dicontohkan oleh ulama’ – ulama’ terdahulu. Bukan memaksakan kehendak kepada orang lain. Alllahu Akbar…

  2. subhanallah, kapan saya punya pemimpian seperti Sayidina Umar bin Khattab, padahal dahulunya beliau adalah orang yang menentang Islam, bahkan dalam hidupnya pernah membunuh anak perempuannya, hanya karena mengikuti tradisi, bahwa memiliki anak perempuan adalah memalukan dalam trandisi sukunya

    • ‘kisah umar membunuh putrinya hanyalah bohong belaka, klo memang benar dia pernah membunuh putrinya, yg mana itu ???? istri Rasulullah juga putri Umar klo mmg umar membunuh putrinya pastilah Rasulullah btidak akan menjadi menantunya””

  3. allahhu akbar,,, allah maha bsar,,,, memang umar adalah sosok pemimpin yang pantas untuk diteladani,
    beliau adalah khulafaurosyidin yang paling ditakuti oleh musuh allah karna gelarnya{umarul faruq}, syetan pun takut kepada beliau, sampai sekarang orang islam percaya jika mereka menulis umarul faruq di pintu maka syetan tidak akan berani untuk masuk kerumahnya,,

  4. kisah umar membunuh putrinya hanyalah bohong belaka, klo memang benar dia pernah membunuh putrinya, yg mana itu ???? istri Rasulullah juga putri Umar klo mmg umar membunuh putrinya pastilah Rasulullah btidak akan menjadi menantunya..

  5. Suatu ketika Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam berkumpul dengan para Sahabatnya, Beliau berkata pada Umar,
    ”Ceritakan kepadaku hal yang membuat aku menangis”?
    Umarpun memulai ceritanya ”Dahulu aku punya seorang anak perempuan, aku ajak anak tersebut kesuatu tempat, Tiba ditempat yang aku tuju, aku mulai menggali sebuah lubang. Setiap kali tanah yang aku gali mengenai bajuku, maka anak perempuanku membersihkannya.

    Dia tidak mengetahui sesungguhnya lubang yang aku gali adalah untuk menguburnya hidup-hidup, untuk persembahan berhala. Selesai menggali lubang, aku melempar anak perempuanku kedalam lubang. burrr….dia menangis kencang sambil menatap wajahku. Masih terngiang wajah anakku yang masih tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya sendiri dari bawah lubang.”
    Mendengar cerita itu Meneteslah air mata Rasul. Begitupun dengan Umar menyesali perbuatan Jahiliyyahnya sebelum dia mengenal Islam. (Pz/Kisah Islami)

    http://abudzakir.blogspot.com/2012/01/kisah-umar-yang-membuat-rasul-menangis.html

    itu ceritanya kalo tidak percaya….
    boleh tanyakan kepada ahli kitab,kiyai,ulama yg pintar masalah sejarah SAYIDINA UMAR BIN KHATAB

  6. Suatu ketika Rosululloh Saw berkumpul dengan para Sahabatnya, beliau bertanya kepada Para sahabatnya “Siapa diantara kalian yang bisa membuat aku tertawa “? Saya Ya rosul jawab Umar bin khotob. Kemudian Sahabat Umarpun memulai ceritanya.” Dahulu sebelum aku mengenal Islam ,aku pernah Membuat Patung berhala dari Manisan , sewaktu aku lapar aku memakan berhala tersebut mulai dari kepalanya, terus tangannya hingga habis tak tersisa.” Mendengar cerita Umar Rosululloh Saw Tertawa hingga kelihatan gigi grahamnya, Beliaupun bersabda” Dimana akal kalian waktu Itu ?” Umar Menjawab “Akal kami memang Jenius tapi waktu itu yang menciptakan alam menyesatkan kami”

    Lalu Rosululloh berkata kepada Umar” Ceritakan kepadaku Hal yang membuat aku menangis”? Umarpun memulai ceritanya ” Dahulu aku punya seorang anak perempuan, aku ajak anak tersebut kesuatu tempat, Tiba ditempat yang aku tuju aku mulai menggali sebuah lubang, setiap kali tanah yang aku gali mengenai bajuku ,maka anak perempuanku membersihkannya. Padahal dia tidak mengetahuinya seseungguhnya lubang yang aku gali adalah untuk menguburnya hidup-hidup untuk persembahan berhala. Setelah selesai menggali lubang aku kubur anak perempuanku hidup-hidup . Mendengar cerita itu Meneteslah air mata rosululloh Saw begitupun dengan Umar menyesali perbuatan Jahiliyyahnya sebelum dia mengenal Islam.

    Begitulah sekelumit cerita Umar bin khotob sebelum dia Mengenal Nabi Muhammad SAW , Umar terkenal sangat sadis dan kejam kepada siapa saja, begitu mengenal Rosululloh SAW hatinya luluh dan menjadi orang yang sangat sabar dan tawadhu

    sachrony.wordpress.com/2008/04/22/cerita-umar-bin-khotob-yang-membuat-rosululloh-tertawa-dan-menangis/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s