Mengasah Jiwa Kepemimpinan Anak

lombaAnakKelak, dalam kehidupan anak, jiwa kepemimpinan menjadi salah satu penentu keberhasilannya. Mengasahnya sejak dini sama artinya menyiapkan bekal bagi anak meraih kesuksesan.

Kemampuan untuk memimpin dengan baik tak hanya dibutuhkan politisi, pejabat negara, atau pemimpin perusahaan. Setiap orang perlu memiliki kemampuan ini untuk menjalani kehidupannya, bahkan dalam membina rumah tangga. Paling tidak, saat buah hati kita tumbuh dewasa, mereka akan menjadi orangtua yang harus memimpin anak-anaknya. Mental kepemimpinan yang terasah dengan baik sejak dini, menjadi modal untuk mereka. Menjadi apa pun nantinya, mereka akan jadi pemimpin yang baik.

 

Potensi Menjadi Pemimpin

Ada yang bilang pemimpin itu dilahirkan. Sementara sebagian yang lain bilang bahwa pemimpin itu diciptakan. Menurut Zainun Mu’tadin, M.Psi, dosen di program Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta, kedua pendapat ini ada benarnya. Sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan punya potensi yang sama untuk jadi pemimpin. Kemudian, lingkungan, khususnya orangtua, yang ditantang untuk mengasah potensi anak itu. Membuatnya berkembang atau sebaliknya, hilang begitu saja.

“Yang diperlukan kemudian adalah stimulasi dan masukan-masukan informasi lebih lanjut untuk melatih anak,” jelas Zainun. Namun, di sinilah masalah muncul. Orangtua tidak selalu memberi stimulasi dan masukan yang tepat dan maksimal karena berbagai kesibukannya. “Bayangkan, orangtua pintar, tapi mereka pergi terus. Sementara yang menjaga anak itu pembantu yang dalam tanda kutip terbatas wawasan dan pengetahuannya. Akhirnya anak yang seharusnya bisa berkembang, jadi terbatas perkembangannya,” papar ayah dua anak ini.

Stimulasi untuk mengasah jiwa kepemimpinan anak ini bisa dilakukan saat anak mulai bisa melakukan komunikasi dua arah, yaitu sekitar usia 3 tahun ke atas. Usia 3 – 5 tahun dinilai Zainun sebagai masa yang efektif bagi anak untuk menyerap segala stimulasi dan informasi yang diberikan kepadanya.

Setiap anak memang unik. Stimulasi kepemimpinan yang diberikan kepada anak-anak dalam satu keluarga—misalnya kepada adik dan kakak—bisa saja memperlihatkan hasil yang berbeda. Anak yang sehat dan atletis, dengan stimulasi yang diberikan, bisa tumbuh berkembang jadi pemimpin yang cekatan dan ideal. Sementara anak yang sakit-sakitan tentu saja tetap bisa jadi pemimpin yang mungkin lebih bisa berempati pada penderitaan orang lain.

Selain itu, dalam hal kepemimpinan ini, anak juga melihat atau mencontoh orangtuanya. “Bisa dibilang anak itu mengopi perilaku orangtua atau figur di dekatnya yang ia senangi. Kalau orangtua dekat, komunikasi bagus, dan orangtua ini adalah figur pimpinan, maka si anak akan mencontohnya lebih cepat,” terang Zainun. Karena sebab inilah banyak pemimpin yang lahir dalam keluarga pemimpin pula, seperti Gus Dur atau keluarga Kennedy di Amerika Serikat.

Bila potensi kepemimpinan ini diasah dengan baik sejak dini, paling tidak saat usia SD, anak akan terlihat dominan dalam pergaulan di antara teman-temannya. Bahkan, dia acap dipilih sebagai ketua kelas. Kalau terus dibina, bukan tak mungkin anak akan menjadi sosok pemimpin yang baik di masa depan.

Stimulasi Mengasah Kemampuan Memimpin

Banyak stimulasi yang mesti diberikan kepada anak-anak sebagai calon pemimpin, di antaranya:

1. Tumbuhkan kemampuan berkomunikasi yang sifatnya dua arah, yaitu sebagai pembicara dan pendengar. Pemimpin yang baik bukan hanya mampu memberi arahan dan perintah, namun juga mampu mendengarkan orang yang dipimpinnya. Zainun menyayangkan sikap orangtua yang malah membatasi anaknya untuk berbicara dan berpendapat. Kamu masih kecil, nggak usah banyak omong! begitu biasanya orangtua membentak anak saat mereka mulai kritis. Anak pun jadi takut bicara.

Di sekolah pun tak jauh berbeda. Guru sering menyuruh anak-anak untuk diam dan meminta anak-anak mendengar apa saja yang guru jelaskan tanpa memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengeluarkan pendapatnya. “Semestinya ada waktu untuk diam dan di saat yang lain ada kesempatan untuk bicara,” imbuh Zainun. Bila terus menerus disuruh diam, dalam jangka panjang keberanian anak untuk bicara bisa hilang.

2. Beri kesempatan pada anak untuk bicara akan menambah kosakatanya sehingga mereka lebih mudah mengekspresikan diri dengan kata-kata. Sesekali latih juga anak untuk bercerita atau berpidato dengan suara keras di tengah keluarga agar mereka terbiasa berbicara di depan banyak orang. Kemampuan ini juga dapat meningkatkan kepercayaan mereka.

 

3. Biasakan anak bergaul sekaligus mengikuti aturan. Berbagai permainan yang dilakukan anak-anak, dalam bentuk sederhana sekalipun, pasti memiliki aturan yang harus diikuti. Biarkan anak bermain bersama teman-temannya sehingga ia terbiasa untuk berpartisipasi dalam lingkungannya dan sesekali ikut memberi aturan pada permainan yang mereka lakukan.

 

4. Latih rasa tanggung jawab anak, misalnya dengan bermain peran. Anak-anak perempuan yang bermain boneka menganggap boneka itu adalah anaknya. Dengan begitu, mereka jadi berpikir apa yang harus mereka lakukan bila “si anak” sakit, tidak mau mandi, dan sebagainya. Alangkah baiknya bila orangtua juga ikut serta, mengawasi atau mengarahkan permainan agar anak bisa belajar mengambil keputusan yang baik serta dengan penuh tanggung jawab. Sedangkan untuk anak laki-laki, permainan peran ini tentu bisa disesuaikan, seperti bermain dokter-dokteran atau bengkel-bengkelan.

 

5. Tak kalah penting, orangtua juga harus menanamkan norma-norma agama, juga nilai-nilai tentang mana yang benar dan mana yang salah. “Sehingga saat anak memutuskan sesuatu, ia akan memberi keputusan berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. Itu hal mendasar. Ketika pemimpin tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, tentu akan jadi masalah besar,” kata pria yang hobi membaca dan fotografi ini.

Untuk menambah wawasan anak tentang kepemimpinan, berikan juga bahan bacaan yang mengulas soal kepemimpinan. Cari bacaan yang dikemas dengan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti anak. Tokoh-tokoh luar biasa dan kisah-kisah heroik dapat menjadi inspirasi bagi anak untuk meneladani kepemimpinan mereka.

Dengan segala upaya orangtua mengasah potensi kepemimpinan anak, kita berharap, kelak negeri ini tak lagi mengalami krisis kepemimpinan.

One thought on “Mengasah Jiwa Kepemimpinan Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s