Imbalan untuk Anak, Perlu Strategi!

anakMuslimahImbalan atas kebaikan atau kemajuan yang dilakukan anak adalah bentuk penghargaan untuk memotivasinya. Namun, agar imbalan berfungsi dengan baik, perhatikan strategi pemberiannya.

Kebanyakan orangtua pernah memberikan hadiah kepada anak karena perilakunya yang terpuji atau kemampuannya mencapai sesuatu. Hadiah itu bisa berupa barang yang sederhana sampai mahal sekalipun. Misalnya, sepeda untuk si kecil yang jadi juara kelas, liburan ke luar kota/negeri karena naik kelas, mainan atau buku-buku karena tidak menonton televisi, dan sebagainya.

Di sekolah, guru juga memberi penghargaan untuk murid yang dinilai beprestasi. Ada piala, piagam atau hanya sebentuk bintang yang ditempel di buku. Hadiah-hadiah ini dalam pengasuhan anak disebut sebagai reward (imbalan).

 

Ada Usaha

Reward atau hadiah itu berfungsi sebagai penguatan atau reinforcement perilaku yang kita ingin anak melakukannya,” kata Fitriani F. Syahrul, M.Si, Psi, Direktur Lentera Insan CDEC, Depok. Dengan pemberian imbalan diharapkan anak melakukan perilaku yang baik dan bermanfaat secara berulang-ulang. Akhirnya, ia pun terbiasa melakukan kebaikan tersebut atau semakin meningkatkan prestasi.

Segala usaha anak untuk berperilaku baik, sesungguhnya layak dihargai. Namun begitu, imbalan tidak harus diberikan atas setiap kebaikan. “Jangan sampai setiap kebaikan diberireward materi. Anak-anak bisa jadi materialistis,” tegas Fitriani. Apalagi bila kebaikan itu adalah kewajiban yang memang mesti ia lakukan, seperti makan, mandi, belajar atau shalat.

Sebagai pendorong semangat, boleh saja orangtua memberi anak hadiah karena sudah melakukan kewajibannya, tetapi hanya untuk waktu tertentu. Puasa, misalnya. Bagi anak usia TK atau SD wajar jika mereka mendapat imbalan atas usaha mereka menjalankan ibadah yang memang berat itu. Tapi, pemberian itu tidak untuk seterusnya.

“Ada masanya harus distop. Kalau sudah baligh, berarti puasa sudah masuk kewajiban mereka. Maka mau tidak mau mereka harus dikondisikan untuk itu. ‘Kamu sudah wajib, lho, Nak. Tak perlu hadiah lagi’ begitu,” terang dosen Universitas Al Azhar Indonesia ini.

Nah, agar pemberian reward berfungsi dengan baik, yaitu membuat anak lebih bersemangat, sejak awal harus sudah ada kesepakatan antara orangtua dan anak. Bila tidak mengompol, contohnya, orangtua akan memberikan sesuatu. Maka si kecil pasti akan berusaha tidak mengompol, misal dengan buang air kecil dulu sebelum tidur. “Jadi mereka prepare (bersiap), ada usaha,” imbuhnya.

Sebelum masuk pada kesepakatan pemberian reward, orangtua terlebih dahulu menjelaskan nilai-nilai yang akan diajarkan kepada anak-anak sekaligus mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai kejujuran, misalnya. Beri penjelasan tentang keutamaan bersifat jujur kepada anak, lalu contohkan bahwa ayah dan ibunya pun selalu bersikap jujur. Saat anak sudah mengerti benar dan paham bahwa mereka harus selalu jujur, tidak berbohong kepada orangtua, barulah beri mereka reward atas usahanya itu.

Apa pun yang Menyenangkan Anak

Reward tentunya adalah segala hal yang menyenangkan bagi anak. Sayangnya, kebanyakan orangtua kini memaknai reward sebagai materi atau segala benda yang dapat dilihat dan dipegang anak, walau itu hanya sebentuk guntingan gambar bintang.

Padahal, reward pun bisa berupa nonmateri. Pelukan hangat, acungan jempol, atau pujian, itu juga bentuk imbalan, bahkan lebih bernilai. Bukankah anak-anak, bahkan orang dewasa, selalu suka dipuji? Jadi “sekadar” pujian pun adalah reward yang menyenangkan dan berarti bagi anak.

Pada praktiknya, kedua jenis imbalan ini dapat dikombinasikan pemberiannya. Bila dalam keseharian anak memang sering dipuji, maka reward pujian tak lagi terlalu berarti bagi anak untuk capaian yang lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, tak ada salahnya memberi anakreward materi.

Satu hal yang perlu orangtua ingat dalam memberi materi, jangan berlebihan. Baru sekali berprestasi langsung dibelikan laptop. Maka untuk selanjutnya dia akan minta yang lebih besar dari itu.

Semestinya orangtua memberikan reward materi ini secara bertahap. Mulailah dari hadiah yang murah saja, seperti pulpen, buku cerita, jam tangan atau mobil-mobilan yang harganya puluhan ribu (bukan ratusan ribu) dan sebagainya. Bahkan, kata Fitriani, kertas-kertas filebergambar lucu dan menarik yang selembarnya cuma Rp500,- bisa menjadi hadiah menyenangkan buat anak yang mengoleksinya.

Supaya fair, lihat juga besarnya usaha anak. Buat sebagian anak, boleh jadi naik kelas bukanlah hal yang sulit mereka capai. Namun, bagi sebagian anak lainnya perlu usaha sangat keras untuk naik kelas. Nah, semakin tinggi tingkat kesulitan dan usaha yang dilakukan anak, hadiahnya pun bisa lebih besar.

Namun, yang perlu diingat, tetaplah upayakan untuk memberi reward nonmateri dulu. “Kalau berupa ungkapan rasa kasih sayang atau kehadiran orangtua sudah sangat efektif, kenapa kasih reward berupa materi?” ujar Ketua Ikatan Psikolog Sekolah ini.

 

Hati-hati Memberi Reward

Karena merasa mampu secara materi, ada sebagian orangtua yang selalu memberi rewardmateri kepada anak-anaknya. Sedikit-sedikit kasih hadiah. Tak hanya itu, hadiah-hadiah yang diberikan pun berupa barang-barang canggih yang sudah tentu mahal harganya. Anak dapat nilai 10, diberi handphone. Naik kelas, diberi BlackBerry. Bisa berenang dengan baik, diajak berlibur ke Bali, dan sebagainya.

Pemberian hadiah yang jor-joran seperti ini kelak malah menumpulkan makna reward itu sendiri. Fitriani berpesan, tolong jangan dilihat dari kemampuan orangtua. Karena merasa mampu dan merasa HP itu murah, lalu anak mudah saja diberikan HP. Bahkan, gonta-ganti HP setiap bulan. “Hati-hati memberikan hadiah kepada anak dengan lompatan yang mahal, karena reward di bawahnya jadi tidak bermakna,” tegas ibu dua putra ini.

Tumpulnya makna reward terjadi karena anak tak lagi bisa menghargai pemberian yang didapatnya itu sebagai satu penghargaan atas prestasinya. Apalagi semua sudah ia miliki sehingga tak ada lagi yang menjadi pendorongnya untuk mencapai sesuatu.

Fitriani pernah menemukan kasus anak kelas satu SMP yang sudah tak mempan lagi diberireward. Pasalnya, selama ini orangtuanya amat mudah memberi reward yang mahal-mahal. Uang sakunya pun banyak. Anak itu banjir materi tetapi jarang mendapat kasih sayang dari orangtuanya yang sibuk. Pada akhirnya, membuat si anak merasa materi adalah segala-galanya.

Bukan tidak mungkin yang dibutuhkan anak itu justru reward nonmateri atas pencapaiannya. Sesungguhnya, sebentuk perhatian dan kasih sayang ayah dan ibu yang selalu siap menjadi tempat berbagi adalah hadiah yang paling dibutuhkan seorang anak, apalagi bagi remaja dengan segala permasalahannya.

Intinya, yang terpenting dalam pemberian reward adalah penanaman kesadaran bahwa apa yang dilakukan anak adalah sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri, bukan semata-mata keinginan atau ambisi orangtua.

Ketika anak sudah menyadari sendiri dan kebaikan sudah menjadi perilakunya sehari-hari, maka boleh dikatakan reward telah berfungsi sebagaimana mestinya.

 

Reward atau Suap?

Alih-alih memotivasi anak untuk berprestasi atau melakukan suatu kebiasaan yang baik, orangtua malah “menyuap” anak. Anak diberi atau diiming-imingi sesuatu bila ia memenuhi keinginan ayah dan ibunya, padahal itu sudah menjadi kewajiban anak. Misal, hadiah agar anaknya mau belajar lebih keras menjelang ujian.

Menurut Fitriani F. Syahrul, M.Si, Psi, sebenarnya itu karena orangtua tak mau menunggu sebuah proses yang sedang berjalan. “Orangtua maunya make sure (dipastikan, red), padahal ini butuh kesabaran. Akhirnya si anak dikasih duluan, semacam DP (down payment, red). Saya pikir itu lebih ke arah suap dibandingkan reward,” papar psikolog anak dan remaja ini.

Pemberian di awal akan membuat anak berpikir bahwa orangtuanya sangat menginginkan dia melakukan sesuatu. Akibatnya, si anak bisa saja mengajukan tawaran lain yang lebih menguntungkannya. Mereka ingin hadiah yang lebih besar lagi. “Ayolah, yang perlu, kan, Mama. Jadi boleh dong, aku minta lebih…” Begitu pikir mereka.  Hati-hati, anak-anak adalah negosiator ulung.

Di lain sisi, pemberian di awal ini juga membuat anak tertekan. Karena sudah mendapat hadiah, berarti dengan cara apa pun mereka harus memenuhi keinginan orangtuanya. Kalau tidak tercapai, orangtua tentu marah.

Bila “suap” ini dibiasakan, anak-anak tentu tak akan mau melakukan sesuatu yang baik sampai orangtuanya memberi mereka sesuatu. Jelas ini akan merusak kepribadian anak. Jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri pun ia tak akan mau bergerak sebelum diberi imbalan. (ummi-online)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s