Penyanyi Haddad Alwi Tokoh Syiah di Indonesia ?

hadad-alwiIa adalah penyanyi yang cukup terkenal yang biasa berduet dengan biduanita Sulis. Salah satu lagunya yang berjudul Ya Thoyibah, diubah liriknya dalam bahasa Arab dan berisi pujian pada Ali bin Abi Thalib secara berlebihan.

Dalam kunjungannya ke pengungsian Syiah di Sampang, 29/9/2012, ia mengatakan, “Nggak ada orang mau masuk surga tidak diuji, Rasulullah tidak jauh dari kita, dan jangan ragu Rasullulah tidak sayang sama kita. Penderitaan Rasullulah lebih berat ujiannya daripada ujian kita.”

Mengenai nyanyian Ya Thoybah (wahai Sang Penawar) itu juga nyanyian, hanya berbahasa Arab. Kalau nyanyian berbahasa Indonesia, Inggeris atau lainnya yang biasanya berkisar tentang cinta, pacaran dan sebagainya, misalnya dinyanyikan di masjid, orang sudah langsung faham bahwa itu tidak boleh.

Nyanyian cinta-pacaran seperti itu justru kesalahannya jelas. Orang langsung tahu. Sebaliknya, kalau nyanyiannya itu seperti Ya Thoybah, kalau itu mengandung kesalahan (dan memang demikian), justru orang tidak mudah untuk menyalahkannya. Karena dia berbahasa Arab, dan menyebut nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyebut Al-Quran dan sebagainya.

Padahal, nyanyian Ya Thoybah itu justru isinya berbahaya bagi Islam, karena ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Berikut ini kutipan bait yang ghuluw dari nyanyian Ya Thoybah (wahai Sang Penawar):

Ya ‘Aliyya bna Abii Thoolib Minkum mashdarul mawaahib.

Artinya: “Wahai Ali bin Abi Thalib, darimulah sumber keutamaan-keutamaan (anugerah-anugerah atau bakat-bakat).”

50 thoughts on “Penyanyi Haddad Alwi Tokoh Syiah di Indonesia ?

  1. assalamu’alaikum,wahai saudara admin,mohon di jelaskan secara detail arti atau makna lirik lagu y thoyba itu,jangan sepenggal seoerti ini,soal nya putri kecil sya senang sekali menyanyi kan lagu itu….

    • saudaraku, janganlah marah ketika nasehat itu datang padamu agar anda selamat.
      saya pernah mendengar hadis yang dimana rasulullah melarang dalam bernyanyi dan musik.
      “akan ada di akhir zaman nanti orang2 yg menghalalkan nyanyian2″. ada hadis yg lain, “gendang adalah seruling2 setan”. kurang lebih seperti itu maknanya, tapi demi allah ada larangan semisal itu dari rasulullah. dan untuk lebih jelasnya lebih baik anda cari hadisnya sendiri. hanya dengan tolabul ilmi kita akan faham dan selamat dalam menjalankan agama ini.
      menuntut ilmu (ilmu agama) itu wajib bagi kaum muslimin.

      • Gak gitu juga kalee… Orang minta penjelasan, kok disuruh nyari sendiri. Gimana sih ente! Buat admin, Bukankah Rasul sendiri yang mengatakan “Aku gudang Ilmu dan Ali adalah pintunya” Para sufi pun merujuk kepada Ali tentang kealiman dan kesalehannya … Jadi apa masalahnya? Jangan paranoid lah. Memuliakan Sayidina Ali tidak harus menjadi syi’ah …

      • Umat terdahulu sampai sekarang adalah 10% dri kepintaran rosulullah,,,90% lagi adalh milik rosulullah,,,sohabat ali ja mengakui smua’a,,,ente ga tau apa” jg sesumbar,,,jg bikin org musyrik,,,

      • Hadits Palsu Kok dijadikan hujjah? yg percaya hadits ini hanya sekte Syiah #syiahbukanislam #catet

      • emang apa hadist nya sih ana mau dengar klo ada hadist yang mengatakan membaca syair itu bid’ah/dilarang.
        ini syair artinya puji pujian kepada baginda rasulullah coy bukan lagu dugem/dangdut.

  2. Kepada kisahislami ,janganlah anda membuat artikel yg membuat polemik dan berburuk sangka
    pd sdr kita Haddad Alwi ataupun Sulis ,Sayidina Ali jg sangat dimuliakan oleh kaum Suni.

  3. untuk saudaraku muslim semua,,
    jangan marah ketika nasehat datang kepada anda. karna sang penulis juga pasti tidaklah asal ambil topik tanpa bsa di pertanggungjawabkan.
    hal diatas sahidnya, adalah agar kita jangan berbuat berlebih2an kepada semua orang termasuk nabi, apalagi sohabah dan ulama.
    nabi sendiri melarang lagu2 dan nyanyian.

  4. kalau betul macam Haddaw Alwi termasuk golongan syi’ah maka harus diusir dari bumi Indonesia karena syi’ah adalah laknatulloh bukan Islam

  5. tak nyangka trnyata haddad alwi ini tokoh syiah..hebatnya dia nyebarin ajarannya memuji ali berlebihan dngan dijadikan lirik kmudian dilagukan dngan bahasa arab shingga yg mendengar khususnya di Indonesia bnyak yg terkecoh dngan lagu ciptaannya..udah tahu gini kita harus berhati2 lagi dngan lagunya atau dngan lagu2 yg isinya tak tahu artinya sprti lagu2 barat dan sbagainya..mudah2an kita selalu diberikan petunjuk oleh Allah supaya kita tahu mana yg baik dan yg tidak

  6. zaman ini sangat pelik, penuh misteri, dan zaman ini sudah diramalkan oleh Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah 14abad yang lalu, saran ane nic..
    yang pertama : kita minta perlindungan kepada Allah atas kesesatan
    yang ke2 : harus teliti dan gak bleh tuh cuma menduga-duga
    ????? ?????? ??? ?????? ???? ???? ?????? ? ????? ????????? ??????????? ???????????? ????? ?????????? ????? ?????? ??????????

    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

    ukhuwah Islamiah.. ayoo dong kita bersatu bukan menjatuhkan satu sama lain.

  7. Sebaiknya di teliti habis dulu baru di buat postingan ini. Cari biografi tentang Haddad Alwi, silsilahnya, pokoknya tentang kehidupannya.
    Jangan langsung menduga-duga seperti ini.
    Kalo sudah pasti baru disebarkan.
    Dan buktinya kan hanya satu ini.
    Ada bukti yang lain ga? biar lebih meyakinkan.
    Saya sendiri masih ga berani menganggap Haddad Alwi seorang syi’ah, karena bukti masih belum kuat.
    Tolong diperdalam dulu kepastiannya tentang postingan ini, yang ini masih belum lengkap.

  8. (Arrahmah.com) – Beberapa saudara muslim sudah ada yang mengenali dan mewaspadai beberapa tokoh syi’ah berikut ini. Namun mayoritas muslim belum, lantaran ada pengaburan dan tipu-tipu yang dilakukan oleh tokoh-tokoh ini. Mereka para tokoh syi’ah adalah orang-orang yang tampil di permukaan.

    Menurut ustadz Farid Ahmad Okbah MA, Direktur Pesantren Al-Islam: “Mereka yang ada di organisasi-organisasi syi’ah seperti ABI, IJABI dan lain-lain tidak melakukan taqiyah (berdusta untuk menyembunyikan keyakinan syi’ahnya).” Demikian ungkap ustadz kepada arrahmah.com beberapa waktu lalu. Mereka syiah tulen.

    Saat ini mereka semakin berani dengan mulutnya mengatakan dirinya syi’ah, demikian pula dalam bentuk dukungan fisik material dan mental spiritual terhadap pengikutnya. Seperti terekam dalam kehadiran tokoh-tokoh ini di tempat pengungsi syi’ah Sampang, Madura, sebagai bentuk dukungan terhadap mereka. Berikut ini adalah tokoh-tokoh tersebut:
    – See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/kenali-dan-waspadai-tokoh-tokoh-syiah-indonesia-ini-dari-penyanyi-hingga-anggota-mui-pusat.html#sthash.fuPMUfRU.dpuf

  9. Tulisan ini memang ada di situs ” arrahmah.com ” oleh Ustadz Farid Ahmad Okbah MA, Direktur Pesantren Al-Islam ( setahu saya beliau banyak mengetahui tentang seluk beluk perkembangan Syiah di Indonesia termasuk tokohtokohnya ) , saya sendiri juga agak kaget membaca tulisan HA ini , terlebih lagi HA sebagai pencipta lagu khususnya Religi yang banyak disukai dari anak-anak hingga orangtua , yang menjelang Ramadhan biasanya mengeluarkan Album yang “ikon-ikon” sering menampilkan anak-anak.
    Dan saya sependapat agar Admin mencari keterangan yang lengkap mengenai HA , agar lebih jelas apakah HA termasuk tokoh Syiah atau bukan.
    Wallahua’lam

  10. Yg memuliakan sayidina Ali, tdk hrs di cap syi’ah pak, hati2lah dgn ucapanmu, kalo smpe orng smpe pd ga mau, memuliakan sayidina Ali, gara2 postinganmu, krn takut di cap syi’ah, maka kaulah di akhirat nanti yg brtanggung jwb. Slm NU..

  11. yang memuliakan Shahabat sekaligus menantu sekaligus sepupu dari Nabi ??? ???? ???? ???? memang belum tentu Syi’ah, tetapi yg berlebih-lebihan memuji & memuliakannya maka kemungkinan besar adalah Syi’ah. bukankah ‘Utsman ibn Affan ??? ???? ??? lebih utama dari ‘Ali ibn Abi Thalib ??? ???? ???, lalu ‘Umar ibn al-Khaththab ??? ???? ??? lebih utama dari ‘Utsman? dan Abu Bakar ash-Shiddiq ??? ???? ??? lebih utama dari ‘Umar?

  12. assalamualaikum,
    bismilla….,sebenarnya tanda2nya sdh cukup jelas,yaitu pertama dgn hadirnya HA di camp pemgungsian kasus syi’ah di sampang karena apa tendensinya dan apa motivasi dia sampai hadir disana??sedangkan di Indonesia seringkali ada konflik agama,cthnya kasus ahmadiyah.kedua dari lirik lagunya(karena sdh jelas kita tdk boleh ghulu atau berlebih2an dlm menyanjung seorang tokoh agama,bahkan para sahabat nabi sekalipun)
    yang bijak menurut saya adalah kita lebih peka pd perkembangan kehidupan beragama di negara kita ini dan mempelajari islam yg sesuai dgn alquran(ucapan allah) dan hadits(ucapan rasul) lebih dalam karena utk itulah allah membekali kita kemampuan berpikir,utk membedakan mana yg haq dan mana yg bathil..insya allah,wallahu a’lam bish shawwab

  13. Klo pas melantunkan lagu ini haddad alwi di CAP sbg syiah, berarti pas melantunkan Rindu Muhammad ku haddad alwi sunni dong…:D

  14. Bismillah..
    Mengenal sesuatu itu melalui ciri-cirinya, yg membuatnya berbeda dengan hal pada umumnya..
    Bukan melalui persamaannya..

  15. Lirik Ya Thoyba versi HA dan Sulis, berbeza dengan Ya Thoyba versi Arab asal, yang mana baris pujian berlebihan terhadap Syaidina Ali r.a itu tidak ada. Boleh dengar di Youtube, bandingkan.

  16. tetap saja HADDAD ALWI SYIAH!!, orang-orang syiah tuh seperti mempertuhankan Ali Bin Abi Thalib, mangkanya berdoa jangan sampe orang2 syiah jadi penguasa pemerintahan, kalo misalnya mereka mempunyai kedudukan tinggi di pemerintahan, contohnya seperti seperti suriah yang sedang di serang pasukan syiah, iran yang negaranya udah di kuasain syiah. Saya juga pernah dengar Hadist Nabi Muhammad yang di bacakan di radio sunnah, bahwa Dajjal akan turun bersama 70.000 pasukan syiah di kota isfahan (Iran).

  17. Pelantun Ya THoybah
    1. Habib Hasan Assegaf -Nurul Musthofa
    2. Habib Syech Bin Abdul Qodir – Ahbabul Musthofa
    3. Duta Sholawat – PP. Tambak Beras.
    dll….
    Soo…
    MEREKA BUKAN SYIAH.

  18. Aq jga sayidina ali ,, tp gg bsa donk d katain syiah ,, rang mash brpegang teguh assunah n alqur’an ,,.

    Bkin emosi postinganny

  19. Ulama ahlussunnah telah sepakat tentang bahayanya mengkafirkan seorang muslim, karena hal ini didasari  kaidah, “Siapa yang telah tetap keislamannya dengan keyakinan, maka tidak akan hilang dengan sekedar keraguan. Yakni barangsiapa telah diketahui dengan yakin bahwa dia seorang muslim maka tidak hilang sifat islam itu hanya sekedar keraguan.”

    Oleh karena itu Ahlussunnah sangat hati-hati dalam mengkafirkan seorang muslim, karena mengkafirkan seorang muslim sangat berbahaya akibatnya, baik bagi yang di tuduh atau si penuduh. Seseorang hendaknya tidak masuk dalam perkara ini kecuali dengan dalil dan bukti yang jelas, dan selama masih ada jalan untuk menghindari perkara ini maka harus di tempuh, karena pengkafiran seorang muslim ini merupakan pintu yang sangat berbahaya dan tidak semua orang boleh memasukinya.

    Tentang pengkafiran (takfir) terhadap seorang muslim Nabi  telah memperingatkan hal ini, beliau bersabda, “Siapa saja seseorang yang mengatakan kepada saudaranya, “hei kafir” maka julukan itu akan kembali kepada salah seorang dari keduanya. Jika orang yang dituduh itu benar, maka sesuai dengan apa  yang dituduhkan, tapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada yang melemparkannya.” (HR. Muslim). Di dalam hadits yang lain Rosululloh  juga bersabda, “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekafiran, kecuali akan kembali kepada si penuduh jika orang yang dijuluki itu tidak demikian keadaannya.” (HR. Bukhori)

    Karena pengkafiran ini adalah hukum syar’i atau syari’at Alloh  dimana konsekuensinya adalah halalnya darah seseorang yang tadinya telah nampak keislaman karena dua kalimat syahadat, sebagaimana Rosululloh  juga bersabda, “Barangsiapa telah menukar/merubah agamanya maka bunuhlah ia.“ (HR. Bukhori).

    Jadi seorang muslim yang murtad (meninggalkan Islam) maka hukumnya dibunuh menurut syari’at Islam. Dan bukan hanya ini saja, ada konsekuensi-konsekuensi lain yang harus ditegakkan setelah seseorang itu jelas-jelas dikafirkan yakni:

    Pertama, istrinya tidak lagi halal lagi baginya, sebab seorang muslimah haram dinikahi oleh orang kafir, demikian juga anak-anaknya yang muslim tidak lagi di bawah perwalian ayahnya yang kafir.

    Kedua, orang yang telah kafir wajib dihadapkan kepada mahkamah untuk diterapkan hadduriddah atau hukuman murtad yaitu dibunuh karena dia telah kafir setelah Islamnya dan ini dilakukan setelah diminta taubatnya, ditegakkan hujjah dan seterusnya.

    Ketiga, apabila ia telah dibunuh dan mati di atas kekafirannya itu, maka tidak berlaku baginya hukum-hukum kaum muslimin. Seperti tidak boleh dimandikan jenazahnya, disholati, tidak boleh pula dikuburkan di kuburan kaum muslimin dan hartanya tidak boleh diwarisi oleh ahli warisnya yang muslim.

    Keempat, jika ia telah mati di atas kekafiran, maka laknat Alloh , para malaikat-Nya dan seluruh manusia, akan tertimpa kepadanya dan ia akan kekal di dalam neraka, naudzubillahi min dzalika. Kaum muslimin pun tidak boleh mendoakan ampunan, istighfar dan rohmat bagi orang yang telah dinyatakan kafir setelah Islam.

    Jadi begitu berat konsekuensi takfir tersebut sehingga ahlussunnah dalam hal ini sangat hati-hati, tidak gegabah dan tidak sembarangan mengkafirkan seorang muslim tanpa bukti dan keterangan yang jelas.

    Akan tetapi ahlussunnah juga membedakan takfir menjadi dua yaitu takfir mutlak (pengkafiran secara umum) dan takfir mu’ayan (pengkafiran secara individu, perorangan) dan ini termasuk prinsip yang penting bagi ahlussunnah dalam hal ini, yaitu pengkafiran secara mutlak dan pengkafiran orang tertentu ini berbeda, karena mungkin saja seorang muslim mengucapkan perkataan kufur atau melakukan perbuatan yang mana al Quran dan as-Sunnah serta ijma’ telah sepakat menyatakan perbuatan itu kufur dan riddah (kemurtadan) namun tidak serta merta dengan melakukan demikian orang itu menjadi kafir. Jadi tidak selamanya yang melakukan demikian dihukumi kafir. Boleh jadi perkataan, statement, pendapat, teori dan pemikirannya jelas kufur atau riddah, tapi orang yang mengatakannya tidak dihukumi kufur. Demikian juga orang yang melakukan perbuatan tadi, tidak mesti disifati sebagai orang kafir karena semua itu ada syaratnya. Karena untuk meng-isbatkan atau menetapkan pengkafiran seorang muslim, semua ini ada syarat-syaratnya dan harus hilang semua mawani’ (penghalang-penghalangnya).

    Seorang muslim baru boleh dinyatakan kafir jika dia mengucapkan atau melakukan perbuatan kafir dan semua syarat-syarat takfir ada serta penghalang takfir tidak ada.

    Bisa jadi seorang yang mengucapkan hal tersebut adalah seorang mualaf atau seorang yang bodoh dan kebodohannya itu ma’dzur (di tolelir) yang mungkin ia tidak tahu tentang hal itu, dimana jika hal itu dijelaskan padanya maka ia kembali dari pernyataanya atau seorang yang mengingkari sesuatu karena muta’awilan (menta’wil) dan dia keliru dalam ta’wilnya itu.

    Jadi ahlussunnah wal jama’ah menyatakan kufur atau takfir mutlak misalnya dengan mengatakan, “Barangsiapa menyatakan begini-begini atau melakukan perbuatan demikian maka ia kafir” dan ini di ucapkan dengan mutlak oleh ahlussunnah wal jama’ah. Tetapi jika perkara tersebut terkait orang-perorang tertentu yang mengucapkan kalimat kekufuran atau perbuatan tersebut, maka ahlussunnah tidak serta-merta mengkafirkan orang tersebut sehingga terkumpul pada orang itu syarat-syarat takfir dan tidak ada lagi mawani’ atau penghalang-penghalangnya. Jika semua itu telah terwujud, maka telah tegak hujjah bagi orang tersebut. Adapun tentang mawani’ akan kita bahas lebih lanjut insya Alloh .

    Inilah kaidah yang penting sekali yang membedakan ahlussunnah dengan yang lainnya. Karena takfir bukan hak semua orang, dimana semua orang bisa mengkafirkan orang lain sesuka hatinya. Karena takfir adalah hukum syar’i maka harus dikembalikan kepada kaidah-kaidah hukum syara’.

    Maka siapa yang Alloh  dan Rosul-Nya telah mengkafirkannya dan telah tegak atasnya hujjah maka dialah orang yang kafir. Jadi semua harus dikembalikan kepada syari’at Alloh .

    Imam Ibnu Taimiyah  telah berkata, “Boleh jadi suatu perbuatan atau perkataan itu kufur dan secara umum disebutkan bahwa perkataan ini kafir atau siapa yang menyatakan ini kafir, akan tetapi orang tertentu yang mengucapkan perkataan tadi atau perbuatan tadi tidak dihukumi kufur hingga tegak atasnya hujjah.” Dan perkara ini berlaku umum bagi setiap nash-nash wa’id (ancaman). Sehingga tidak boleh dipersaksikan terhadap orang-orang tertentu dari ahlul qiblat (kaum muslimin) bahwasanya dia ahlunnar (penghuni neraka), jadi tidak boleh memastikan bahwa si fulan ini adalah min ahlinnaar (dari golongan penghuni neraka) karena bisa jadi dia tidak terkena kekufuran tadi disebabkan ada syarat yang luput atau ada penghalang yang terjadi padanya.

    Oleh karena itu ahlussunnah sangat hati-hati dalam takfir, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan pula, “Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengkafirkan seorangpun dari kalangan kaum muslimin, meskipun orang itu keliru dan menyimpang atau berbuat kesalahan, hingga ditegakkan baginya hujjah dan dijelaskan jalan yang lurus. Dan barangsiapa telah nyata keislamannya dengan yakin maka tidak hilang hal itu darinya dengan keraguan.” Inilah kaidah yang di pegang oleh ahlussunnah yakni siapa yang telah nyata dalam keislamannya dengan keyakinan, maka tidak akan hilang dengan sekedar keraguan.

    Saya pernah membaca suatu makalah yang mengatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  adalah orang yang gampang mengkafirkan orang lain bahkan menjuluki beliau dengan julukan Khawarij (orang yang keluar dari golongan kaum muslimin) dan menyebut para mujadidin (ulama pembaharu) dari kalangan ahlussunah dengan sebutan Khawarij, karena mereka dengan mudah mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka dan seterusnya.

    Padahal justru jika kita baca kitab-kitab yang di tulis mereka sendiri, baik itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah , Muhammad bin Abdul Wahab , dan lain-lain, mereka sangat hati-hati, tidak serampangan dan sembrono dalam mentakfir dan ini jelas sekali tertulis dalam kitab-kitab mereka. Dan takfir mereka itu jelas bersifat mutlak dan tidak mu’ayan kecuali bagi orang-orang yang sudah jelas tegak hujjah atasnya.

    Jadi mereka yang mengatakan bahwa ahlussunnah, dan lebih khusus lagi ulama-ulamanya mudah mengkafirkan dan seterusnya, mereka hanya mendengar subhat dan tidak melihat serta membaca sendiri kitab-kitab atau karya yang ditulis oleh ulama-ulama tersebut.

    Seperti dikutip di atas, sekarang kita akan membahas mawani’ at takfir (penghalang-penghalang takfir). Menurut ahlussunnah, takfir bisa terhindari karena adanya penghalang-penghalang untuk dijatuhkan vonis takfir pada seseorang, adapun sebab-sebab tersebut adalah:

    Pertama, al-jahl (kebodohan). Karena syarat seseorang itu beriman dia telah mengetahui dan memiliki ilmu bahwa hal ini termasuk dari iman atau akidah Islam yang wajib di imani. Ketika dia tahu itu, maka wajib mengimani. Oleh karena itu barangsiapa mengingkari perkara-perkara syariat karena kebodohannya dan belum sampai kepadanya ilmu yang benar dan dalil yang jelas, maka dia tidak boleh dikafirkan, meskipun dia telah  terjatuh pada salah satu bentuk kekafiran atau kesyirikan sekalipun. Karena boleh jadi ketika dia baru masuk Islam, ia tidak tahu bahwa ini termasuk perbuatan kesyirikan atau kufur karena dia belum mengenal Islam secara benar. Atau dia tinggal di suatu negeri yang disitu tersebar kebodohan atau jauh dari sumber-sumber ilmu dan ulama. Dimana disitu kesyirikan dikenal orang sebagai tauhid dan bid’ah di anggap sunnah dan banyak sekali penyimpangan, sehingga kebatilan itu ditampakkan haq serta samar bagi kebanyakan orang. Maka dengan alasan ini, haram seseorang itu untuk di takfir. Atau bisa jadi perkara yang menyebabkan dia kafir itu adalah perkara-perkara khofiyah (tersembunyi) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama. Dan orang seperti ini tidak berhak dijatuhi vonis sampai ditegakkan baginya hujjah yaitu sampai dijelaskan bahwa perkara-perkara tersebut adalah hal yang dilarang dalam syariat. Keadaan manusia berbeda-beda, mencakup negeri dimana mereka tinggal dan zamannya ditinjau dari penyebaran ilmu atau tidaknya. Jadi tidak semua kaum muslimin dalam derajat yang sama dalam hal tegaknya hujjah ini. Karena bisa jadi bagi sebagian orang tertentu mereka tahu bahwa perkara tersebut adalah termasuk dari Islam namun sebagian yang lain tidak tahu bahwa itu termasuk dari Islam. Ini bisa menjadi mawani’ seseorang dijatuhi hukum takfir.

    Kedua, al-khoto’ (keliru atau tidak sengaja), Alloh  berfirman:

    }§øs9ur öNà6øn=tæ Óy$uZã_ !$yJÏù Oè?ù’sÜ÷zr& ¾ÏmÎ/ `Å3»s9ur $¨B ôNy£Jyès? öNä3ç/qè=è% 4 tb%2ur ª!$# #Yqàÿxî $¸JÏm§ ÇÎÈ

    “Dan tidak ada dosa atas kalian terhadap apa yang kalian keliru padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hati-hati kalian. dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al Ahzab: 5). Rasululloh  bersabda dalam sunan Ibnu Majah dan di shohihkan pula oleh al-Albani , “Sesungguhnya Alloh  telah memaafkan dari umatku kekeliruan (lupa atau tidak sengaja) dan sesuatu yang terjadi karena di paksa.”

    Ketiga, di ancam atau dipaksa ini pun udzur yang di akui oleh ahlussunnah wal jama’ah. Tentang hal ini ada penjelasan tersendiri. Jadi seorang yang dipaksa untuk mengucapkan kata-kata kufur atau kesyirikan dibawah ancaman maka perbuatannya itu tidak menjadikannya kafir. Dia yakin benar bahwa si pengancam ini mampu melakukan ancamannya berupa penyiksaan yang sangat menyakitkan seperti pemukulan atau bahkan lebih dari itu dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Ancamannya bukan hanya gertakan belaka. Maka dalam keadaan ini semua perkataan kufur yang di perbuatnya tidak di anggap kafir oleh syariat dan dimaafkan.

    Tetapi ahlussunnah juga sepakat bahwa bagi siapapun yang di ancam untuk kufur, namun dia memilih mati dan di siksa daripada mengucapkan perkataan kufur, maka pahalanya lebih besar di sisi Alloh  daripada yang memilih rukshsoh (keringanan). Karena bersabar dan teguhnya dalam memegang perkara yang teguh ini memiliki derajat yang tinggi di sisi Alloh  dan lebih afdhol daripada mengambil rukshoh meskipun itu boleh.

    Akan tetapi seseorang yang mengucapkan perkataan kufur karena main-main, maka ini tidak diterima menurut syariat.

    Keempat, at-ta’wil (ta’wil), yakni menta’wilkan nash dengan ta’wil yang keliru. Ahlussunnah sepakat bahwa ta’wil yang di tolelir yaitu ta’wil yang memiliki sudut pandang lain dan dibenarkan secara ilmu dan bahasa Arab, ini termasuk salah satu penghalang dari takfir. Misalnya, seseorang menta’wilkan sesuatu namun karena kedangkalan pemahamannya terhadap dalil-dalil syar’i atau dia bersandar kepada subhat-subhat yang memalingkan dia dari pendapat yang haq tapi dia tidak sengaja menyelisihi yang haq dan tidak membantah atau mendustakan dan menolak. Dia hanya berpendapat bahwa dalam memaknai ayat ini seperti ini yang dia ketahui menurut ilmunya yang terbatas itu. Maka kekeliruannya ini tidak menjadikannya kufur. Dan ta’wil semacam ini adalah ta’wil yang tercela jika tidak sampai menggugurkan hukum-hukum syari’at namun jika sampai menggugurkan hukum-hukum syariat maka ini lebih tercela lagi dan ini akan menjadi pokok-pokok penyimpangan.

    Dan dalam hal ini ahlussunnah juga sepakat bahwa ada ta’wil yang tidak bisa diterima oleh syariat, seperti ta’wilnya para pengikut kebatinan seperti al Hallaj dan Ibnu Arobiy. Mereka memiliki ta’wil juga dalam menafsirkan ayat-ayat al Quran ta’wil mereka sangat jauh dan menyimpang dari kebenaran. Jadi ahlussunnah menolak ta’wilnya para penganut kebatinan dan juga para filosof dimana ta’wil mereka mendustakan agama baik secara global atau secara rinci.

    Kelima, taqlid (mengikuti perkataan seseorang yang perkataannya bukan hujjah) dan ini terjadi ketika seseorang tidak mengetahui dalil syar’i maka dia mengikuti perkataan seorang alim (ulama). Taqlid menjadi dua macam pula yaitu ada taqlid yang mubah yakni taklidnya seorang yang awam karena tidak tahu tentang bagaimana cara memahami syari’at dari sumber-sumbernya serta ia benar-benar tidak mampu mengetahuinya. Yang kedua adalah taqlid mazmum yakni taqlid yang dilarang karena taqlidnya seseorang kepada seorang dikalangan ulama dalam seluruh perkataan dan perbuatannya dimana dia tidak melihat al-haq (kebenaran) kecuali apa yang dikatakan imamnya.

    Keenam, al-ajz (kelemahan/ketidak-mampuan) melaksanakan sebagian kewajiban-kewajiban syariat, misalnya seorang yang masuk Islam namun tinggal di negeri kafir dan dia tidak mampu hijrah karena dilarang penguasa, hingga tidak bisa melaksanakan sholat jum’at , haji dan sholat berjama’ah atau karena disana tidak ada seorang alim pun  yang mengajarinya tentang Islam tapi ia bersaksi dan menerima Islam dengan penuh, namun karena kelemahannya dia tidak mampu menjalankan syariat, maka hal ini menjadi alasan  baginya untuk tidak dikafirkan.

  20. Lo benar syiah napa gk langsung dtentang z, pdahal lagu tuch dah lama beredar bahkan orang” awam seperti hal saya sendiri terbuai akan alunannya, jgn cuma dbicarakan saja tapi tindakan’a gk da sama sekali, orang yang ngerti ngebiarkan saja apalgi yg awam. Mana yg benar belum da yg tau yg pasti jgnan su’udzon apalagi sampe fitnah.

  21. Asslmkum.. Maaf sebelumnya, saya umat sunni. Di sini saya tdk membela mana yg syi’ah dan mana yg sunni.. Yg jelas, sesama umat kita harus saling menghormati.. Saya tau jelas tentang syi’ah.. Yg di tulis di atas itu hanya salah satu dari puluhan tanda2/ciri2 syi’ah..
    @ABDULLAH: Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaff itu tokoh NU. Tp yg saya ketahui, NU yg sekarang beda dg NU yg dahulu. (MAAF) Semenjak kepemimpinan Gus Dur, dia memperbolehkan kaum Syi’ah masuk ke Indonesia. Dan sampai sekarang NU itu sedikit2 bercampur dengan syi’ah.. Tp tdak semua NU itu syi’ah. Dan sampai sekarang Syi’ah tdk bisa diperangi karena dilindungi oleh pemerintah.. Jadi kesimpulannya, kita saling menghormati saja, walaupun dalam hati kita memerangi.. Jangan sampai umat Islam berperang trhadap sesama Umat Islam.. Tdk pantas sepert itu dilakukan.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua..
    Wassalamu’alaikum Wr. WB

  22. NGAJI DULU SANA ENTE, HAHAHA., nanti main websete ente juga sebut syi’ah? kan yang buat orang nasrani juga., bid’ah gitu? hahaha :D gimana tu? ., kamu posting juga bid’ah syiah? mendingan memuji sahabat rosul daripada fitnah kayak gini., pokoknya NGAJI DULU SANA., hahahahahahah

  23. …Iya geh klu bikin tulisan artikel jgn setengah2..pembahasan nya yg detai dn jelas jdi bisa di pahami sama yg ngebacny,.gtu ja..jgn marah ya..!!!

  24. non muslim diluar sana pasti bahagia melihat sesama muslim berselisih., sadarkah kita klo mereka memanfaatkan situasi ini dgn memperbanyak mempengaruhi muslim dr yg muda sampe yg tua dgn tayangan2 di tv yg jelas2 ajaran yahudi dan nasrani.,

    setiap muslim memang hrs hati2 dg apa aja yg berkaitan dg syiah.,

    prasangka baik dulu yaa sama haddad alwi., cari referensi yg terpecaya.,

    ada yg berani gak buat posting klo salah satu acara di tv di indonesia punya yahudi., ???
    (pasti dituntut karena pencemaran nama baik) hehehe

  25. Assalamualaikum wr wb

    Kalau pun syiahh. G semua syiah sesat. Ada juga syiah yang cinta sama semua sahabat dan tidak menghujat sahabt. Tapi haddad alwi ?????????? ????? bukan syiah. Sunni juga ada memuji sayyidina ali dan sahabat sahabat lain

    Sukron

  26. Janganlah mengadu dombakan lo blom jelas, orang syirik tuch akhir’a picik . . . Lo bner syi’ah ulama” besar g mungkin melantunkannya apalagi biasa nya dpengajian g sedikit orang yg alim para guru” melantunkanya, apalagi lantunan “YAA ROBBIBIL MUSTHOFA” kata situ syi’ah tpi dsetiap mesjid bahkan ulama besar sering melantunkan’a sehabis pengajian sambil bersalaman tangan. Lo mau jihad langsung z kesetiap pengajian dseluruh indonesia kota kekota kampung kekampung larang ma situ mungkin tuch zihad yg amat besar krna sudah mengingatkan umat apalagi ULAMA/GURU PESANTREN yg anda ingatkan, dkampung saya bnyak yg melantunkan’a. Trima kasih

  27. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Saya adalah teman dekat Haddad Alwi sejak kecil. Saya hanya bisa berkata, “fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” Bagi ikhwan semua, silakan bertabayyun sebelum memberikan pernyataan supaya Anda tidak tergolong orang-orang yang dimurkai Allah SWT. Saya mengerti segala sesuatu berkaitan dengan Haddad Alwi, silakan bertanya kepada saya.
    Wassalam

  28. Dtg menghibur kaum yang sedang dirundung duka kok disalahkan. Banyak tokoh nasional lain yang juga hadir, kenapa Haddad Alwi yang disoroti? Lagian, yg dikatakan Haddad Alwi itu kan benar? Apanya yang salah? Soal lagu “Ya Thoibah”, sebenarnya lagu itu diciptakan oleh orang Ahlussunnah tulen dari Timteng. Haddad Alwi sekedar menyanyikan ulang. Tidak ada lirik yg diubah oleh Haddad Alwi, melainkan dipotong beberapa bait depannya dengan alasan spy nggak kepanjangan durasinya sehingga menjemukan. Memang, lirik yg tidak dilantunkan itu berisi pujian untuk Akubakar ra, Umar ra, dan Usman ra. Tapi, untuk menetralisir prasangka, maka dalam waktu dekat Haddad Alwi akan meliris lagu yang liriknya merupakan bait bagian depan lagu “Ya Thoibah” yang dulu dipotong itu. Lagu “Ya Thoibah” sdh berumur puluhan tahun, dan selama ini belum ada ulama yang keberatan dengan liriknya. Kenapa tiba-tiba skrg dipersoalkan? Ada apa ini?

  29. Jangan menyalahkan Admin-nya. Kalau dari teman-teman mengerti dan paham tentang mana yang benar, alangkah baiknya kalau diungkapkan. Dari situ teman-teman yang lain bisa membaca dan Insya Allah akan mengerti. Itulah indahnya Islam, perbedaan bukan untuk dipermasalahkan, namun sebagai bahan renungan agar dapat dicari mana yang benar dan yang terbaik.
    “Memecahkan itu lebih mudah daripada menyatukan”

  30. Hay bray..
    gua kesinggung
    gua muridnya hadad alwi
    Dia bkn syi’ah

    Adminya gillllllaaaaa
    Pokoknya gua gak terima
    Elu gak tau apa” jgn sok pandai

  31. Adminnya wahabi ini yang anti sholawatan dan anti maulid
    adminnya sok tahu bahasa arab, paling baca terjemahan bisanya , gak ngerti ilmu nahu

  32. Adminnya jabluudd (sok tahu)… ente ora ngarti apa2 kaa kakeyen ngomong…
    adminnya suka dugemm garo oplosannn.. Luuuu itu harusss mikirr…
    solawat itu perintah Allah… orang solawat Lu benciii.. orang dugemm dan maksiat lainnya yang jelas2 salah ngga luu komentariiii… semoga Allah memberimu hidayah dan cinta kepada Nabinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s