Sepenggal Catatan Kudeta Mesir

mursiDalam Perjalanan Sejarah Semua partai/gerakan Islam di berangus dengan berbagai cara, namun yang coba saya simpulkan adalah Pemberangusan ini dilakukan dengan 3 (tiga) pola :

1. Pola Pertama “Pembenturan Partai/Gerakan dengan Negara”

Pembenturan ini entah dengan menggunakan tangan militer, penguasa Negara yang otoriter dan juga kekuatan Hukum (Lembaga Peradilan). Seperti pada FIS, Refah, An Nahdah, SDA, dan Ikhwan di Mesir mereka diberangus dengan legitimasi militer dan penguasa, dan tentu adanya kepentingan luar negeri di sana. Partai/gerakan dibenturkn vis ti vis dengan negara, hukum digunakan utnuk melegitimas lebih kuat, dan akhirnya ribuan anggotanya masuk penjara. Tentu cara-cara seperti ini sudah tidak zamannya lagi, ketika gelombang demokratisasi masuk ke seluk beluk ke tatanegaraan. Sama seperti ala kolonialisasi gaya lama yang ditinggal, dan sekarang ada gaya kolonialisasi gaya baru.

2. Pola Kedua “Pembunuhan Karakter”

Pola ini adalah pola yang lebih elegan namun sangat sadis, operasi yang tidak hanya menggunakan kekuatan politik, namun lebih banyak menggunakan media. Kita pernah dengan kasus pornografi di aktifis PAS Malaisya, yang tentu di back up oleh kekuatan utama dalam menyebarkan opini lewat media.

3. Pola Ketiga “Gado-Gado Sapi”

Pola ini merupakan gabungan Pembenturan dengan Negara sekaligus di bunuh karakter pemimpin partai/gerakan. Kita lihat kasus tokoh oposisi Malaisya, Anwar Ibrahim, kasus sex/sodomi yang dibumbui dengan aroma politik yang menyengat dan proses hukum yang kaya sinetron serta delik hukum yang sangat dipaksakan (rada mirip kasus LHI di PKS), Di Tunisia ada cerita pembunuhan tokoh oposisi utama, yang akhirnya dikesankan tuduhannya kepada Penguasa baru Tunisis pasca revolusi, yaitu An Nahdah (yang dulunya pernah diberangus dengan pola pertama) sekarang mereka lagi dicoba dengan pola Gado2 Sapi. Begitupula di Mesir, Partai Keadilan Pembangunan yang dimotori gerakan Ikhwan, yang dulunya juga pernah diberangus, sekarang juga jadi penguasa dan rongrong dengan demontrasi, perang opini serta adu domba antar lembaga negara serta militer.

Ketiga Pola di atas membutuhkan sebuah kekuatan yang luar biasa, super power. Di negara yang otoriter maka seringkali kekuatan ini dimiliki oleh Penguasa dan Militer, sehingga pemberangusan dilakukan dengan pola pertama yang rada kasar. Namun ketika di nagara demokrasi dan negara hukum maka alat pemukul yang memiliki syarat super power adalah Lembaga Hukum dan Media, maka sangat wajar untuk melemahkan Anwar Ibrahim, oposisi di Malaisya dan juga PKS digunakan alat pemukul ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s