<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kisah Islami &#187; Ummul Mukminin</title>
	<atom:link href="http://kisahislami.com/category/ummul-mukminin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kisahislami.com</link>
	<description>Kisah Teladan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Apr 2012 11:40:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Energi Pelukan Ummul Mukminin</title>
		<link>http://kisahislami.com/energi-pelukan-ummul-mukminin/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/energi-pelukan-ummul-mukminin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 22:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah ber’uzlah, beribadah kepada Rabbnya. Telah sekian hari ia lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam puja dan harap pada Dia Yang Menciptanya. Tiba-tiba muncullah Malaikat Jibril dalam wujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya. Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Laki-laki itu merengkuh Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian mengulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah ber’uzlah, beribadah kepada Rabbnya. Telah sekian hari ia lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam puja dan harap pada Dia Yang Menciptanya. Tiba-tiba muncullah Malaikat Jibril dalam wujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya.</p>
<p>Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Laki-laki itu merengkuh Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian mengulang kembali perintah “Iqra!” Muhammad memberikan jawaban yang sama dan peristiwa serupa pun terulang hingga tiga kali. Setelah itu, Muhammad dapat membaca kata-kata yang diajarkan lelaki itu. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu pertama yang yang diturunkan Allah kepada Muhammad melalui Jibril, sang makhluk bersosok laki-laki yang menemui Muhammad di gua Hira.</p>
<p>Sepulang dari gua Hira, Muhammad mencari Khadijah isterinya dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”. Ia gemetar ketakutan, dan saat itu, yang paling diinginkannya hanya satu, kehangatan, ketenangan dan kepercayaan dari orang yang dicintainya. Belahan jiwanya. Isterinya. Maka Khadijah pun menyelimutinya, memeluknya dan mendengarkan curahan hatinya. Kemudian ia menenangkannya dan meyakinkannya bahwa apa yang dialami Muhammad bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun amanah yang akan sanggup ia jalankan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/energi-pelukan-ummul-mukminin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Juwairiyah binti Al-Harits sebagai Asbab Hidayah Bagi Kaumnya</title>
		<link>http://kisahislami.com/juwairiyah-binti-al-harits-sebagai-asbab-hidayah-bagi-kaumnya/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/juwairiyah-binti-al-harits-sebagai-asbab-hidayah-bagi-kaumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 02:46:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[Buraidah bin Al-Hushaid]]></category>
		<category><![CDATA[Juwairiyah binti Al-Harits]]></category>
		<category><![CDATA[Musafi' bin Shafwan]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Muraisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=648</guid>
		<description><![CDATA[Parasnya begitu cantik, luas ilmunya dan mulia akhlaknya. Begitulah sejarah Islam melukiskan Juwairiyah binti Al-Harits. Sejatinya, ia bernama Barrah.Wanita itu berasal dari Bani Musthaliq yang menyembah berhala. Ayahnya, Al-Harits, adalah pemimpin kaumnya yang gemar menyembah patung dan sangat memusuhi Islam. Barrah sempat menikah dengan seorang pemuda yang bernama Musafi&#8217; bin Shafwan. Ayahnya berencana untuk menyerang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-651" style="margin: 5px" src="http://kisahislami.com/wp-content/uploads/2011/01/ummul-mukminin.jpg" alt="" width="213" height="233" />Parasnya begitu cantik, luas ilmunya dan mulia akhlaknya. Begitulah sejarah Islam melukiskan Juwairiyah binti Al-Harits. Sejatinya, ia bernama Barrah.Wanita itu berasal dari Bani Musthaliq yang menyembah berhala. Ayahnya, Al-Harits, adalah pemimpin kaumnya yang gemar menyembah patung dan sangat memusuhi Islam.</p>
<p>Barrah sempat menikah dengan seorang pemuda yang bernama Musafi&#8217; bin Shafwan. Ayahnya berencana untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah. Bani Musthaliq sangat bernafsu untuk mengalahkan pasukan tentara Islam dan mengambil alih kekuasaan di antara suku-suku Arab. Rencana itupun sampai ke telinga Rasulullah SAW.</p>
<p>Untuk memastikan kabar itu, Nabi SAW lalu menugaskan Buraidah bin Al-Hushaid untuk memastikan kebenaran informasi itu. Ternyata, rencana penyerangan yang akan dilakukan Bani Musthaliq itu tak sekedar isu melainkan kenyataan. Rasulullah pun menyusun kekuatan dan menyerang terlebih dahulu.</p>
<p>Pertempuran tentara Islam melawan kaum kafir dari Bani Musthaliq itu dikenal sebagai perang Perang Muraisi&#8217; dan terjadi pada bulan Sya&#8217;ban tahun kelima Hijrah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Pemimpin bani Musthaliq, Al-Harits melarikan diri dari medan peperangan dan suami Barrah tewas terbunuh.</p>
<p>Seluruh penduduk yang selamat, termasuk Barrah menjadi tawanan. Sebagai seorang terpelajar, mengetahui dirinya menjadi tawanan, Barrah mengajukan tawaran untuk membebaskan diri. Ia lalu mencoba bernegosiasi dan meminta bertemu dengan Nabi SAW. Upayanya membuahkan hasil.</p>
<p>&#8220;Ya Rasulullah, aku Barrah, putri dari Al Harits. Ayahku adalah pemimpin kaumku. Sekarang aku ditimpa kemalangan dengan menjadi tawanan perang dan jatuh ke tangan Tsabit bin Qais. Ia memang lelaki baik, tidak pernah berlaku buruk padaku. Namun ketika kukatakan aku ingin menebus diri, ia membebaniku dengan sembilan keping emas. Maka kupikir lebih baik minta perlindungan padamu. Tolong, bebaskan aku!&#8221; ujarnya.</p>
<p>Nabi SAW berpikir sejenak. Lalu Rasulullah SAW balik bertanya, &#8220;Maukah engkau yang lebih baik dari itu?&#8221;</p>
<p>Seketika Barrah tercengang dan balik bertanya, &#8220;Apakah gerangan itu, wahai Rasulullah?</p>
<p>Lalu Nabi SAW berkata, &#8220;Aku tebus dirimu, lalu kunikahi engkau.&#8221;</p>
<p>Mendengar jawaban Nabi SAW, wajah Barrah pun berubah berseri-seri.</p>
<p>&#8220;Baiklah, wahai Rasulullah,&#8221; tutur Burdah. Lalu Rasulullah SAW menikahinya dan nama Barrah pun diganti menjadi Juwairiyah.</p>
<p>Seperti diriwayatkan <a href="http://kisahislami.com/riak-riak-rumah-tangga-rasulullah-muhammad-saw/">Aisyah RA</a>, kabar pernikahan Rasulullah dan Juwairiyah menyebar cepat di kalangan kaum Muslimin. Secara tak terduga, pernikahan itu menjadi berkah bagi kaum Bani Musthaliq yang tertawan dan menjadi budak. Para sahabat membebaskan semua tawanan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Juwairiyah. Dan makin banyak yang berbondong-bondong masuk agama islam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/juwairiyah-binti-al-harits-sebagai-asbab-hidayah-bagi-kaumnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Ummul Mukminin Khadijah Al Kubra r.a (3 &#8211; end)</title>
		<link>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-3-end/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-3-end/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 03:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Muhamad SAW menikah dengan Khadijah dan memberinya mahar 20 ekor unta. Beliau SAW mengadakan pesta pernikahan dengan menyembelih unta dan memberi makan para tamu. Al Bushairi telah menggubah sebuah syair tentang hal ini : “Khadijah melihat ketaqwaan, kezuhudan, Dan rasa malu adalah perangai Muhammad. Telah sampai berita kepadanya bahwa awan dan pohon besar menaunginya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nabi Muhamad SAW menikah dengan Khadijah dan memberinya mahar 20 ekor unta. Beliau SAW mengadakan pesta pernikahan dengan menyembelih unta dan memberi makan para tamu. Al Bushairi telah menggubah sebuah syair tentang hal ini :</p>
<p>“Khadijah melihat ketaqwaan, kezuhudan,</p>
<p>Dan rasa malu adalah perangai Muhammad.</p>
<p>Telah sampai berita kepadanya bahwa awan dan pohon besar menaunginya.</p>
<p>Berita bahwa akan ada seorang utusan Allah akan dibangkitkan, telah tiba masanya.</p>
<p>Ia pun tergugah untuk menikah dengannya.</p>
<p>Alangkah bagusnya kala orang cerdik menggapai citanya”</p>
<p>Saat itu Khadijah berusia 40 tahun, usia kesempurnaan seorang ibu, sedangkan Muhammad SAW adalah seorang pemuda yang berusia 25 tahun. Dalam pernikahan yang diberkahi ini Khadijah adalah seorang istri yang penyayang dan seorang ibu yang lembut. Pernikahan ini adalah pernikahan yang bahagia dan dipenuhi keberkahan. Muhammad SAW adalah sebaik-baik suami sedangkan Khadijah adalah sebaik-baik istri. Keduanya menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh ketenangan dan kecintaan. Khadijah telah menjadi teladan yang indah dalam hal keshalehan dan kedermawanan. Ketika ia meraskan bahwa suaminya sangat mencintai budaknya, Zaid bin Haritsah, ia pun menghadiahkan Zaid kepada suaminya. Maka bertambah tinggilah kedudukannya dalam hati suaminya.</p>
<p>Ketika beliau SAW mengasuh sepupunya, Ali bin Abi Thalib r.a mendapati Khadijah sebagai seorang ibu yang penyayang dan pemelihara yang sempurna. Allah menyempurnakan suami istri ini dengan beberapa anak : Qosim, dengannya beliau SAW dipanggil Abul Qosim, Zaenab, Ruqoyah, Fatimah dan Ummu Kultsum. Semuanya dilahirkan sebelum beliau SAW diangkat menjadi Nabi. Setelah beliau SAW diangkat menjadi Nabi, Khadijah melahirkan Abdullah yang juga dijuluki At Thayyib dan At Thahir. Jarak antara masing-masing anak hanya selang dua tahun, dan Khadijah sendiri yang menyusui mereka.</p>
<p>Ibnu Abbas r.a menyebutkan putera-putera Rasulullah Muhammad SAW dari Khadijah. Ia berkata “ Khadijah melahirkan untuk Muhammad SAW dua orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan yaitu, Qosim, Abdullah, Fatimah, Ummu Kultsum, Zaenab dan Ruqoyah. Adapun putera beliau SAW yang bernama Ibrahim dilahirkan oleh Mariyah Al Qibtiyah. Seluruh putera beliau SAW meninggal saat masih kecil. Adapun puteri-puteri beliau SAW yang mendapati masa kenabian, mereka masuk islam dan ikut serta berhijrah”</p>
<p>Muhammad SAW di tengah kaumnya terkenal dengan akhlaknya yang mulia sehingga beliau melampaui mereka semuanya. Mereka memberinya gelar Al Amin,karena sifat-sifat kesalehannya yang diridhoi oleh semua pihak. Khadijah mengumpulkan akhlak beliau SAW dengan mengatakan “ Sesungguhnya engkau menyambung tali kekerabatan, menanggung orang yang kesusahan, menyantuni orang yang kekurangan, menjamu tamu dan membantu orang-orang yang kesulitan dengan menunaikan hak-haknya”</p>
<p>Penduduk Mekkah telah begitu mengenal sifat-sifat Rasulullah SAW. Mereka ridhai setiap kali terjadi perselisihan di antara mereka dengan keputusan Rasulullah Muhammad SAW. Namun beliau SAW sendiri mengingkari kesesatan dan penyembahan berhala yang mereka lakukan. Tatkala usia Rasulullah Muhammad SAW menjelang 40 tahun, beliau SAW senang menyendiri di gua Hira, sebuah gua di dekat kota Mekkah. Mempergunakan waktunya untuk beribadah dan memikirkan alam serta penciptanya. Beliau SAW menginap beberapa malam di gua Hira.</p>
<p>Bila pagi telah tiba dan Khadijah tidak mendapatkan suaminya di sisi pembaringan,ia pun mengetahui bahwa suaminya sedang menyendiri di gua Hira. Tak pernah Khadijah menanyakan suatu hal pun kepada suaminya, karena ia adalah seorang yang cerdik dan tahu persis kondisi suaminya ini. Cahaya kenabian pertamakali muncul dalam bentuk mimpi-mimpi yang benar. Mimpi-mimpi itu setiap kali muncul kepada beliau SAW berupa cahaya pagi yang merekah, suatu hal yang menimbulkan rasa takut dalam diri beliau SAW. Rasulullah SAW menceritakan kekhawatirannya kepada istrinya yang cerdik ini “Tatkala aku sedang menyendiri aku mendengar seruan. Demi Allah, saya khawatir akan terjadi sesuatu”</p>
<p>Khadijah menenangkan Rasulullah SAW dengan berkata “ Kita berlindung kepada Allah, Allah tidak akan menimpakan itu kepadamu. Demi Allah, engkau senantiasa menunaikan amanat, menyambung tali kekerabatan dan berkata jujur”</p>
<p>Ucapan Khadijah ini merupakan sebuah bentuk firasat ilham yang mendinginkan dan menenangkan Rasulullah SAW. Perlahan-lahan ketakutan yang beliau SAW rasakan berkurang. Sesungguhnya kalimat-kalimat Khadijah ini muncul dari pengetahuannya tentang akhlak beliau SAW selama masa berdagang dan dalam seluruh aspek kehidupannya. Belum lagi dengan berita baik tentang diri suaminya yang beredar di tengah masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-3-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Ummul Mukminin Khadijah Al Kubra r.a (2)</title>
		<link>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-2/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 05:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[abu thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Amru bin Asad]]></category>
		<category><![CDATA[hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[maisarah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nufaisah binti Munayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[Khadijah mulai merasakan kejujuran dan kemuliaan akhlak Muhammad SAW. Maka ia pun semakin memperbanyak jumlah upah untuk beliau SAW. Ketika beliau SAW mencapai usia 25 tahun, beliau dipercaya membawa barang dagangan Khadijah ke Syam bersama seorang pembantu Khadijah yang bernama Maisarah. Di Syam, beliau SAW menjual barang-barang Khadijah dan sebagai gantinya membeli barang-barang yang akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Khadijah mulai merasakan kejujuran dan kemuliaan akhlak Muhammad SAW. Maka ia pun semakin memperbanyak jumlah upah untuk beliau SAW. Ketika beliau SAW mencapai usia 25 tahun, beliau dipercaya membawa barang dagangan Khadijah ke Syam bersama seorang pembantu Khadijah yang bernama Maisarah. Di Syam, beliau SAW menjual barang-barang Khadijah dan sebagai gantinya membeli barang-barang yang akan dibawa ke Mekkah. Beliau SAW meraih keuntungan yang berlipat dari keuntungan Khadijah yang sebelumnya. Beliau SAW kemudian kembali ke Mekkah dan menyerahkan seluruh harta dan keuntungan tersebut kepada Khadijah dengan sikap amanah yang sempurna. Allah SAW telah menjaga beliau SAW dalam perlindunganNya, sehingga selain mempunyai kebaikan yang banyak, perjalanan ke Syam ini mempunyai pengaruh yang penuh berkah bagi kehidupan beliau SAW sendiri.</p>
<p>Setelah sampai di Mekkah, Maisarah mulai menceritakan kemuliaan akhlak, kebaikan pergaulan dan kebesaran amanah Muhammad SAW yang ia saksikan sendiri. Bahkan ia juga menceritakan beberapa tanda kenabian yang ia rasakan dan lihat langsung dengan kedua matanya. Banyak sekali sifat-sifat beliau SAW yang ia lihat selama dalam perjalanan. Ia menceritakan kesaksiannya kepada Khadijah dengan jujur. Khadijah sendiri amat senang dengan sifat amanah dan kejujuran beliau SAW juga berkah dan laba perdagangan yang diperolehnya. Allah SWT telah menetapkan kemuliaan serta memberikan kebaikan pada diri Khadijah dengan menumbuhkan dalam jiwanya sebuah keinginan mulia yang penuh berkah yang akan menjadikannya sebagai seorang yang meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Perlu kita ketahui bahwa para tokoh dan pemimpin di Mekkah sangat berhasrat untuk menikahi Khadijah, namun ia menolak pinangan mereka. Ia justru mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan dan cita-citakan dalam diri Muhammad SAW. Ia pun menceritakan isi hatinya kepada seorang sahabatnya, Nufaisah binti Munayah.</p>
<p>Nufaisah pun segera bergegas menemui Muhammad SAW dan berbicara kepada beliau SAW agar menikahi Khadijah, katanya “Apa yang menghalangimu untuk menikah hai Muhammad ?” beliau SAW menjawab “Saya tidak mempunyai harta untuk menikah”</p>
<p>“Jika engkau ditanggung dan diajak untuk menikahi seorang wanita yang cantik, berharta, mulia dan sebanding, maukah engkau memenuhinya ?” Tanya Nufaisah.<br />
“Siapa dia ?” Tanya beliau SAW<br />
“Khadijah” jawab Nufaisah.<br />
“Bagaimana mungkin?” kata beliau SAW<br />
“Saya yang menjamin” jelas Nufaisah<br />
“Kalau begitu saya terima” jawab beliau SAW<br />
Nufaisah kembali menemui Khadijah dengan membawa berita keberhasilannya dalam menunaikan tugasnya. Ia menyebutkan kesediaan Muhammad untuk menikahi Khadijah. Kemudian Khadijah segera mengutus seorang pembantunya untuk menemui pamannya yang bernama Amru bin Asad untuk hadir menjadi wali nikahnya. Setelah itu beliau SAW bersama keluarga besar Abdul Muthalib datang ke rumah Khadijah. Rombongan ini dipimpin oleh paman beliau sendiri, <a href="http://kisahislami.com/jago-jago-duel-di-medan-badar/">Hamzah</a> dan Abu Thalib. Mereka disambut oleh paman Khadijah dan juga sepupunya yaitu Waraqah bin Nufail. Abu Thalib berdiri dan menyampaikan sebuah khutbah yang indah yang beberapa bagian kalimatnya adalah sebagai berikut “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita keturunan Ibrahim dan benih Ismail , menjadikan kita para pemelihara rumahNya dan pengurus Al Haram, menjadikan untuk kita sebuah rumah terlindungi yaitu Al Haram yang penuh rasa aman. Sesungguhnya keponakan saya ini, Muhammad bin Abdullah, tidaklah kemuliaan, kecerdikan dan keutamaannya dibandingkan dengan lelaki Quraisy manapun kecuali ia lebih unggul. Muhammad sudah kalian ketahui kekerabatannya. Ia mempunyai keinginan untuk menikahi Khadijah binti Khuwailid dan Khadijah pun memiliki keinginan yang sama. Ada pun mahar yang kalian inginkan menjadi tanggungan saya.”</p>
<p>Paman Khadijah, Amru bin Asad yang saat itu sudah memasuki usia senja menerima lamaran Abu Thalib dan mengatakan “ Muhammad adalah laki-laki mulia yang tak mungkin di tolak”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Ummul Mukminin Khadijah Al Kubra r.a (1)</title>
		<link>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-1/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 00:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Halah bin Zurarah At Tamimi]]></category>
		<category><![CDATA[Asiyah isteri Fir`aun]]></category>
		<category><![CDATA[Atiq bin Abid Al Mahzumi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah binti Zaidah bin Asham]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Hajar Al Asqalani]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Syihab Az Zuhri]]></category>
		<category><![CDATA[khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Maryam bin Imran]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Qusay bin Kilab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=614</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah di antara kita yang mampu memenuhi hak Ummul Mukminin ini atau sebagian kecil saja diantaranya? Tidak ada. Dialah Khadijah yang tumbuh dewasa dengan akhlak yang mulia. Ia memiliki sifat selalu menjaga kehormatan, kemuliaan, dan kesempurnaan sehingga di kalangan wanita-wanita Makkah saat itu popular dengan julukan At Tahirah (wanita yang suci). Ia adalah seorang ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapakah di antara kita yang mampu memenuhi hak Ummul Mukminin ini atau sebagian kecil saja diantaranya? Tidak ada. Dialah Khadijah yang tumbuh dewasa dengan akhlak yang mulia. Ia memiliki sifat selalu menjaga kehormatan, kemuliaan, dan kesempurnaan sehingga di kalangan wanita-wanita Makkah saat itu popular dengan julukan At Tahirah (wanita yang suci). Ia adalah seorang ibu suci yang mendapatkan gelar harum semerbak di masa noda-noda jahiliyah sedang merajalela dan nilai-nilai kaum wanita dilecehkan. Ia dilahirkan di Ummul Qurra tahun 68 sebelum Hijrah, bertepatan dengan 15 tahun sebelum terjadinya tahun gajah atau bertepatan pula dengan tahun 556 Masehi.</p>
<p>Ibunya adalah Fatimah binti Zaidah bin Asham, seorang wanita Quraisy dari Bani Amir bin Lu`ay. Adapun bapaknya bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza, salah seorang tokoh Quraisy yang meninggal pada masa terjadinya perang Fujjar. Semula Khadijah adalah istri dari Abu Halah bin Zurarah At Tamimi. Ketika suaminya meninggal, ia dinikahi oleh Atiq bin Abid Al Mahzumi, lalu dinikahi oleh yang mulia Rasulullah SAW.</p>
<p>Saat Khadijah membina rumah tangga dengan Rasulullah Muhammad SAW bintangnya mulai terang, keutamaanya semakin jelas, dan ia menjadi pemimpin seluruh wanita Makkah, bahkan melampaui seluruh wanita dunia di manapun. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “<em>Cukuplah bagimu dari wanita dunia : Maryam bin Imran, Khadijah binti Khuwailid, <a href="http://kisahislami.com/ia-yang-mematahkan-roti-kering-dengan-lututnya/">Fatimah binti Muhammad</a> dan Asiyah isteri Fir`aun</em>.”</p>
<p>Khadijah merupakan teladan yang indah bagi kaum wanita Makkah baik dalam hal kedudukan, kemuliaan,maupun harta kekayaan. Ia memiliki perniagaan yang luas dan para pekerja yang terdiri dari orang-orang yang jujur dalam membawa barang dagangannya. Ia memberikan kepada mereka upah yang telah disepakati. Dalam masa itulah Khadijah mulai mengenal seorang pemuda yang terpercaya, Muhammad bin Abdullah, yang nasabnya bertemu dengannya pada Qusay bin Kilab. Untuk hal ini Imam Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani berkomentar tentang pribadi Khadijah “Ia adalah istri Nabi SAW yang paling dekat nasabnya dengan beliau”.</p>
<p>Khadijah dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki pandangan tajam dan firasat yang benar. Ia mendengar dan menyaksikan langsung informasi yang harum semerbak tentang Muhammad bin Abdullah dari pagi hingga sore hari. Akhlak Muhammad SAW dan sifat-sifatnya yang indah telah mengharumkan dunia serta memikat daya tarik. Maka Khadijah ingin agar Muhammad bin Abdullah SAW membawa barang dagangannya. Khadijah mengirim seorang pelayannya kepada beliau SAW dengan menitipkan pesan “Sesungguhnya yang mendorongku untuk mengirim pelayan kepadamu adalah karena ada berita yang telah sampai kepadaku tentang kejujuran ucapanmu, besarnya amanatmu dan kemuliaan akhlakmu, maka saya akan memberikan kepadamu upah dua kali lipat dari yang biasa aku berikan kepada orang lain”. Rasulullah SAW menerima tawaran tersebut. Saat Abu Thalib mendengar upah yang demikian itu, ia mengatakan kepada beliau SAW “Ini adalah rezeki yang Allah kirim kepadamu”.</p>
<p>Abu Ja`far Ath Thabari, Ibnu Katsir dan Ibnu Sayidin Nas meriwayatkan dari Ma`mar dari Imam Syihab Az Zuhri, ia berkata “ Tatkala beliau SAW tumbuh dewasa dan mencapai usia baligh, namun tidak memiliki harta yang cukup, Khadijah mengupahnya untuk menjualkan barang dagangannya ke pasar Khubasyah, sebuah pasar di daerah Tihamah. Ada seorang laki-laki Quraisy yang lain yang juga membawa barang dagangan Khadijah bersama beliau SAW. Beliau SAW mengisahkan tentang Khadijah ini “Saya tidak pernah melihat seorang wanita pemilik modal yang lebih baik dari Khadijah. Setiap kali saya dan kawan saya pulang dari berdagang, kami selalu mendapati senampan makanan yang telah ia siapkan untuk kami”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/kemuliaan-ummul-mukminin-khadijah-al-kubra-r-a-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rasulullah Muhammad SAW Meredakan Rasa Cemburu Istrinya</title>
		<link>http://kisahislami.com/rasulullah-muhammad-saw-meredakan-rasa-cemburu-istrinya/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/rasulullah-muhammad-saw-meredakan-rasa-cemburu-istrinya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Dec 2010 03:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[abu bakar]]></category>
		<category><![CDATA[aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Shafiyah binti Huyai]]></category>
		<category><![CDATA[ummu abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[unta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=556</guid>
		<description><![CDATA[Aisyah r.a bercerita bahwa ia pernah cemburu kepada Shafiyah binti Huyai r.a dan bagaimana ia mengucapkan kata-kata kasar kepada Rasulullah SAW, ia berkata “Suatu hari aku keluar bersama Rasulullah dan beberapa istri beliau ikut serta. Pada saat itu barang bawaanku ringan dan aku menunggangi unta yang kuat, sedangkan barang-barang Shafiyah r.a berat dan dia menunggangi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kisahislami.com/aisyah-r-a-menunakan-janji-sedekahnya/">Aisyah r.a</a> bercerita bahwa ia pernah cemburu kepada Shafiyah binti Huyai r.a dan bagaimana ia mengucapkan kata-kata kasar kepada Rasulullah SAW, ia berkata “Suatu hari aku keluar bersama Rasulullah dan beberapa istri beliau ikut serta. Pada saat itu barang bawaanku ringan dan aku menunggangi unta yang kuat, sedangkan barang-barang Shafiyah r.a berat dan dia menunggangi unta yang lemah dan lamban sehingga kami pun terpaksa berjalan pelan.<br />
Rasulullah SAW kemudian berkata “Pindahkan barang-barang Aisyah ke unta Shafiyah dan pindahkan barang-barang Shafiyah ke unta Aisyah agar kita bisa meneruskan perjalanan.<br />
Melihat hal itu aku emosi dan berkata “Wahai hamba Allah, bagaimana bisa Rasulullah mengesampingkan kita dan mendahulukan perempuan Yahudi ini”. Dengan serta merta Rasulullah SAW menjawab “Wahai Ummu Abdillah, barang bawaanmu ringan sementara barang bawaan Shafiyah berat, maka kami pindahkan barang-barangnya ke untamu dan barang-barangmu ke untanya”<br />
Aku berkata “Bukankah engkau Rasulullah?” Rasulullah hanya tersenyum seraya berkata “Apakah engkau masih meragukanku wahai Ummu Abdillah?”<br />
“Bukankah engkau Rasulullah?, Tapi mengapa tidak adil?”<br />
Waktu itu ayahku, <a href="http://kisahislami.com/rasulullah-saw-mendapat-semangat-dari-sahabat-sahabatnya/">Abu Bakar r.a</a> mendengar perkataanku dan kesal, lalu dia mendatangiku dan hendak menamparku. Tapi Rasulullah SAW melindungiku “Sabar, Abu Bakar”<br />
Abu Bakar r.a marah dan berkata “Wahai Rasulullah tidakkah kau dengar apa yang dikatakannya?”<br />
Rasulullah SAW menjawab “Wanita yang sedang cemburu itu tidak bisa melihat bawah lembah dari atasnya” (HR Ibnu Hibban).</p>
<p>Cemburu adalah pembawaan wanita. Jika suami menyikapinya dengan jalan pikiran orang yang cemburu juga, maka akan hancur kehidupan rumah tangga dan tak akan ada satu pun rumah tangga yang terhindar dari api cemburu. Orang yang berkhayal bahwa kehidupan rumah tangganya tidak akan tersentuh masalah adalah tidak benar, karena permasalahan dalam rumah tangga ibarat garam dalam makanan, yang tanpanya akan terasa hambar. Demikian pula hubungan suami dan istri, tidak akan terlepas dari masalah sekalipun kecil dan sepele. Seseorang mengatakan “Kehidupan suami istri yang bahagia adalah kehidupan yang tidak pernah lepas dari perselisihan, yang seiring dengan berjalannya waktu perselisihan itu akan mensucikan rasa cinta antara keduanya dan semakin menguatkan ikatannya”.<br />
Pernikahan adalah ikatan antara dua lawan jenis. Disitulah terletak tanda kekuasaan Allah, bahwa Dia tidak menciptakan dua makhluk yang sama dalam sifat dan perilaku. Sehingga wajar bila ketidaksamaan sifat dan perilaku itu menyebabkan perselisihan. Dan sesungguhnya perbedaan pandangan antara suami istri adalah hal yang wajar dan tidak ada alasan untuk takut menghadapinya. Tetapi perselisihan yang terjadi terus menerus, sikap saling membenci dan mudahnya emosi tersulut dalam menghadapi masalah yang kecil maupun yang besar adalah hal yang kita coba untuk menghindarinya dalam kehidupan rumah tangga.<br />
Sehingga menjadi kewajiban bagi keduanya untuk menjadikan perbedaan itu sebagai sarana yang membangun dan menguatkan hubungan keduanya, bukan sebagai sarana yang menghancurkan. Sebagai sarana yang menguatkan pondasi kehidupan keduanya sehingga setiap pasangan memahami perilaku, tabiat serta karakter masing-masing demi tujuan menyatukan dan menyelaraskan jiwa. Untuk itu masing-masing pasangan dituntut untuk meminimalkan perselisihan dalam batas-batas yang wajar serta belajar untuk tidak hanya terpaku pada ideal-ideal perkawinan saja. Masing-masing pihak hendaknya menerima hal-hal normal dan wajar seraya berusaha kearah yang lebih baik. Wallahu`alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/rasulullah-muhammad-saw-meredakan-rasa-cemburu-istrinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riak-riak Rumah Tangga Rasulullah Muhammad SAW</title>
		<link>http://kisahislami.com/riak-riak-rumah-tangga-rasulullah-muhammad-saw/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/riak-riak-rumah-tangga-rasulullah-muhammad-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 03:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[abu bakar]]></category>
		<category><![CDATA[aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[umar bin Khattab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah kehidupan Rasulullah SAW dengan istri-istrinya merupakan teladan bagi setiap muslim dan muslimah. Terhadap teladan ini kita berkewajiban mengambil hikmah dan pelajaran dan menjadikannya pelita untuk menerangi setiap sudut kehidupan. Namun demikian,dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW yang ideal itu ternyata juga tak luput dari selisih paham. Ini artinya bahwa Rasulullah SAW adalah manusia dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah kehidupan Rasulullah SAW dengan istri-istrinya merupakan teladan bagi setiap muslim dan muslimah. Terhadap teladan ini kita berkewajiban mengambil hikmah dan pelajaran dan menjadikannya pelita untuk menerangi setiap sudut kehidupan. Namun demikian,dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW yang ideal itu ternyata juga tak luput dari selisih paham. Ini artinya bahwa Rasulullah SAW adalah manusia dengan segala kekurangannya, juga istri-istrinya. Wajar bila dalam kehidupan mereka sering didera permasalahan dan terjadi selisih pendapat seperti halnya yang terjadi dalam kehidupan anak Adam lainnya.</p>
<p>Sebagai gambaran, Rasulullah Muhammad SAW manusia yang paling dicintai Allah pernah berkata kepada Aisyah r.a, istri yang paling dicintainya “Sungguh aku tahu kapan engkau rela dan kapan engkau marah kepadaku”<br />
Aisyah bertanya “Darimana engkau tahu?”<br />
Rasulullah SAW menjawab “Bila engkau rela, maka engkau akan mengatakan `Tidak demi Rabb Muhammad, dan ketika engkau marah, engkau mengatakan `Tidak, demi Rabb Ibrahim”<br />
Aisyah pun berkata “Benar, Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak menghindar kecuali menyebut namamu saja”(HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Ini artinya bahwa Aisyah r.a menghindar untuk menyebut nama Rasulullah SAW hanya ketika marah saja, namun sebenarnya hatinya tetap mencintainya. Dari hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa perselisihan suami istri terjadi pula di dalam rumah tangga Nabi SAW sehingga salah satu diantara mereka marah atau keduanya. Tapi itu kemarahan yang hanya sementara yang kemudian hilang, tidak berlanjut hingga saling membenci dan bertengkar seperti sering kita saksikan pada saat ini. Rasulullah SAW selalu memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan seperti “<em>Ya Aisy”, “Ya Uwaisy” </em>atau<em> “Ya Humaira</em>” untuk membuat hatinya tersanjung.</p>
<p>Dilain hari pernah terjadi pertengkaran antara Nabi SAW dengan istri-istrinya r.a dalam hal nafkah. Istri-istri Rasulullah meminta tambahan nafkah dan kesenangan lainnya, tapi Nabi tidak memilikinya, padahal Beliau SAW selalu memberikan apa saja yang dimilikinya. Diriwayatkan dari Jabir r.a ia berkata “Suatu hari Abu Bakar r.a datang ke rumah Nabi SAW dan mendapati para sahabat sedang duduk di depan rumah Nabi. Tak seorang pun diizinkan masuk. Rasulullah SAW mengizinkan Abu Bakar masuk. Kemudian datang Umar bin Khattab dan minta izin masuk. Rasulullah SAW mengizinkannya. Mereka mendapati Nabi SAW sedang duduk dan istri-istrinya di sekelilingnya. Rasulullah SAW diam membisu. Kemudian Umar berkata “Sungguh aku akan menceritakan sesuatu yang akan membuat Nabi tersenyum. Sungguh aku akan mengatakannya agar beliau tertawa, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang puteri si Zaid itu(istri Umar bin Khattab r.a sendiri) yang baru saja merengek minta nafkah kepadaku. Karena jengkel aku cekik saja lehernya”</p>
<p>Nabi pun tersenyum hingga tampak gerahamnya dan berkata “Kau lihat sendiri mereka istri-istriku yang ada di sekelilingku juga minta tambahan nafkah kepadaku”. Kemudian Abu Bakar r.a berdiri dan berjalan kearah Aisyah lalu mencekiknya. Demikian juga Umar berdiri dan berjalan kearah Hafshah lalu mencekiknya. Keduanya mengatakan “Apakah kalian tega merengek meminta kepada Rasulullah SAW apa yang tidak beliau miliki”.<br />
Kemudian Rasulullah SAW menjauh dari istri-istrinya selama satu bulan atau dua puluh sembilan hari hingga turunlah ayat “<em>Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, `Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya aku berikan kepada kalian mut`ah dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki kerelaan Allah dan RasulNya serta kesenangan akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantara kalian pahala yang besar</em>” (QS Al Ahzab ayat 28-29)</p>
<p>Masih dari Jabir r.a ia berkata “Pertama-tama Rasulullah menyapa Aisyah r.a `Wahai Aisyah akan aku tunjukkan kepadamu satu hal, tapi aku tidak ingin engkau tergesa-gesa memutuskannya hingga engkau membicarakannya terlebih dahulu dengan orang tuamu`<br />
“Apa gerangan wahai Rasulullah?” Tanya Aisyah.<br />
Kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat diatas. Dan Aisyah pun balik bertanya “Apakah dalam masalah ini aku harus membicarakannya terlebih dahulu kepada orangtuaku wahai Rasulullah? Aku pasti lebih memilih Allah,RasulNya dan kehidupan akhirat, dan aku memintamu agar tidak memberitahukan apa yang aku katakan ini kepada istri-istrimu yang lain”<br />
Rasulullah SAW berkata “Jika mereka bertanya maka aku akan mengatakannya. Karena Allah tidak mengutusku untuk membuat kesusahan dan mencari kesalahan, tetapi mengutusku sebagai pengajar yang memberikan kemudahan” (HR Muslim).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/riak-riak-rumah-tangga-rasulullah-muhammad-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aisyah r.a menunakan janji sedekahnya</title>
		<link>http://kisahislami.com/aisyah-r-a-menunakan-janji-sedekahnya/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/aisyah-r-a-menunakan-janji-sedekahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 03:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Pagi masih menaungi kota Madinah dengan cahaya mentari penuh kelembutan dan kedamaian. Panasnya hawa padang pasir belum begitu menyengat tubuh. Jalan jalan mulai dilalui oleh orang orang yang hendak menuju kepasar. Ada juga yang telah bersiap pergi ke kebun dan ladang, pohon kurma dan aneka buah buahan telah menanti siap dipetik untuk dimanfaatkan bagi kebutuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi masih menaungi kota Madinah dengan cahaya mentari penuh kelembutan dan kedamaian. Panasnya hawa padang pasir belum begitu menyengat tubuh. Jalan jalan mulai dilalui oleh orang orang yang hendak menuju kepasar. Ada juga yang telah bersiap pergi ke kebun dan ladang, pohon kurma dan aneka buah buahan telah menanti siap dipetik untuk dimanfaatkan bagi kebutuhan keluarga. Sebagiannya mereka jual di pasar untuk membeli kebutuhan hidup lainnya.</p>
<p>Nampak sosok lelaki tengah berjalan di sebuah gang menuju arah masjid. Jalannya agak dipercepat mungkin karena ada keperluan yang terasa penting. Tiba di ujung gang ia berbelok ke arah kanan dan kemudian melanjutkan langkah kakinya hingga berhenti di depan sebuah rumah disebelah Masjid An Nabawi. Lelaki itu bernama Munkadir yaitu seorang tabi&#8217;in dan ia kini ada didepan rumah Ummul Mukminin Aisyah r.a untuk meminta bantuan kepada Aisyah soal keuangan. Setelah mengucap salam maka terdengar balasan salam dari dalam rumah, rupanya Aisyah r.a sedang ada dirumahnya. setelah keluar rumah Aisyah bertanya &#8220;Wahai Munkadir, ada keperluan apa engkau kamari?&#8221;. Kemudian Munkadir menjawab &#8220;Aku belum menikah dan ingin membeli seorang budak untuk kunikahi. apakah engkau bisa membantuku untuk meringankan masalah keuanganku ini?&#8221;. Kebetulan pada hari itu Ummul Mukminin tidak memiliki uang sepeser pun. Aisyah r.a berkata “Maaf, pada saat ini saya tidak mempunyai apa apa.  Seandainya saya mempunyai sepuluh ribu dirham, semuanya tentu akan saya  berikan kepadamu. Akan tetapi sekarang ini saya tidak mempunyai apa  apa.&#8221;</p>
<p>Munkadir sedikit berkecil hati karena tidak memperoleh apa apa. Maka ia melangkah pulang menuju rumahnya. Tak berapa lama kemudian datang seseorang bernama Khalid bin Asad r.a membawa sekantung uang berjumlah sepuluh ribu dirham dan memberikannya kepada Aisyah r.a. Sejenak Aisyah r.a termenung memikiran peristiwa sebelumnya yang terjadi lalu ia  berkata “Saya sedang diuji dengan ucapan saya kepada Munkadir.” Kemudian  ia segera mengirimkan seluruh uang yang di terimanya itu kepada  Munkadir . Dengan uang seribu dirham pemberian Aisyah r.a itu,  Munkadir  membeli seorang hamba sahaya perempuan yang kemudian  dinikahinya. Pernikahan mereka berlangsung dalam suasana penuh kebahagian dan saling mencintai. Dari pernkahan itu ia mendapatkan 3 orang anak yakni  Muhammad, Abu Bakar, dan Umar. Sejak masih muda ketiga orang itu terkenal kesolehannya di  kota Madinah Munawaroh.</p>
<p>Subhanallah, sungguh beruntung Aisyah r.a yang menjadi sebab pernikahan Munkadir. Ujian harta yang menghinggapinya tidak memalingkannya dari janji yang ia ucapkan. Janji yang ia ucapkan ibarat air ludah yang tidak mungkin ditelan lagi. Dan kembali Aisyah r.a menunjukkan kualitasnya sebagai seorang wanita yang sholeh lagi zuhud yang mana sifat itu ia dapatkan dari teladan yang ia dapatkan dari suami tercinta, Rasulullah SAW dan ayahnya, Abu Bakar Ash Siddiq r.a.</p>
<p>Ada sebuah kisah menarik dari sosok sahabat Abu Bakar yang juga punya hobby bersedekah. Kesukaanya dalam bersedekah telah menjadikannya sosok yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun diantara sahabat sahabat yang lain. Pernah ia membagi bagikan dua kantong penuh berisi uang, yang  berjumlah lebih dari seratus ribu dirham untuk di bagi bagikan kepada  fakir miskin tanpa meninggalkan satu dirham pun, padahal ia  membutuhkannya untuk berbuka puasa. Kisah semacam ini juga terdapat  dalam riwayat lain yang menyebutkan besarnya uang dalam kantong yang di  berikan kepada fakir miskin sebesar 180.000 dirham.</p>
<p>Inilah contoh teladan teladan agung dari seorang ayah dan anaknya, keagungan sifat mereka menjadi penawar dari banyak permasalahan dan kesempitan hidup masyarakat disekelilingnya. Semoga saja kita bisa meniru mereka dan bisa menjadi solusi ditengah masyarakat bukan sekadar wacana yang penuh basa basi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/aisyah-r-a-menunakan-janji-sedekahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebagian wajah rumah tangga Rasulullah SAW</title>
		<link>http://kisahislami.com/sebagian-wajah-rumah-tangga-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/sebagian-wajah-rumah-tangga-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Sep 2010 01:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Insya Allah setiap diri kita bagi kaum laki laki selalu memimpikan pendamping hidup seperti Ummul mukminin Aisyah r.a. Didalam banyak riwayat telah banyak disebutkan kisah kisah penuh romantis antara Rasulullah SAW dengan istrinya Aisyah r.a. ia seorang wanita yang cerdas dan memiliki ingatan yang sempurna dalam mengingat hadits hadits yang penah disampaikan oleh Nabi SAW. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Insya Allah setiap diri kita bagi kaum laki laki selalu memimpikan pendamping hidup seperti Ummul mukminin Aisyah r.a. Didalam banyak riwayat telah banyak disebutkan kisah kisah penuh romantis antara Rasulullah SAW dengan istrinya Aisyah r.a. ia seorang wanita yang cerdas dan memiliki ingatan yang sempurna dalam mengingat hadits hadits yang penah disampaikan oleh Nabi SAW. Aisyah r.a juga berwajah cantik dengan wajah yang indah diisi balutan warna pipi kemerah merahan. Rasulullah SAW memanggilnya Humaira yang artinya pipi yang kemerah merahan. Ia juga seorang wanita yang dermawan dan vokal dalam menyuarakan kebenaran.</p>
<p>Tapi pernahkah terpikir bagaimana beratnya Rasulullah SAW dalam mengatasi rasa cemburu yang sering melanda Aisyah r.a. Pernah suatu ketika terjadi keributan antara Aisyah r.a dengan istri Nabi yang lain. Pada waktu itu Rasulullah sudah berusaha menengahi tapi belum berhasil juga hingga waktu sholat sudah mendekat dan masih berlangsung hingga iqomat sudah dikumandangkan. Keributan ini hingga dapat terdengar dari luar rumah dan waktu itu Sahabat Abu Bakar As Shiddiq sedang menuju ke masjid dan mendengar bahwa anaknya, Aisyah r.a sedang ribut dengan istri Nabi yang lain. Kemudian Abu Bakar mendekati depan pintu rumah Rasulullah SAW dan berkata “Ya Rasulullah sumbatlah mulut perempuan itu dengan tanah bila ia selalu menyusahkanmu”</p>
<p>Atau dilain kisah diceritakan bahwa pada suatu siang Rasulullah SAW baru saja pulang dari bepergian dan masuk ke rumah menemui Aisyah. Setelah membuka bajunya karena kepanasan Rasulullah SAW segera mengenakan pakaiannya lagi dan langsung pergi keluar rumah lagi. Aisyah r.a melihat hal itu dan langsung menimbulkan perasaan cemburu karena mengira Rasulullah SAW  pergi kerumah istrinya yang lain. Maka ia langsung mengikuti Rasulullah SAW dari belakang tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW. Ternyata Rasulullah pergi ke pemakaman Baqi untuk berziarah dan beliau disana menyampaikan salam dan beberapa kalimat lantas kemudian kembali pulang ke rumah. Aisyah r.a pulang lebih dulu dan setelah Rasulullah SAW tiba dirumah ia menyesal telah menaruh cemburu disertai prasangka yang tidak baik lalu ia berkata “Ya Rasulullah aku minta maaf telah berprasangka tidak baik kepadamu karena tadi kau telah melepas bajumu dan kemudian pergi lagi. Aku mengira kamu akan pergi kerumah istrimu yang lain maka tadi aku mengikutimu”. Rasulullah menjawab” Wahai istriku sungguh dirimu telah dikuasai oleh syaitan dengan prasangka jelekmu itu maka beristighfarlah kamu dan meminta perlindungan dari Allah”. Lalu Aisyah r.a pun beristighfar dan memohon perlindungan kepada Allah. Kemudian ia bertanya “Wahai Rasulullah , apakah syaitan juga senantiasa mengganggumu seperti umatmu yang lain ? “. Jawab Rasulullah SAW “Ya syaitan juga berusaha menggangguku tapi aku selalu dapat mengalahkannya berkat pertolongan dari Tuhanku”.</p>
<p>Itulah romantika rumah tangga Rasulullah SAW yang pernah dibina dengan seorang wanita paling alim, paling cerdas dan paling paham perkara sunnah ternyata juga diselingi dengan bumbu bumbu cobaan dan ujian. Dan Rasulullah SAW senantiasa bisa mengatasi permasalahan yang terjadi dirumah tangganya. Bila rumah tangga Rasulullah saja pernah diwarnai dengan berbagai persoalan dan permasalahan maka bagaimana dengan kita yang dhoif ini ?. Disinilah letaknya untuk menjadikan kita semangat dalam menuntut ilmu. Karena modal utama seseorang yang hendak berumah tangga adalah modal ilmu. Rasulullah pernah bersabda “Barang siapa yang ingin bahagia didunia maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa yang ingin bahagia diakhirat maka hendaklah dengan ilmu. Dan barang siapa yang ingin bahagia di dunia dan akhirat maka hendaklah dengan ilmu.”. semoga bermanfaat, wallahu’alam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/sebagian-wajah-rumah-tangga-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu ?</title>
		<link>http://kisahislami.com/kenapa-pada-hari-ini-tidak-kau-berikan-gelas-itu/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/kenapa-pada-hari-ini-tidak-kau-berikan-gelas-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 05:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummul Mukminin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Pernah suatu hari Rasulullah SAW pulang dari perjalanan jihad fisabilillah. Beliau pulang diiringi para sahabat. Di depan pintu gerbang kota Madinah nampak Aisyah r.a sudah menunggu dengan penuh kangen. Rasa rindu kepada Rasulullah SAW sudah sangat terasa. Akhirnya Rasulullah SAW tiba juga ditengah kota Madinah. Aisyah r.a dengan sukacita menyambut kedatangan suami tercinta. Tiba Rasulullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah suatu hari Rasulullah SAW pulang dari perjalanan jihad fisabilillah. Beliau pulang diiringi para sahabat. Di depan pintu gerbang kota Madinah nampak Aisyah r.a sudah menunggu dengan penuh kangen. Rasa rindu kepada Rasulullah SAW sudah sangat terasa. Akhirnya Rasulullah SAW tiba juga ditengah kota Madinah. Aisyah r.a dengan sukacita menyambut kedatangan suami tercinta. Tiba Rasulullah SAW dirumah dan beristirahat melepas lelah. Aisyah dibelakang rumah sibuk membuat minuman untuk Sang suami. Lalu minuman itupun disuguhkan kepada Rasulullah SAW. Beliau meminumnya perlahan hingga hampir menghabiskan minuman tersebut tiba tiba Aisyah berkata “ Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?”. Rasulullah SAW diam dan hendak melanjutkan meminum habis air digelas itu. Dan Aisyah bertanya lagi, Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?”Akhirnya Rasulullah SAW memberikan sebagian air yang tersisa di gelas itu Aisyah r.a meminum air itu dan ia langsung kaget terus memuntahkan air itu.Ternyata air itu terasa asin bukan manis. Aisyah baru tersadar bahwa minuman yang ia buat dicampur dengan garam bukan gula. Kemudian Aisyah r.a langsung meminta maaf kepada Rasulullah.</p>
<p>Itulah sebagian dari banyaknya kemuliaan akhlak Rasulullah SAW. Dia memaklumi kesalahan yang dilakukan oleh istrinya, tidak memarahinya atau menasihatinya dengan kasar. Rasulullah SAW memberi kita teladan bahwasanya akhlak yang mulia bisa kita mulai dari lingkungan terdekat dengan kita. Sebuah hadits menyebutkan, “ Lelaki yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya”. Semoga kita diberi taufik untuk bisa meneladani akhlak Rasulullah SAW</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>&#8221; P.E.N.T.I.N.G U.N.T.U.K D.I.B.A.C.A&#8221;</strong></span><span style="color: #0000ff"><strong><br />
Untuk para sahabat yang ingin penghasilan halal dan modal Punya Handphone &amp; bisa ber-sms (program ini tidak memotong pulsa dan tidak mengharuskan transfer uang)</strong></span>. <span style="color: #0000ff"><strong>Silakan bergabung bersama saya.</strong></span><span style="color: #0000ff"><strong> Klik</strong></span> <span style="color: #ff0000"><a href="http://www.topdeh.com/?id=10056284"><span style="color: #ff0000">http://www.topdeh.com</span></a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/kenapa-pada-hari-ini-tidak-kau-berikan-gelas-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

