<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kisah Islami</title>
	<atom:link href="http://kisahislami.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kisahislami.com</link>
	<description>Kisah Teladan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 01:10:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Kewajiban Bersyukur</title>
		<link>http://kisahislami.com/kewajiban-bersyukur/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/kewajiban-bersyukur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 01:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Umat Terdahulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Banyak dari kita yang hafal Al-Qur`an, namun sedikit saja yang memahami maknanya. Pernahkah kita terpikir untuk menyelami makna ayat-ayat Al-Qur`an? Ada satu ayat di dalam surat Al-Fatihah yang sejatinya membuat kita merendahkan hati, mengingatkan kita bahwa berterimakasih dan bersyukur kepada Allah adalah sebuah kewajiban. Untuk berterimakasih kepada Allah, pertama-tama kita harus mengingat akan karunia yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak dari kita yang hafal Al-Qur`an, namun sedikit saja yang memahami maknanya. Pernahkah kita terpikir untuk menyelami makna ayat-ayat Al-Qur`an? Ada satu ayat di dalam surat Al-Fatihah yang sejatinya membuat kita merendahkan hati, mengingatkan kita bahwa berterimakasih dan bersyukur kepada Allah adalah sebuah kewajiban. Untuk berterimakasih kepada Allah, pertama-tama kita harus mengingat akan karunia yang telah kita dapatkan, dan kita pun harus menyadari bahaya yang timbul dikarenakan kita tidak bersyukur. Selanjutnya adalah bagaimana caranya untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada-Nya.</p>
<p>Allah SWT menyediakan ruang dan kondisi agar manusia bisa melanjutkan hidup. Jarak bumi dari matahari memungkinkan ada dan berlangsungnya kehidupan di planet ini. Satu jarak dari matahari, yang jika lebih dekat akan membuat makhluk hidup di atasnya akan terpanggang kepanasan; dan jika lebih jauh, akan membeku kedinginan. Diciptakan-Nya lintasan bumi berbentuk elips dengar gravitasi yang tepat terukur, tidak bundar, agar ia tidak tersedot atau terpental dari matahari yang juga berputar. Bulan dijadikan-Nya sebagai satelit bumi untuk melindunginya dari serangan komet dan sejenisnya dan menjadikan kecepatan gerak putar bumi tetap stabil. Diberikan-Nya bumi, gaya gravitasi yang tepat, agar ketika berjalan kita tidak melayang atau tersedot</p>
<p>Betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. dlm realita kehidupan kita menemukan keadaan yg memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dlm keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncak adl menyamakan pemberi ni’mat dgn makhluk yg keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala</p>
<p>Ketahuilah bahwa keni’matan yg berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakan manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia utk sebuah kemuliaan bagi dan menjadikan segala ni’mat itu sebagai perantara utk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adl utk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja sebagaimana hal ini disebutkan dlm firman-Nya:<br />
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.”</p>
<p>Berikut kisah menarik tentang pandangan bersyukur yang pernah terjadi pada Bani Israil.</p>
<p>Umat Nabi Musa a.s. disebut dengan Bani Israil. Kaum ini keturunan dari Nabi Ishaq a.s yang merupakan anak dari Nabi Ibrahim a.s dari pihak ibu yaitu siti Sarah, sedangkan dari Nabi Ismail a.s yang beribukan Siti Hajar maka kelak akan melahirkan keturunan bangsa Arab. Nabi Musa a.s memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa a.s.. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa a.s., &#8220;Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar Allah s.w.t. menjadikan aku orang yang kaya.&#8221; Nabi Musa a.s. tersenyum dan berkata kepada orang itu, &#8220;Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah s.w.t.&#8221;. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, &#8220;Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja&#8221;!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa a.s.. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa a.s., &#8220;Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.&#8221; Nabi Musa a.s.pun tersenyum, lalu ia berkata, &#8220;Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah s.w.t.&#8221;. &#8220;Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah s.w.t.?. Allah s.w.t. telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah s.w.t. telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya&#8221;, jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah s.w.t. tambah kekayaannya kerana ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah s.w.t. mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua kerana ia tidak mau bersyukur kepada Allah s.w.t.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/kewajiban-bersyukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersenda Gurau</title>
		<link>http://kisahislami.com/bersenda-gurau-2/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/bersenda-gurau-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 01:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya tertawa dan bersenda-gurau itu sesuatu yang diperbolehkan di dalam Islam, sebagaimana dinyatakan oleh nash-nash qauliyah maupun sikap dan perilaku Rasulullah SAW serta perilaku para sahabat. Berbagai jenis permainan dan hiburan juga dapat berfungsi untuk menumbuhkan semangat jiwa, sehingga dapat menjalani kehidupan didunia ini dalam menempuh perjuangan yang panjang Senda gurau mungkin ibarat makanan sehari-hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya tertawa dan bersenda-gurau itu sesuatu yang  diperbolehkan di dalam Islam, sebagaimana dinyatakan oleh nash-nash  qauliyah maupun sikap dan perilaku Rasulullah SAW serta perilaku para  sahabat.</p>
<p>Berbagai jenis permainan dan hiburan juga dapat berfungsi untuk  menumbuhkan semangat jiwa, sehingga dapat menjalani kehidupan didunia  ini dalam menempuh perjuangan yang panjang</p>
<p>Senda gurau mungkin ibarat makanan sehari-hari bagi sebagian orang,  terutama mereka yang suka humor/ humoris. Tidak jarang senda gurau yang  mereka lontarkan menyentuh hal-hal yang tidak baik, tetapi sekali lagi  mereka tetap mendapatkan tawa dari semua itu, entah apapun bahan senda  gurau. Karena itu Rasulullah memberi pelajaran berharga dalam beretika  dengan sabdanya “S<em>esungguhnya di antara orang-orang yang paling aku  cintai serta paling dekat denganku pada hari kiamat nanti adalah orang  yang paling bagus akhlaknya. Sesungguhnya orang yang paling aku benci di  antara kalian serta paling jauh dariku pada hari kiamat adalah orang  yang cerewet, bermulut besar dan mutafaiqihun.</em> ” Para sahabat bertanya, ” <em>Wahai Rasulullah, kami sudah tahu apa itu cerewet dan bermulut besar, tapi apakah itu mutafaiqihun</em>?” Beliau menjawab, ” <em>Orang-orang yang sombong</em>.” (HR. At-Tirmidzi)</p>
<p>Rasulullah <em>SAW </em> melakukan senda gurau untuk sebuah maslahat, yaitu menyenangkan hati lawan bicara dan beramah tamah dengannya. “<em>Sesungguhnya aku juga bercanda namun aku tidak berkata kecuali yang benar.</em>” (HR. Ath-Thabrani</p>
<p>Rasulullah s.a.w. bergaul dengan semua orang. beliau s.a.w menerima  hamba, orang buta, dan anak-anak. Rasulullah s.a.w. bergurau dengan anak  kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua.  Akan tetapi Rasulullah s.a.w. tidak berkata kecuali yang benar saja.<br />
Suatu hari seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata, &#8220;Ya Rasulullah! Naikkan saya ke atas unta&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta&#8221;, kata Rasulullah s.a.w.. &#8220;Ia  tidak mampu&#8221;, kata perempuan itu. &#8220;Tidak, aku akan naikkan engkau ke  atas anak unta&#8221;.&#8221;Ia tidak mampu&#8221;.Para sahabat yang berada di situ  berkata, &#8220;Bukankah unta itu juga anak unta?&#8221;</p>
<p>Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah s.a.w.: &#8220;Ya  Rasulullah, doakanlah kepada Allah s.w.t. agar aku dimasukkan ke dalam  syurga&#8221;. &#8220;Wahai ummi fulan, syurga tidak dimasuki oleh orang tua&#8221;.  Perempuan itu lalu menangis.<br />
Rasulullah s.a.w. menjelaskan, &#8220;Tidakkah kamu membaca firman Allah s.w.t. ini:</p>
<p>&#8220;Serta kami telah menciptakan isteri-isteri mereka dengan ciptaan  istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak  pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya  umurnya&#8221;.</p>
<p><strong>Tapi mesti ingat bahwa banyak tertawa akan mematikan hati. </strong>Dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin karangan Imam Ghazali, beliau menulis “<em>Asalnya senda gurau itu tercela dan terlarang, kecuali sekadar sedikit yang dapat dikecualikan daripadanya.</em>”</p>
<p>Ini berdasarkan hadis Rasulullah S.A.W.:<br />
Maksudnya: “<em>Jangan engkau berbantahan dan bergurau dengan saudaramu!</em>”</p>
<p>Lebih lanjut Imam Ghazali menulis, “<em>Adapun berlebih-lebihan ketika  bergurau, maka akan menyebabkan banyak tertawa. Dan banyak tertawa itu  mematikan hati dan mewarisi kedengkian pada setengah keadaan. Dan  menjatuhkan kehebatan diri dan kemuliaan. Dan apa yang terlepas dari  hal-hal tersebut, maka tidak tercela.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Akhir kata marilah kita renungkan hadits dari Rasulullah SAW “</em>“<em>Hendaklah  kamu jujur. Sesungguhnya kejujuran menunjuk kepada kebaikan. Dan  kebaikan menunjuk kepada syurga. Seorang lelaki terus jujur dan mencari  kejujuran sehinggalah dia dicatatkan di sisi Allah sebagai seorang yang  sangat jujur. Berwaspadalah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta menunjuk  kepada kejahatan. Dan kejahatan menunjuk kepada neraka. Seorang lelaki  terus berdusta dan mencari pendustaan sehingga dia dicatat di sisi Allah  sebagai seorang yang sangat berdusta”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/bersenda-gurau-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebagian dari mukjizat Rasulullah SAW</title>
		<link>http://kisahislami.com/sebagian-dari-mukjizat-rasulullah-saw-2/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/sebagian-dari-mukjizat-rasulullah-saw-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 01:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah SAW dalam setiap langkah dan geraknya senantiasa mendapat wahyu dari Allah SWT. Tidak ada sesuatupun yang terucap atau diperbuat oleh Rasulullah SAW kecuali dalam bingkai wahyu dari Allah SWT. Peristiwa peristiwa yang terjadi berikut ini merupakan bagian dari mukjizat kenabian yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW dan dilihat oleh sahabat.Melihat mukjizat merupakan suatu pengalaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah SAW dalam setiap langkah dan geraknya senantiasa mendapat wahyu dari Allah SWT. Tidak ada sesuatupun yang terucap atau diperbuat oleh Rasulullah SAW kecuali dalam bingkai wahyu dari Allah SWT. Peristiwa peristiwa yang terjadi berikut ini merupakan bagian dari mukjizat kenabian yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW dan dilihat oleh sahabat.Melihat mukjizat merupakan suatu pengalaman yang menakjubkan dan diluar akal sehat. Peristiwa yang langka tersebut akan susah dipahami oleh insane yang lemah kadar keimanannya.</p>
<p>Dikisahkan bahwa pada suatu hari Sahabat Uqail bin Abi Thalib r.a pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad s.a.w. Didalam perjalanan itu Rasulullah hendak buang hajat dan menambil air wudhu sedangkan didaerah tersebut tidak ada tempat tertutup yang bisa dijadikan untuk membuang hajat. Maka Rasulullah s.a.w. berkata kepada Uqail, &#8220;Hai Uqail teruslah engkau berjalan sampai ke pohon pohon itu, dan berkatalah kepadanya, bahawa sesungguhnya Rasulullah berkata; &#8220;Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi tabir penutup baginya, kerana sesungguhnya Rasulullah akan mengambil air wudhu dan buang air besar.&#8221;</p>
<p>Maka Uqail bin Abi Thalib segera pergi menjalankan perintah Rasulullah SAW tapi sebelum tiba diantara pepohonan itu ternyata pohon pohon itu telah berpindah dengan sendirinya dan berkeliling mengitari Rasulullah SAW hingga beliau selesai menunaikan hajatnya dan kembali berwudhu.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan dengan melewati sebuah gunung yang tandus dan kering. Hampir tidak ada pepohonan disekitar daerah itu dan hanya ada sedikit semak belukar kering menghiasi sekitar dataran rendah digunung itu dan tak ada seorang pengembala yang lewat untuk mengembalakan ternaknya disana.Uqail pun meerasa haus dan setelah mencari air ke mana pun namun tidak ditemui. Maka Rasulullah s.a.w. berkata kepada Uqail bin Abi Thalib, &#8220;Hai Uqail, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan, &#8220;Jika padamu ada air, berilah aku minum!&#8221;</p>
<p>Uqail lalu pergi mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah s.a.w. itu. Hal yang ajaibpun terjadi, sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, &#8220;Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah s.w.t.  menurunkan ayat yang bermaksud : (&#8220;Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (siksa) api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu).&#8221; &#8220;Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku.&#8221;</p>
<p>Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan dan memasuki desa arab kampung. Ketika sedang asik asiknya melepas lelah tiba-tiba ada seekor  unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah s.a.w., maka unta itu lalu berkata, &#8220;Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu.&#8221; Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus, Nabi Muhammad s.a.w. berkata, &#8220;Hendak apakah kamu terhadap unta itu ?&#8221;</p>
<p>Orang arab kampong itu menjawab, &#8220;Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harga yang mahal, tetapi dia tidak mau taat kepadaku, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya atau kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan.&#8221; Nabi Muhammad s.a.w. bertanya, &#8220;Mengapa engkau menderhakai dia?&#8221; Jawab unta itu, &#8220;Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perilakunya yang buruk. yaitu kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, semua pada tidur meninggalkan solat Isya&#8217;. Kalau sekiranya dia mau berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isya&#8217; itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah s.w.t.  menurunkan siksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka.&#8221;</p>
<p>Akhirnya Nabi Muhammad s.a.w. mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya&#8217;. Dan Baginda Nabi Muhammad s.a.w. menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.</p>
<p>Semoga tiga peristiwa yang menakjubkan dan penuh ibroh ini makin menambah rasa taqwa dan syukur kita kepada Allah SWT.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/sebagian-dari-mukjizat-rasulullah-saw-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Seekor Semut</title>
		<link>http://kisahislami.com/doa-seekor-semut/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/doa-seekor-semut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Umat Terdahulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu Nabi Sulaiman a.s sedang berpatroli menyusuri kerajaannya yang sedang mengalami musim kemarau berkepanjangan. Sudah berbulan bulan para petani mengalami gagal panen. Sumur sumur sebagai sumber air sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari sehari untuk minum, memasak dan untuk membersihkan badan. Hewan hewan ternak sudah tinggal kulit dan tulang dan kalaupun dipotong maka sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu Nabi Sulaiman a.s sedang berpatroli menyusuri kerajaannya yang sedang mengalami musim kemarau berkepanjangan. Sudah berbulan bulan para petani mengalami gagal panen. Sumur sumur sebagai sumber air sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari sehari untuk minum, memasak dan untuk membersihkan badan. Hewan hewan ternak sudah tinggal kulit dan tulang dan kalaupun dipotong maka sudah tidak bisa didapatkan daging sebagai bahan makanan. Anak anak kecil pada lari bertelanjang karena bahan baku kapas untuk membuat pakaian sudah sulit didapatkan.</p>
<p>Nabi Sulaiman a.s. mulai didatangi oleh ummatnya untuk dimintai pertolongan dan memintanya memohon kepada Allah s.w.t. agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun,sawah sawah, sungai-sungai dan sumur sumur mereka. Maka kemudian Nabi Sulaiaman a.s mengeluarkan perintah untuk semua rakyatnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia untuk berkumpul di lapangan yang terletak ditengah kota untuk berdo&#8217;a memohon kepada Allah s.w.t. agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun.</p>
<p>Keesokan pagi harinya lapangan besar yang terletak ditengah kota telah dipenuhi oleh rakyat Nabi Sulaiman a.s, mereka sudah siap bermunajat dibawah pimpinan Nabi Sulaiman a.s untuk segera memohon kepada Allah agar musim paceklik bisa segera berakhir. Sesampainya Nabi Sulaiman a.s. di hadapan rakyatnya dia melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu dalam keadaan hampir sekarat karena haus dan menahan lapar. Nabi Sulaiman a.s. kemudian mendengar sang semut mulai berdoa memohon kepada Allah s.w.t. Zat yang menunaikan segala hajat seluruh makhluk-Nya. &#8220;Ya Allah pemilik segala kekayaan, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Allah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air-Mu, kabulkanlah permohonanku&#8221;, demikian do&#8217;a sang semut kepada Allah s.w.t. Mendengar doa si semut maka Nabi Sulaiman a.s.kemudian segera memerintahkan rakyatnya untuk kembali pulang ke rumah masing masing dan berkata kepada rombongan kerajaan &#8220;Kita segera pulang, sebentar lagi Allah s.w.t. akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah s.w.t. telah mengabulkan permohonan seekor semut&#8221;. Kemudian Nabi Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan.</p>
<p>Dilain hari saat Nabi Sulaiman a.s. sedang berjalan-jalan mengecek keadaan rakyatnya Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Nabi Sulaiman a.s terus mengikutinya dan kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya: &#8220;Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab,” Ini adalah kurma yang Allah s.w.t. berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun.” Nabi Sulaiman a.s. kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, &#8220;Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini, dan aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu&#8221;. Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman a.s.. Setahun telah berlalu. Nabi Sulaiman a.s. datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Nabi Sulaiman a.s. bertanya kepada si semut, &#8220;Hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu?&#8221;. Si semut menjawab &#8220;Wahai Nabiyullah, aku selama ini hanya menghisap air nya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah s.w.t. yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi karana engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak), jawab si semut. “</p>
<p>Allah khaliq, Allah malik, Allah Raziq…Allah yang menciptakan, Allah yang memelihara, Allah yang memberi rezeki. Allah yang Kuasa,makhluk tak kuasa, Allah yang menciptakan suasana dan keadaan dan Allah maha berkehendak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/doa-seekor-semut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah untuk Umar bin Khattab r.a</title>
		<link>http://kisahislami.com/hadiah-untuk-umar-bin-khattab-r-a/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/hadiah-untuk-umar-bin-khattab-r-a/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 04:03:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Umar bin Khattab r.a adalah salah satu sahabat yang menjadi mertua dari Rasulullah SAW. Sewaktu anaknya yaitu Hafsah r.a hendak dicarikan jodoh maka Umar bin Khattab menawarkannya kepada Abu Bakar As Shiddiq r.a dan Utsman bin Affan r.a tapi kedua sahabat utama itu diam saja tidak menyambut tawaran Umar. Dalam hati Umar bin Khattab merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Umar bin Khattab r.a adalah salah satu sahabat yang menjadi mertua dari Rasulullah SAW. Sewaktu anaknya yaitu Hafsah r.a hendak dicarikan jodoh maka Umar bin Khattab menawarkannya kepada Abu Bakar As Shiddiq r.a dan Utsman bin Affan r.a tapi kedua sahabat utama itu diam saja tidak menyambut tawaran Umar. Dalam hati Umar bin Khattab merasa sedih karena dua orang sahabat itu yang paling dianggap sekufu dengan anak perempuannya yang bernama Hafsah tidak menyambut tawarannya. Maka ia pergi mengadukan dua orang sahabatnya itu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tersenyum menanggapi pengaduan Umar bin Khattab r.a dan berkata,” Sesungguhnya Hafsah akan memperoleh suami yang lebih baik dari Utsman dan Utsman akan memperoleh istri yang lebih baik dari Hafsah.” Ternyata Rasulullah SAW yang meminang Hafsah untuk dijadikan istri beliau sedangkan Utsman bin Affan dinikahkan dengan puteri Rasulullah SAW yang bernama Umi Kultsum r.a</p>
<p>Sejak saat pernikahan Rasulullah SAW dengan Hafsah hati Umar bin Khattab r.a begitu bergembira, ia juga tidak merasa minder lagi bila berdampingan dengan Sahabat Abu Bakar As Shiddiq karena sahabatnya itu selain sebagai sahabat Nabi juga merangkap sebagai mertua Nabi maka kini Umar bin Khattab r.a bisa bernafas lega bisa mengikuti jejak Abu Bakar As Shiddiq r.a.</p>
<p>Semenjak Umar bin Khattab memeluk Islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani solat dan tawaf dikaabah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang wara, ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah s.a.w. , &#8220;Wahai Rasulullah s.a.w. apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya&#8221;.Rasulullah s.a.w.  menjawab, &#8220;Sudah..&#8221;!. Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah s.w.t. Kerana kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Quran yang diturunkan Allah s.w.t. berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman minuman keras, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Quran lainnya.</p>
<p>Rasulullah s.a.w. seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi&#8217;raj menghadap Allah s.w.t. Rasulullah s.a.w. sering pula menceritakan bagaimana keadaan surga yang dijanjikan Allah s.w.t. kepada sahabat-sahabatnya. Suatu hari ketika Rasulullah s.a.w. dimi&#8217;rajkan menghadap Allah s.w.t. malaikat Jibril a.s. memperlihatkan kepada Rasulullah s.a.w. taman-taman surga. Rasulullah s.a.w. melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu. Rasulullah s.a.w.  bertanya kepada Jibril a.s., &#8220;Wahai Jibril, bidadari siapakah itu&#8221;?. Malaikat Jibril a.s. menjawab, &#8220;Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar r.a.&#8221;. Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Kerana sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah s.w.t. maka saat itu juga Allah s.w.t. menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya&#8221;.</p>
<p>Inilah sebagian keutamaan dari Umar bin Khattab r.a. Allah begitu sayang kepadanya karena pengorbanannya dalam memenuhi perintah Allah yang dilaksanakan dengan kesungguhan dan tulus ikhlas. Adakah kita ingin mengikuti jejaknya..?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/hadiah-untuk-umar-bin-khattab-r-a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Juru dakwah pilihan</title>
		<link>http://kisahislami.com/juru-dakwah-pilihan/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/juru-dakwah-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 03:40:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Ubadah bin Shamit r.a adalah salah seorang tokoh kaum anshor yang hadir pada waktu Baitul Aqobah pertama.Pada waktu itu ia merupakan bagian dari dua belas orang yang berbaiat dan berjanji setia akan mengikuti dan melindungi Rasulullah SAW. Beliau seorang yang alim, amanah dan sering mendapat tugas untuk dakwah keberbagai daerah. Berbagai pertempuran yang pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sahabat Ubadah bin Shamit r.a adalah salah seorang tokoh kaum anshor yang hadir pada waktu Baitul Aqobah pertama.Pada waktu itu ia merupakan bagian dari dua belas orang yang berbaiat dan berjanji setia akan mengikuti dan melindungi Rasulullah SAW. Beliau seorang yang alim, amanah dan sering mendapat tugas untuk dakwah keberbagai daerah. Berbagai pertempuran yang pernah dipimpin Rasulullah SAW tak pernah ia tinggalkan. Semangatnya senantiasa tinggi dalam menyambut seruan jihad.</em></p>
<p><em>Telah bulat tekadnya dalam membela Islam dan mengabdikan harta, jiwa dan raganya demi tegaknya Islam. Komitmen ini senantiasa ditunjukkan dalam setiap peristiwa heroik yang pernah kaum muslimin alami. Meskipun ia dan keluarganya menjalin hubungan baik dengan kaum yahudi dari suku Qainuqa tapi bila mereka melakukan tindakan makar maka ia tak segan segan memilih Allah dan Rasulnya dalam bersekutu. Kaum yahudi mulai melakukan tindakan makar secara sembunyi sembunyi pada peristiwa perang badar dan Uhud. Dan mereka makin memperlihatkan bentuk permusuhan nyata kepada Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Tentu saja kaum yahudi merasa kaget dengan keputusan Ubadah bin Shamit r.a. Tapi Ubadah bin Shamitr.a dengan tegas berkata “</em><strong>Saya hanya akan mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman”. </strong></p>
<p><strong>Inilah yang menjadi asbabun nuzul firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 56 “</strong><em>Barang siapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman sebagai pemimpin, maka sungguh, golongan Allahlah yang akan memperoleh kemenangan.”</em></p>
<p>Dimasa pemerintahan Amirul Mukminin Umar  bin Khattab r.a sahabat Ubadah bin Shamit r.a pernah ditawari jabatan penting sebagai amir dan ia tidak mau menerimanya karena rasa takutnya kepada Allah dalam memenuhi tanggung jawab yang diembannya dan ia hanya mau menerima tugas sebagai juru dakwah dalam memberi pengajaran agama kepada masyarakat awam.</p>
<p>Memang, inilah satu-satunya usaha yang lebih diutamakan Ubadah bin Shamit r.a dari lainnya, menjauhkan dirinya dari usaha-usaha lain yang ada sangkut pautnya dengan harta benda dan kemewahan sarta kekuasaan, begitu pun dari segala bahaya yang dikhawatikan akan merusak agama dirinya. Oleh sebab itu, ia memilih berangkat ke Syria bersama dua orang kawan seperjuangannya Mu’adz bin Jabal r.a dan Abu Darda r.a. Tiada tujuan lain, kecuali mereka hendak meyebarluaskan ilmu, pengertian dan cahaya bimbingan di negeri itu.</p>
<p>Ubadah bin Shamit r.a pernah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a untuk mengingatkan anak buahnya yaitu Muawiyah yang mulai tampak senang mengumpulkan perak dan emas. Apa yang dilihatnya itu adalah sudah berlebihan dan perlu ada seseorang yang mengingatkan. Sampailah sahabat yang mulia ini mendatangi seseorang yang paling baik di bumi ini pada zaman itu yaitu Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a.</p>
<p>Amirul Mu’minin Umar adalah seorang yang memiliki kecerdasan yang tinggi dan pandangan jauh. Ia selalu menginginkan kepala-kepala daerah tidak hanya mengandalkan kecerdasannya semata dan menggunakan tanpa tanggung jawab. Terhadap orang-orang seperti Mu’awiyah dan kawan-kawannya, tidak dibiarkan begitu saja tanpa didampingi sejumlah sahabat yang zuhud dan shaleh, serta penasihat yang tulus ikhlas. Mereka bertugas membendung keinginan-keinginan yang tidak terbatas, dan selalu mengingatkan mereka akan hari-hari dan masa Rasulullah SAW.</p>
<p>Ketika Ubadah bin Shamit r.a berada di kota Madinah, Umar bin Khattab r.a bertanya, “Apa yang menyebabkan anda ke sini, wahai Ubadah?” ‘Ubadah menceritakan peristiwa yang terjadi, di antaranya dengan Muawiyah, maka kata Umar bin Khattab r.a, “Kembalilah segera ke tempat Anda. Sungguh buruk jadinya, suatu negeri yang tidak punya orang seperti anda.” Lalu kepada Muawiyah dikirim pula surat yang di antara isinya terdapat kalimat:<br />
<strong>“Tak ada kekuasaanmu sebagai amir terhadap Ubadah bin Shamit.”</strong><strong></strong></p>
<p>Maka Ubadah bin Shamit r.a menjadi kontrol terhadap kebijaksanaan kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh Muawiyah menjadi pagar terhadap setiap keputusan amir wilayah agar tidak melanggar hak orang lain dan menjadi payung supaya hak hak rakyat dapat diperhatikan dengan sungguh sungguh oleh amir wilayah.</p>
<p>Inilah salah satu sosok didikan langsung dari Rasulullah saw, penuh zuhud dan ketaqwaan, tidak silau oleh gemerlap dinar dan dirham dan dirinya senantiasa mengisi hari harinya dengan cahaya keislaman yang terpatri kuat disanubarinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/juru-dakwah-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengobar Semangat Jihad</title>
		<link>http://kisahislami.com/pengobar-semangat-jihad/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/pengobar-semangat-jihad/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 05:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu dua pasukan sedang berhadapan dalam pertempuran penentuan antara Haq dan Bathil. Sengatan mentari yang membuat keringat meleleh tiada henti tak menggeser secuilpun niat kedua belah pihak untuk mundur. Debu padang pasir yang menari nari seolah menjadi jamuan resmi tentang pesta bersimbah darah yang sebentar lagi akan digelar. Teriknya matahari yang silau bertambah kemilau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu dua pasukan sedang berhadapan dalam pertempuran penentuan antara Haq dan Bathil. Sengatan mentari yang membuat keringat meleleh tiada henti tak menggeser secuilpun niat kedua belah pihak untuk mundur. Debu padang pasir yang menari nari seolah menjadi jamuan resmi tentang pesta bersimbah darah yang sebentar lagi akan digelar. Teriknya matahari yang silau bertambah kemilau ketika ribuan pedang telah terhunus lepas dari sarungnya. Makin mencekam ketika sejumlah pasukan menutupi wajahnya dengan selendang dan dibalut dengan tali ikatan yang sangat kencang. Inilah simbol keberanian yang hanya akan ditukar dengan kemenangan atau kematian.</p>
<p>Disebelah kanan sejumlah besar pasukan muslim dibawah komando Khalid bin Walid r.a dengan telinga sudah gatal mendengar teriakan “Allahu  Akbar” dari sang Jenderal. Sementara disebelah kiri pasukan murtad pimpinan Musailamah Al AKadzab sudah siap dengan semua barisan pertahanan terbaik yang mereka miliki. Kini medan laga Yamamah akan menjadi saksi salah satu pertempuran sengit yang pernah ditulis dalam tarikh Islam.Dibarisan depan pasukan muslimin ada sosok yang sudah tidak tahan memacu kudanya untuk menerjang pasukan musuh. Tapi karena makmum harus taat kepada amir maka ia masih juga memaksa menahan semangat jihad yang sudah menyala nyala. Dia adalah Barra bin Malik r.a</p>
<p>Telinga Barra bin Malik r.a sudah sangat kesal dengan kebohongan dan fitnah yang diciptakan oleh Musailamah Si Pembohong. Kini matanya lincah mencari tempat yang paling cocok untuk menghabisi pasukan murtad. Tangan kirinya sudah terkunci mati memegang tali kekang kuda sedangkan tangan kanannya sudah menunjuk keatas dengan ditemani pedang kecintaannya. Tak ada yang bisa menyurutkan semangat jihad yang kini sudah ia ada di dalam gelanggang pertarungan itu. Ia hanya mencari satu kata yaitu syahid. Ia sudah rindu dengan temannya di Badar dan Uhud.</p>
<p>Kepahlawanan Barra’ di medan perang Yamamah wajar dan cocok dengan watak serta tabiatnya. Wajar untuk seorang pahlawan yang sampai-sampai Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a berpesan agar ia jangan jadi komandan pasukan, disebabkan keberaniannya yang luar biasa, keperwiraan dan ketetapan hatinya menghadang maut.Semua sifatnya itu akan menyebabkan kepemimpinannya dalam pasukan membahayakan anak buahnya dan dapat membawa kebinasaan.</p>
<p>Kini pertempuran telah pecah. Pedang bertemu pedang. Tombak bertemu tombak. Dan anak panah terus beterbangan diatas padang pasir menembus debu yang pekat.Suara ringkikan kuda makin menambah hiruk pikuk suasana medan Yamamah. Diawal pasukan islam berhasil memukul mundur pasukan murtad dan beberapa tokoh mereka berhasil dijatuhkan oleh pedang kaum muslimin. Tapi pasukan murtad Musailamah adalah pasukan elite yang terlatih bertempur dan biasa memenangkan pertempuran sehingga beberapa kali pasukan murtad berhasil mengecoh pasukan muslimin. Keadaan makin genting ketika semangat tempur kaum muslimin mulai kendur. Serangan yang bertubi tubi mereka lancarkan kepada kaum murtad bisa dipatahkan.</p>
<p>Melihat gelagat akan kekalahan pasukannya maka Panglima Khalid bin Walid mencari ide. Ditengah berkecamuknya perang yang melelahkan itu ia melihat sosok Barra bin Malik r.a yang tetap menunjukkan semangat juang tak kenal mati. Kini Panglima Khalid tahu betul apa yang harus ia lakukan. Segera ia memacu kudanya kearah Barra bin Malik dan memerintahkan ia supaya mengobarkan semangat juang yang nampak telah kendur.</p>
<p>Maka Barra bin Malik pun menyerukan kata-kata yang penuh gemblengan semangat dan kepahlawanan full power “Wahai penduduk Madinah !! Tak ada Madinah bagi kalian sekarang. Yang ada hanya Allah dan surga… !”</p>
<p>Ucapan itu menunjukkan jiwa pembicaranya, dan menjelaskan watak akhlaqnya. Benarlah , yang tinggal hanyalah Allah dan surga! Karena di dalam suasana dan tempat seperti ini, tidaklah wajar ada fikiran-fikiran kepada yang lain walau kota Madinah, ibu kota Negara Islam, tempat rumah tangga, isteri dan anak-anak mereka! Sekarang tidak patut mereka berfikir ke sana! Sebab bila mereka sampai dikalahkan, maka tak ada artinya kota Madinah lagi… !</p>
<p>Kata kata ini bagai kayu bakar yang kembali menyulut api yang hampir padam. Pasukan Islam kembali menekan pasukan murtad dan terus melakukan serangan ke jantung pertahanan musuh. Pasukan murtad mundur ke belakang dan mencari tempat perlindungan.</p>
<p>Pasukan kaum muslimin terus mendesak dan melakukan tekanan. Kobaran semangat terus Barra bin Malik suarakan. Deru pacu kuda makin kencang dilakukan. Dan ayunan pedang makin cepat menangkap korban. Kaum murtad pun kalah telak dalam pertempuran penentuan bagi kekalahan Musailamah dan antek anteknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/pengobar-semangat-jihad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan dari Rasulullah SAW</title>
		<link>http://kisahislami.com/pendidikan-dari-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/pendidikan-dari-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 01:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Sirah Nabi telah mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip pendidikan, yaitu pentingnya anak-anak memiliki percaya diri, mandiri dan mampu mengemban tanggungjawab di usia dini. Inilah problematika kita sekarang, anak-anak kita kehilangan sikap percaya diri, mandiri dan mental dewasa. Kita berhajat untuk mengingat peristiwa di mana Muhammad saw. menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan kaum muslimin, meskipun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sirah Nabi telah mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip pendidikan, yaitu pentingnya anak-anak memiliki percaya diri, mandiri dan mampu mengemban tanggungjawab di usia dini. Inilah problematika kita sekarang, anak-anak kita kehilangan sikap percaya diri, mandiri dan mental dewasa.<br />
Kita berhajat untuk mengingat peristiwa di mana Muhammad saw. menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan kaum muslimin, meskipun usianya masih muda belia. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun (16), padahal ada orang yang lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya, seperti Abu bakar, Umar radhiyallahu anhum. Kenapa Muhammad melakukan hal demikian? Adalah karena beliau ingin mengajarkan kepada Zaid rasa percaya diri, dan agar menghilangkan anggapan sebagian orang bahwa Zaid tidak mampu, sekaligus sebagai pembelajaran bagi generasi masanya untuk peduli dengan problematika umat dan berkontribusi menyelesaikannya.</p>
<p><strong>Sikap dan Perilaku</strong></p>
<p>Muhammad saw. mengajarkan dasar-dasar ajaran agama yang lurus kepada anak-anak sejak dini. Beliau mendorong mereka untuk mempelajari etika umum dan perilaku lurus yang orang Barat sekarang menamakannya sebagai ”Seni Etika”.<br />
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah, ia berkata: ”Ketika saya masih kecil di asuhan Rasulullah, saya hendak meraih makanan di nampan, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang terdekat dari kamu.”<br />
Ketika Husain ra, cucu Nabi hendak makan kurma dari hasil sedekah, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Jangan, jangan. Bukankah kamu tahu, bahwa tidak halal bagi kita -keluarga NAbi- sedekah seseorang?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/pendidikan-dari-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Cinta Putri Pemimpin Para Nabi</title>
		<link>http://kisahislami.com/kisah-cinta-putri-pemimpin-para-nabi/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/kisah-cinta-putri-pemimpin-para-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 07:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda, tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama. Tersebutlah kisah tentang putri pemimpin para nabi. Terlahir dari rahim ibundanya, seorang wanita bangan Quraisy, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyyah radhiallahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda, tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama.</p>
<p>Tersebutlah kisah tentang putri pemimpin para nabi. Terlahir dari rahim ibundanya, seorang wanita bangan Quraisy, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyyah radhiallahu ‘anhu, saat ayahnya memasuki usia tiga puluh tahun. Dia bernama <strong><em>Zainab radhiallahu ‘anha bintu Muhammad bin ‘Abdillah</em></strong> Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Semasa hidup ibunya, sang putri yang menawan ini disunting oleh seorang pemuda, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid, saudari perempuan Khadijah. Ketika itu, Khadijah radhiallahu ‘anha menghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya. Dari pernikahan itu, lahir Umamah dan ‘Ali, dua putra-putri Abul ‘Ash.</p>
<p>Tatkala cahaya Islam merebak, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka hati Zainab radhiallahu ‘anha untuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yang berbeda…</p>
<p>Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab, namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi, Zainab radhiallahu ‘anha masih pula tertahan untuk bertolak ke bumi hijrah.</p>
<p>Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terukir peristiwa Badr. Dalam pertempuran itu, terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.</p>
<p>Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab radhiallahu ‘anha untuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenang pada Khadijah radhiallahu ‘anha yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat, “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan, lakukanlah hal itu.” Para shahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!”</p>
<p>Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu.</p>
<p>Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu bersama salah seorang Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab, lalu bawalah dia kemari.”</p>
<p>Berpisahlah Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas jalan Islam, meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan.</p>
<p>Menjelang peristiwa Fathu Makkah, Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, rombongan itu bertemu dengan seratus tujuhpuluh orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu, namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri.</p>
<p>Ketika gelap malam merambah, Abul ‘Ash dengan diam-diam menemui istrinya, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk meminta perlindungan.</p>
<p>Subuh tiba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat berdiri menunaikan Shalat Shubuh. Saat itu, Zainab radhiallahu ‘anha berseru dengan suara lantang, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’!”</p>
<p>Usai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap pada para shahabat sembari bertanya, “Kalian mendengar apa yang aku dengar?” “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apa pun sampai aku mendengar apa yang baru saja kalian dengar.”</p>
<p>Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui putrinya dan berpesan, “Wahai putriku, muliakanlah dia, namun jangan sekali-kali dia mendekatimu karena dirimu tidak halal baginya.” Zainab radhiallahu ‘anha menjawab, “Sesungguhnya dia datang semata untuk mencari hartanya.”</p>
<p>Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pasukan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu dan berkata pada mereka, “Sesungguhnya Abul ‘Ash termasuk keluarga kami sebagaimana kalian ketahui, dan kalian telah mengambil hartanya sebagai fai’ yang diberikan Allah kepada kalian. Namun aku ingin kalian berbuat kebaikan dan mengembalikan harta itu kepadanya. Akan tetapi kalau kalian enggan, maka kalian lebih berhak atas harta itu.” Para shahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami akan kembalikan harta itu padanya.”</p>
<p>Seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya dan tidak berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah pada pemiliknya. Lalu dia bertanya, “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?” Mereka menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan yang baik padamu. Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.” Abul ‘Ash pun kemudian menegaskan, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya! Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu, kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing, aku masuk Islam.” Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah, hingga bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Islam.</p>
<p>Enam tahun bukanlah rentang waktu yang sebentar. Akhir penantian yang sekian lama pun menjelang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan putri tercintanya, Zainab radhiallahu ‘anhu kepada suaminya, Abul ‘Ash bin Ar- Rabi’ radhiallahu ‘anhu, dengan nikahnya yang dulu dan tanpa menunaikan kembali maharnya. Dua insan kini bersama meniti jalan mereka …</p>
<p>Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan taqdir-Nya. Tak lama setelah pertemuan itu, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke hadapan Rabb-nya, pada tahun kedelapan setelah hijrah, meninggalkan kekasihnya untuk selamanya.</p>
<p>Di antara para shahabiyyah yang memandikan jenazahnya, ada Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha. Darinya terpapar kisah dimandikannya jenazah Zainab radhiallahu ‘anha, sesuai perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan guyuran air bercampur daun bidara. Seusai itu, rambut Zainab radhiallahu ‘anha dijalin menjadi tiga jalinan. Jenazahnya dibungkus dengan kain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putri pemimpin para nabi itu telah pergi…</p>
<p><strong>Sumber :</strong><br />
- Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/kisah-cinta-putri-pemimpin-para-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud</title>
		<link>http://kisahislami.com/abdullah-ibnu-masud/</link>
		<comments>http://kisahislami.com/abdullah-ibnu-masud/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 09:39:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahislami.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[  Dia adalah seorang sahabat Nabi SAW yang paling merdu suaranya ketika membaca Al Qur’an. Seorang yang alim, faqih, cerdas dan terpelajar dan seseorang yang selalu menyiapkan siwak dan sandal Rasulullah SAW. Sering juga dia membentangkan kain untuk hijab bila Rasulullah SAW sedang buang hajat dan mandi atau menyiapkan air untuk wudhu kekasihnya itu. Dialah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p>Dia adalah seorang sahabat Nabi SAW yang paling merdu suaranya ketika membaca Al Qur’an. Seorang yang alim, faqih, cerdas dan terpelajar dan seseorang yang selalu menyiapkan siwak dan sandal Rasulullah SAW. Sering juga dia membentangkan kain untuk hijab bila Rasulullah SAW sedang buang hajat dan mandi atau menyiapkan air untuk wudhu kekasihnya itu. Dialah Abdullah Ibnu Mas’ud.Suatu hari beliau SAW berkata kepadanya : “Bacakanlah kepadaku Al-Quran”, Abdullah bin Mas’ud berkata : saya membacakan Al-Quran atasmu sementara Al-Quran turun kepadamu ? Beliau SAW bersabda : “Aku sangat senang mendengar ayat Al-Quran dari selainku”, maka beliaupun membaca surat An-Nisa, maka Rasulullah SAW pun menangis dan berkata kepadanya : Cukuplah sampai disitu !” (HR Bukhari).</p>
<p>Abdullah Ibnu Mas’ud r.a juga merupakan sahabat yang paling banyak dalam menghafal Al Quran dengan kualitas suara yang sangat merdu. Karena itulah Rasulullah saw  pernah bersabda : “Mintalah kalian akan bacaan Al-Quran pada empat sahabat : Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal”. (HR. Bukhari).</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh Abdullah bin Mas’ud memanjat sebuah pohon untuk memetik buahnya, ketika para sahabat melihat betis kakinya mereka tertawa, maka Rasulullah saw bersabda : “Apa yang kalian tertawakan? sungguh kaki Abdullah bin Mas’ud lebih berat timbangannya pada hari kiamat dari siapapun”. (HR. Ahmad, Ibnu Sa’ad dan Abu Na’im)</p>
<p>Mengenai kepahamannya dalam hal seluk beluk Al Qur’an Abdullah bin Mas’ud r.a pernah berkata “ Saya mendapatkan dari lisan Rasulullah SAW tujuhpuluh puluh surat, sungguh aku lebih faham tentang kitabullah dari sahabat lainnya padahal aku tidak lebih baik dari mereka, dan tidak ada dalam kitabullah baik berupa surat ataupun ayat kecuali aku tahu dimana diturunkan dan kapan diturunkan”</p>
<p>Masa kecil Abdullah Ibnu Mas’ud dihabiskan dengan mengembalakan kambing milik tuannya Uqbah bin Mu’ith. Saat mengembalakan kambing inilah ia pertama kali bertemu dengan Rasulullah SAW yang waktu itu ditemani oleh Abu Bakar As Shiddiq. Pertemuan waktu itu begitu berkesan karena Rasulullah SAW sempat menunjukkan mukjizatnya dengan mengusap usap puting kambing yang mandul dan tidak pernah menghasilkan susu dan kemudian dari kambing betina yang mandul itu menghasilkan air susu yang segar dan banyak. Abdullah bin Mas’ud r.a terpesona dengan kejadian tersebut dan semakin kagum dengan ketinggian akhlak Rasulullah SAW yang begitu indah.</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud pun masuk islam dan termasuk dalam golongan yang awal awal masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud r.a sangat tertarik dengan bahasa Al Qur’an dan dia belajar sungguh sungguh untuk mendalaminya. Kalau dulu dia dianggap sebelah mata oleh penduduk Mekkah karena seorang budak kini dia menjadi pendidik bagi masyarakat Mekkah bila mereka hendak belajar Al Qur’an. Sungguh Allah SWT akan meninggikan kedudukan seseorang karena Al Qur’an dan akan merendahkan kedudukan seseorang juga dengan Al Qur’an.</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud juga seorang ahli hikmah ,pernah suatu hari dia memberi nasihatnya  “Wahai sekalian manusia, hendaklah kalian taat dan selalu berada dalam jamaah, karena yang demikian adalah tali Allah yang telah diperintahkan, dan sesungguhnya sesuatu yang kalian tidak sukai dalam berjamaah lebih baik daripada sesuatu yang kalian cintai dalam berpecah belah”.</p>
<p>Saat umur 60 tahun Sahabat yang mulia ini menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan sembilan anak perempuan. Disaat sakaratul maut Amirul Mukmini Utsman bin Affan datang menengoknya dan menawarkan sebagian harta Khalifah untuk anak anak perempuannya, tapi Abdullah Ibnu mas’ud menolaknya dan berkata “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang membaca surat al-waqiah maka tidak menimpa dirinya kekurangan selamanya”. (Ibnu Asakir).</p>
<p>Beliau beristirahat untuk selama lamanya bersama sahabat sahabat yang lain di pemakaman Baqi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahislami.com/abdullah-ibnu-masud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
