Keberanian Abu Dzar Al Ghifari

Bani Ghifar adalah sebuah suku badui ditanah Arab yang terkenal akan kebuasannya dan sikap keras dalam pergaulan sehari hari. Banyak suku suku di Arab yang merasa enggan bila harus berurusan dengan bani Ghifar. Sering sekali bani Ghifar melakukan perampokan perampokan yang berujung pertumpahan darah. Mereka bermukim di lembah Waddan, sebuah daerah yang terletak antara Mekkah dan Syam. Lembah Waddan sering dilalui para saudagar dari Mekkah menuju Syam atau sebaliknya. Bila melalui daerah ini maka kaum saudagar harus extra hati hati karena tak berapa lama lagi bani Ghifar akan menyergap dengan kebuasaan yang tiada tandingnya.

Tapi dibalik cerita kelam akan keganasan dan kebar-baran sifat bani Ghifar ternyata mereka menyimpan sebuah kisah penuh inspirasi dari seseorang bernama Jundub bin Junadah Al ghifari. Kelak Jundub bin junadah akan lebih dikenal dengan nama Abu Dzar. Cerita bermula dari selentingan kabar yang sampai di telinga Abu Dzar tentang seseorang yang mengaku menerima wahyu dari langit yang tinggal di kota Mekkah. Merasa makin hari makin gelisah karena penasaran maka Abu Dzar mengutus adik kandungnya yang bernama Unais untuk mengumpulkan semua informasi tentang sosok lelaki yang mengaku sebagai nabi pembawa wahyu dari langit. Unais Al ghifari seseorang yang pandai dalam menggubah syair dan telah ratusan syair arab kuno berhasil dia hafal. Kepandaiannya ini sekaligus sebagai uji coba atas kepandaian seseorang di Mekkah yang disebut sebagai tukang syair oleh kaum kafir Quraisy. Memang begitulah kaum kafir Quraisy di Mekkah menyebut Rasulullah Muhammad SAW sebagai tukang syair, padahal yang ia bacakan adalah firman Allah yang berisi petunjuk hidup untuk mencapai kebahagiaan.

Beberapa minggu setelah diutusnya Unais maka datanglah ia dari kota Mekkah membawa kabar tentang Muhammad. Abu Dzar bertanya “ceritakan kepadaku tentang apa saja yang kamu lakukan di Mekkah?”

Unais menjawab : “Aku telah menjumpai seorang laki laki yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran”.

Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan penduduk Mekkah tentangnya ?”.

Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang syair, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang syair, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait syair. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta”.

Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju Kakbah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis. Saat saat kritis tidak memiliki bekal itu datanglah seorang pemuda berperawakan kekar mengundangnya makan. Maka ikutlah Abu Dzar mengikuti pemuda tersebut yang ternyata Ali bin Abi Thalib r.a. keponakan Nabi tersebut melayani keperluan makan hingga Abu Dzar merasa kenyang. Merasa cocok dengan Ali dan melihat bahwa pemuda ini berakhlak mulia maka Abu Dzar berani menceritakan tentang keinginannya ingin bertemu dengan Nabi Muhammad. Tentu saja Ali merasa senang dengan maksud masuk islamnya Abu Dzar. Maka dipertemukanlah Abu Dzar dengan Rasulullah SAW dan saat itu juga Abu Dzar bersyahadat menyatakan diri masuk Islam. Selepas masuk Islam Rasulullah menasehati agar Abu Dzar kembali ke kaumnya dan berdakwah disana karena suasana kota Mekkah belum kondusif untuk menampakkan keislaman. Tapi Abu Dzar ingin sekali menyeru kepada penduduk Mekkah bahwa ia telah masuk islam dan ia tidak takut akan kebenaran yang diyakininya. Rasulullah mendiamkan saja. Abu Dzar keluar menemui orang orang di sudut kakbah dan menyeru mereka agar bersyahadat untuk memeluk agama yang hak yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad. Kaum Quraisy tidak terima akan perbuatan Abu Dzar dan sesaat kemudian bertubi tubi pukulan dan tendangan menghujani tubuh Abu dzar hingga pingsan sebelum akhirnya berhasil dicegah oleh Abbas bin Abdul Muttalib tokoh yang disegani oleh kaum Quraisy agar mereka tidak sampai membunuhnya karena Bani Ghifar akan menuntut balas kalau Abu Dzar sampai meninggal.

Beberapa hari berlalu dan Abu Dzar mengambil keputusan untuk kembali ke kaumnya dan melanjutkan dakwah ilal islam kepada kaumnya.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *