Tags Posts tagged with "ali bin abi thalib"

ali bin abi thalib

0 5

Dia bernama Fakhitah, seorang wanita dari kalangan bangsawan Quraisy. Putri paman Rasululloh SAW, Abu Thalib bin Abdul Muththalib. Ibunya bernama Fathimah binti Asad. Dia saudari kandung Imam Ali, Aqil dan Ja’far, putra-putra Abu Thalib.

Dia begitu mengerti tentang agungnya hak seorang suami. Dia pun mengerti tentang hak anak-anak yang ditinggalkan suaminya dalam asuhannya. Dia tak ingin menyia-nyiakan satu pun dari keduanya, hingga dia dapatkan pujian yang begitu mulia, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Semasa belum masuk Islam, Rasululloh SAW pernah meminangnya. Pada saat bersamaan, seorang pemuda bernama Hubairah bin Abi Wahb Al-Makhzumi pun meminangnya pula. Abu Thalib menjatuhkan pilihannya pada Hubairah hingga akhirnya Abu Thalib menikahkan Hubairah dengan putrinya. Dari pernikahan ini, lahirlah putra-putra Hubairah, di antaranya Ja’dah bin Hubairah yang kelak di kemudian hari diangkat Ali bin Abi Thalib r.a ketika menjabat sebagai khalifah sebagai gubernur di negeri Khurasan. Putra-putra yang lainnya adalah Amr, namun putranya ini meninggal ketika masih kecil, serta Hani` dan Yusuf.

Namun pada akhirnya, Islam memisahkan mereka berdua. Ketika Allah SWT membukakan negeri Makkah bagi Rasulullah SAW dan manusia berbondong-bondong masuk Islam, Ummu Hani r.a pun berislam bersama yang lainnya. Mendengar berita keislaman Ummu Hani`, Hubairah pun melarikan diri ke Najran.

Pada hari pembukaan negeri Makkah itu, ada dua kerabat suami Ummu Hani dari Bani Makhzum, Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, datang kepada Ummu Hani untuk meminta perlindungan. Waktu itu datang pula ‘Ali bin Abi Thalib r.a menemui Ummu Hani sambil mengatakan, “Demi Allah, aku akan membunuh dua orang tadi!” Ummu Hani pun menutup pintu rumahnya dan bergegas menemui Rasululloh SAW.

Saat itu Rasulullah SAW tengah mandi, ditutup oleh putri beliau, Fathimah r.a dengan kain. Ummu Hani pun mengucapkan salam, hingga Rasululloh SAW bertanya, “Siapa itu?” “Saya Ummu Hani putri Abu Thalib,” jawab Ummu Hani`. Rasulullah SAW pun menyambutnya, “Marhaban, wahai Ummu Hani`!”

Lalu Ummu Hani mengadu kepada Rasulullah SAW tentang kedatangan dua kerabat suaminya untuk meminta perlindungan kepadanya sementara Ali berkeinginan membunuh mereka. Maka beliau pun menjawab, “Aku melindungi orang yang ada dalam perlindunganmu dan memberi jaminan keamanan pada orang yang ada dalam jaminan keamananmu.” Usai mandi, Rasulullah SAW menunaikan shalat delapan rakaat. Waktu itu adalah waktu dhuha.

Setelah Ummu Hani berpisah dari suaminya karena keimanan, Rasulullah SAW datang untuk meminang Ummu Hani`. Namun dengan halus Ummu Hani menolak, “Sesungguhnya aku ini seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan perhatian yang menyita banyak waktu. Sementara aku mengetahui betapa besar hak suami. Aku khawatir tidak akan mampu untuk menunaikan hak-hak suami.” Maka Rasulullah SAW mengurungkan niatnya. Beliau mengatakan, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Ummu Hani r.a meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah SAW yang hingga saat ini termaktub dalam Al-Kutubus Sittah. Dia pun menyebarkan ilmu yang telah dia peroleh hingga saat akhir kehidupannya, jauh setelah masa khilafah saudaranya, Imam Ali bin Abi Thalib r.a, pada tahun ke-50 H. Ummu Hani r.a semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala meridhainya. Al-Bidayah wan Nihayah

0 2

Dari Husain bin Kharijah Al Asyjai, ia berkata “Ketika terjadi fitnah (maksudnya peperangan diantara para sahabat, misalnya perang Shiffin dan perang Jamal pada masa Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a), keadaan itu sungguh menyulitkan aku dalam bersikap. Oleh karena itulah maka aku berdoa kepada Allah SWT agar Dia berkenan menunjukkan kebenaran untuk saya ikuti. Malam harinya saya bermimpi seakan-akan saya sudah berada di hari kiamat. Seolah-olah ada dinding yang menghalangi saya dengan mereka. Saya berkata “Kalau saya merobohkan dinding ini niscaya saya akan dapat bertemu dengan mereka”.

Akhirnya saya merobohkan dinding itu. Ternyata dibalik dinding itu ada suatu kaum yang berpakain putih-putih.Saya bertanya kepada mereka “Apakah kalian para malaikat?” mereka menjawab “Tidak, kami adalah para syuhada. Tetapi naiklah kaum di tangga itu” Saya pun menaiki tangga tersebut. Itu adalah tangga yang paling bagus yang pernah saya lihat. Ternyata di atas sana ada Nabi Muhammad SAW dan Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s berkata kepada Nabi Muhammad SAW ” Tidakkah kau lihat apa yang sudah dilakukan oleh umatmu? Mereka membunuh imam mereka sendiri (yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan yang mati syahid di rumahnya). Mereka menumpahkan darah mereka sendiri. Mengapa mereka tidak  berbuat seperti yang diperbuat oleh kekasihku Sa`ad bin Abi Waqqash?”

Saya berkata kepada diri saya sendiri “Aku akan datang menjumpai Sa`ad bin Abi Waqqash dan akan kuberitahukan mimpiku itu kepadanya” Selanjutnya aku datang menemuinya dan menceritakan mimpi itu kepadanya. Dia sangat gembira mendengarnya dan berkata “Sunnguh rugi orang yang tidak menjadikan Ibrahim a.s sebagai kekasihnya”

0 4

Perang Badar merupakan “purnama” dalam sejarah kemanusiaan yang menerangi jalan para penempuh jalan. Perang Badar merupakan “purnama” yang bersinar di langit dan dirayakan oleh para malaikat. Perang Badar merupakan “purnama” di bumi dan di kalangan para penduduknya. Orang-orang yang ikut berperang benar-benar menjadi purnama yang cahayanya menerangi seluruh sisi kehidupan mereka. Perang Badar merupakan “purnama” dalam sejarah berbagai pembebasan militer. Bintang-bintangnya menerangi dengan berbagai pelajaran dan hikmah mereka. Perang Badar merupakan “purnama” dan garis pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Juga menjadi mahkota kebanggaan di atas kepala zaman dan kepala setiap pahlawan Islam yang ikut serta di dalamnya. Di dalam masyarakat Islam tidak ada seorang pun yang dapat mengungguli keutamaan para mujahidin Badar.

Perang Badar dinilai sangat signifikan dalam aspek sejarah, kemiliteran, politik dan pemikiran karena ia merupakan pertarungan bersenjata yang pertama kali terjadi antara pembela kebenaran dengan pembela kebatilan. Pertarungan ini dinilai sangat menentukan karena di dalam pertarungan inilah ditentukan nasib Kaum Mukminin dan kaum kafir. Salah satu pernyataan Rasulullah SAW tentang peperangan ini mengisyaratkan urgensi pertempuran ini seandainya kaum Musyrikin berhasil mengalahkan kaum Mukminin. Nabi Muhammad SAW mengungkapkan doa dan munajat kepada Allah, memohon kemenangan yang dijanjikanNya “Ya Allah, jika Engkau suka, Engkau tidak akan disembah setelah hari ini”

Bila kita membaca sirah Nabi SAW di dalam perang Badar dan semua peperangan yang pernah dilakukannya, pasti akan mengetahui betapa besar perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap langkah intelejen untuk mendapatkan berbagai informasi tentang musuhnya dan perhitungan yang cermat terhadap semua gerak dan diam yang ditunjukkan oleh musuh. Oleh sebab itu Rasulullah SAW mengutus sejumlah pasukan kecil untuk menginvestigasi dan mengintai pasukan musuh. Biasanya sebelum keberangkatan pasukan, Nabi Muhammad SAW memberangkatkan satu pasukan kecil yang bertugas menjelajahi wilayah di depannya, sebagai langkah antisipasi terhadap serangan rahasia atau menghindari pengintaian dan pelacakan.

Dalam peperangan ini Rasulullah SAW menugaskan dua orang sahabat, Basbas bin Amir r.a dan Ady bin Abu Za`ba r.a untuk mencari informasi tentang Abu Sufyan hingga mendapatkan informasi tentang tempat keberadaannya. Keduanya mendengar informasi tersebut dari dua orang wanita dan dibenarkan oleh seorang tua bernama Majdi bin Amir. Setelah mendapatkan informasi itu keduanya lalu kembali kepada Rasulullah SAW melaporkan “Wahai Rasulullah, dia tinggal di mata air anu pada hari anu, dan kita tinggal di mata air anu pada hari anu, dia turun di mata air anu pada hari anu sedangkan kita turun di mata air anu, hingga kita bertemu dia di mata air tersebut”

Perhatikanlah bagaimana pasukan perintis dan investigasi ini menggunakan berbagai informasi yang diperolehnya untuk memperkirakan waktu dan tempat pertemuan dengan kafilah, apabila segala sesuatunya berjalan secara normal tanpa ada hal-hal yang insidental. Setelah turun di dekat mata air Badar, Nabi Muhammad SAW ingin mendapatkan berbagai informasi tentang Quraisy, kemudian Nabi SAW bersama Abu Bakar r.a turun menemui seorang tua yang mengetahui berbagai gerakan di wilayah tersebut. Nabi Muhammad SAW menanyakan kepadanya tentang berita Quraisy dan Muhammad beserta para sahabatnya. Kemudian orang tua itu memberitahukan tempat kedua belah pihak dengan sangat akurat.

Ketika Quraisy mengirimkan pasukannya untuk memerangi kaum Muslimin di Badar, Rasulullah SAW mengutus Ali bin Abi Thalib r.a, Zubair bin Awwam r.a, Sa`ad bin Abi Waqqash r.a dan Basbas bin Amir r.a untuk mencari berbagai berita kaum Musyrikin di mata air, sehingga mereka mendapati sejumlah petugas urusan persediaan air lalu mereka menangkap dan membawa dua orang diantaranya ke kamp kaum Muslimin untuk di interogasi. Rasulullah SAW sendiri yang menginterogasi kedua orang tersebut sehingga berhasil mendapatkan sejumlah informasi akurat tentang Qurisy baik menyangkut jumlah, peralatan ataupun para pemimpin mereka. Diantara interogasi tersebut adalah :

Nabi Muhammad SAW                  : Berapa jumlah mereka ?

Kedua orang Quraisy                      : Banyak

Nabi Muhammad SAW                  : Apa perlengkapan mereka ?

Kedua orang Quraisy                      : Kami tidak tahu

Nabi Muhammad SAW                  : Berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap hari ?

Kedua orang Quraisy                      : Kadang sehari sembilan ekor dan kadang sepuluh

Nabi Muhammad SAW                  : Mereka antara Sembilan ratus dan seribu orang. Siapa saja para pemimpin Quraisy yang ikut ?

Kedua orang Quraisy                      : Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Al Bukhturi bin Hisyam dan lima belas tokoh Quraisy lainnya

Kemudian Rasulullah SAW menghadap kepada para sahabatnya seraya berkata “Mekkah telah melemparkan jantung hatinya kepada kalian”

9 8

Pagi itu Ali bin Abi Thalib r.a sudah menyelesaikan qiyamullailnya, tinggal witir saja yang belum ia tunaikan. Setelah berzikir dan memanjatkan doa maka sholat witirpun ia kerjakan dengan sesempurna mungkin. Udara Madinah pagi itu begitu sejuk dan menentramkan. Aroma kehidupan qurani sangat jelas nampak dibalik bilik tiap tiap rumah di Madinah. Lantunan merdu ayat ayat Al Qur’an terdengar sayup sayup dari rumah para Sahabat. Waktu subuh sudah merapat dan Ali bin Abi thalib r.a sudah bersiap siap melangkahkan kaki ke masjid. Beberapa Sahabat sudah ada yang mendahului dan sudah banyak pula yang berada dimasjid. Tibalah saatnya Bilal mengumandangkan azan ke seluruh pelosok kota Madinah. Suaranya yang keras dan merdu makin menambah ghairah kaum muslimin untuk segera berangkat ke masjid menunaikan shalat Subuh. Kecuali segolongan kaum munafik yang enggan dan memilih tidur dari pada sholat Subuh.

Saat masih diperjalanan menuju masjid ada seorang kakek tua yang beragama yahudi berjalan dengan sangat pelan sekali di depan Ali bin Abi Thalib. Mungkin kakek itu akan menuju pasar. Lalu Ali bin Abi Thalib pun berjalan dengan perlahan juga demi untuk menghormati seorang yang tua. Dalam hati Ali ingin cepat sampai dimasjid karena kumandang iqomat sudah terdengar tapi karena ia ingat pesan Rasulullah SAW untuk menghormati orang yang lebih tua apapun agamanya maka ia ikhlas terlambat sholat berjamaah.

Ketika Ali sudah berada diserambi masjid ia mendapati Rasulullah dan para sahabat masih dalam posisi ruku’ maka segera saja Ali bin Abi Thalib menyertai sholat subuh dan ia mendapat satu rakaat yang terakhir karena apabila makmum masbuq dan mendapatkan imam sedang ruku’ maka ia telah sempurna mendapat satu rakaat. Shalat subuh telah usai dan Ali bin Abi Thalib pulang kerumah seperti biasa.

Beberapa saat kemudian Sahabat Umar bin Khattab r.a bertanya kepada Rasulullah perihal ruku’ di rakaat kedua tadi yang berlangsung lama. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Adakah sesuatu telah terjadi?”

Rasulullah balik bertanya, “Kenapa, ya Umar?”

Umar menjawab “Biasanya engkau ruku’ dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali. Adakah wahyu telah turun ?”

Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang ruku’ dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga. Dan aku belum tahu kenapa Jibril melakukan itu kepadaku,. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan ijin Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Rasulullah saw, “Ya Muhammad Rasulullah, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggungmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari penghormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh kesempatan untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”

Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau makin mencintai menantunya itu karena telah berakhlak mulia demi menghormati seorang kakek tua meski berbeda keyakinan. Islam mengajarkan agar kita menghormati orang tua terutama orang tua kandung sendiri. Sungguh akan menyesal orang yang selama hidupnya menyia nyiakan orang tuanya dan tidak memberikan hak haknya kepada mereka. Orang tua ibarat pintu gerbang kita menuju dunia dan kita akan senantiasa berhutang budi kepada mereka. Semoga kita selalu menjadi insan yang senantiasa tulus dalam berbakti kepada orang tua kita.

Artikel Terbaru

0 20
Saudaraku. Kalau kita mau jujur kepada diri sendiri, sebetulnya petunjuk Allah SWT untuk kita amatlah melimpah. Kalau kita mau menyadari dan lebih teliti, ada...
[%%LINKS%%]