Tags Posts tagged with "kisah nabi yusuf"

kisah nabi yusuf

0 6

Demi Allah, Yusuf lah yang benar, bahkan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya. Ada yang mengatakan bahwa saksi itu adalah sepupu wanita itu. Ada juga yang mengatakan bahwa dia adalah salah seorang pelayan istana. Pendapat yang benar adalah pendapat yang dikemukakan oleh jumhur (mayoritas) Ulama, bahwa saksi itu adalah seorang anak kecil yang waktu itu berada dalam kamar dan belum bisa berbicara namun Allah membuatnya berbicara. Dalam sebuah hadits yang sanadnya jayyid (bagus), Nabi Muhammad SAW bersabda “Ada empat orang yang dapat berbicara semenjak masih kecil dalam buaian yaitu : Masyithah (istri tukang sisir) keluarga Fir`aun, anak kecil yang bernama Juraij, Isa a.s, dan anak kecil yang memberikan kesaksian kepada Yusuf a.s”

Anak kecil yang menjadi saksi telah berkata “Perhatikanlah, jika baju gamis Yusuf robek dari bagian belakang, maka perempuan itulah yang berdusta dan Yusuf benar, karena perempuan itulah yang merobeknya dan dialah yang berlari dari belakang Yusuf. Dan jika baju gamisnya itu robek dari bagian depan maka Yusuf lah yang berdusta dan perempun itu yang benar karena Yusuf lah yang menyerangnya”. Setelah memperhatikan mereka mengambil kesimpulan bahwa Yusufalah yang benar.

Allah SWT berfirman “Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang, berkatalah ia `Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar. Hai (Yusuf) berpalinglah dari (kejadian) ini dan (kamu Hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah” (QS Yusuf ayat 28-29). Tuan Aziz berpesan kepada Yusuf supaya ia tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun dan tidak menyebarkan berita ini kepada orang lain. Dan dia berkata “Wahai Yusuf, berpalinglah dari semua ini”

Sedangkan kepada istrinya ia memberikan nasihat dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, padahal dia telah melakukan perbuatan yang sangat keji. Kepada istrinya ia berkata “Minta ampunlah kepada Allah dan bertaubatlah kepadaNya”

Allah SWT menyelamatkan Yusuf a.s dari kegelapan sumur tatkala saudara-saudaranya berbuat makar dan jahat kepadanya. Dan Allah kembali menyelamatkannya dari fitnah tatkala istri Tuan Aziz menggoda dan berbuat makar kepadanya. Akan tetapi ujian bagi Yusuf a.s belum usai. Ia masih harus menghadapi berbagai ujian lain di dalam penjara.

Pelajaran dari Kisah Yusuf a.s

Kita dapat mengambil intisari berupa sejumlah faidah yang berkaitan dengan kisah diatas :

Pertama, Al Quran ini adalah kitab mukjizat yang dapat melemahkan lawan, yang sarat dengan makna dan hikmah. Allah telah menantang seluruh orang Arab yang fasih untuk mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya, namun mereka tidak mampu menandinginya. Allah SWT berfirman “Katakanlah ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al Quran ini, niscaya mereka tak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” (QS Al Isra’ ayat 88)

Kedua, mimpi ada yang benar dan ada juga yang bathil. Jika ia berasal dari seseorang yang saleh dan bukan berupa sesuatu yang mustahil maka ini adalah benar dengan ijin Allah.

Ketiga, hendaknya seseorang yang bermimpi tidak memberitahukan tentang mimpinya kecuali kepada orang yang ia cintai;dan ia tidak menyebarkannya kepada khalayak ramai. Sedangkan bila mimpinya berupa sesuatu yang buruk hendaknya ia tidak memberitahukannya kepada siapa pun;karena hal ini tidak akan memberikan manfaat kepadanya dengan ijin Allah.

Keempat, sudah menjadi fitrah sebagian manusia untuk bersifat hasad/iri. Al Hasan berkata “Tidak ada jasad yang terbebas dari penyakit hasad;akan tetapi orang yang mulia senantiasa menyembunyikannya sementara orang yang terhina menampakkannya”. Penyakit hasad merupakan salah satu dosa besar, karena ia akan memakan semua kebaikan, sebagaimana api melahap kayu bakar. Penyakit ini akan merapuhkan ketakwaan dan mengundang murka Allah, firmanNya “Ataukah mereka merasa dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya ? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar “(QS An Nisa ayat 54)

Kelima,hendaklah orang tua tidak melebihkan salah seorang anaknya yang lain karena yang demikian akan melahirkan sifat hasad dan benci diantara mereka. Hendaknya pula tidak memberikan salah seorang dari mereka sementara yang lainnya diberikan.

Keenam, bahwa yang Maha memelihara dan menjaga adalah Allah SWT bukan selainnya. Oleh karena itu hendaklah selalu menghadap kepadaNya dalam setiap ujian dan cobaan maupun kesusahan yang menimpa agar Allah menjaga kita.

Ketujuh, senantiasa bersabar dalam menghadapi berbagai fitnah/ujian;khususnya fitnah wanita. Kembalilah kepada Allah. Mudah-mudahan Dia memalingkan fitnah tersebut. Dan bekal paling baik yang dapat memalingkannya adalah ketaqwaan dan keikhlasan.

Semoga kisah ini membawa manfaat bagi kita. Amiin

0 4

Allah SWT berfirman “Kemudian saudara-saudara Yusuf datang kepada ayah mereka di petang hari sambil menangis” (QS Yusuf ayat 16)

Pada waktu malam hari saudara-saudara Yusuf kembali menghadap ayah mereka sambil menangis. Mengapa mereka datang pada waktu malam ? dan mengapa tidak kembali pada waktu sore hari ? ada yang mengatakan “Agar ayah mereka tidak melihat darah yang ada di baju Yusuf dengan jelas, sehingga dia mengetahui kalau itu bukanlah darah manusia”. Ada juga yang mengatakan “ Agar ayah mereka mengira bahwa mereka datang terlambat karena mengusir dan melawan serigala”

Ada tiga kesalahan besar yang dilakukan saudara-saudara Yusuf , yaitu :

Pertama, mereka melakukan tindakan jahat pada hari pertama mereka pergi bermain bersamanya. Dan ini menandakan betapa dahsyat rasa dendam mereka untuk segera dilaksanakan dan melenyapkannya dari pandangan mereka. Kalau sekiranya mereka mengembalikannya kepada ayah mereka hari itu agar dia merasa tenang, maka ayah mereka tidak akan ragu lagi. Akan tetapi inilah hikmah Allah yang akan menyingkap kejahatan mereka itu.

Kedua, mereka melepaskan bajunya dan tidak merobek-robeknya, lalu mereka berkata “Dia telah dimakan oleh serigala”. Ini adalah sebuah kelalaian mereka, karena kalau serigala hendak memakannya dia tidak akan melepaskan bajunya terlebih dahulu.

Ketiga, ketika mereka kembali kepada ayah mereka dan memberitahukan bahwa Yusuf telah dimakan serigala. Firman Allah “Mereka berkata `Wahai ayah, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (QS Yusuf ayat 17). Maksudnya bahwa ayah mereka tidak akan percaya kepada mereka apapun alasan yang mereka kemukakan.

Nabi Yaqub a.s bertanya “ Apa yang terjadi ? ada apa dengan air mata yang hangat dan berlinangan ini (air mata buaya) ”. mereka menjawab “Sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba, dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu datanglah seekor serigala dan memakannya di saat kami sedang lalai karena berlomba. Pasti ayah tidak akan percaya kepada kami, meskipun kami adalah orang-orang yang benar dan jujur”.

Alasan yang mereka lakukan adalah mereka mengeluarkan baju gamis milik Yusuf dan mendekatkannya kepada Nabi Yaqub supaya dia dapat menyentuh bekas bercak darah disana. Akan tetapi Yaqub a.s mengetahui konspirasi jahat mereka dari pandangan, penglihatan, kebimbangan, serta baju gamis yang sedikit pun tidak robek, sehingga Nabi Yaqub berkata, seperti Firman Allah “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu (sesungguhnya kamu telah melakukan sebuah tindakan kejahatan yang sangat besar). Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan” (QS Yusuf ayat 18)

Kemudian Nabi Yaqub a.s berpaling dan menangis hingga kedua matanya memutih.

Mengenai kesabaran yang baik, Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata “Kesabaran yang baik adalah kesabaran yang tidak disertai dengan keluhan”. Jadi kesabaran yang baik adalah kesabaran yang merasakan kebutuhan dan kehinaan hanya untuk Allah semata. Dan kesabaran yang baik adalah senantiasa berusaha memperbaiki kesabaran itu sendiri di hadapan makhluk Allah. Seorang Ulama berkata “Kesabaran yang baik adalah ketika engkau diuji dan dicoba, hatimu tetap mengucapkan Alhamdulillah”.

Sementara dengan nasib Yusuf, bahwa ia termasuk orang yang sabar, hingga Allah dengan rahmatNya mengirimkan sebuah kafilah musafir yang melintas di tempat sumur tua tempat ia dibuang oleh saudara-saudaranya. Mereka menyuruh pengambil air untuk menurunkan timbanya kedasar sumur guna mengambil air. Dan Yusuf ikut menggantung pada timba itu. Allah SWT berfirman “Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya”. (QS Yusuf ayat 19)

Ketika lelaki penimba air tersebut menarik timbanya, dia melihat seorang anak muda yang sangat tampan. Dan Yusuf a.s memang dikaruniai Allah nikmat ketampanan yang memikat.

Laki-laki (penimba) berkata “Oh, kabar gembira ! ini seorang anak muda”. (QS Yusuf ayat 19)

Maksudnya, anak muda ini akan kujadikan sebagai pelayan dan hamba sahaya dan akan kujual. “Kemudian mereka menyembunyikannya (Yusuf) sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS Yusuf ayat 19).

Sebagian mereka tidak memberitahukan hal ini kepada yang lainnya dan mereka menjadikannya sebagai barang dagangan.

0 1

Yusuf a.s keluar bersama Saudara-saudaranya

Lalu bagaimana saudara-saudara Yusuf bisa meminta agar dia boleh keluar bersama mereka ?Allah SWT berfirman “Mereka berkata `Wahai bapak kami, apa sebabnya engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya” (QS Yusuf ayat 11)

Suatu hari mereka mendatangi Nabi Yaqub a.s ,mereka berkata “Wahai ayah, mengapa engkau tidak mempercayakan kepada kami tentang keselamatan Yusuf? Apakah kami semua penghianat ? Apakah engkau meragukan kejujuran kami ? Apakah kami pernah memukulnya? Apakah kami membencinya?”

“Wahai ayah, apa sebabnya engkau tidak mempercayai kami tentang Yusuf, padahal kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya ? Kami selalu mencintai serta menasihatinya dan kami akan selalu berbuat baik kepadanya “

Saudara-saudara Yusuf menegaskan permintaan mereka. Mereka menyertainya dengan beberapa alasan yang memelas dan menenangkan Yaqub a.s. Allah SWT berfirman “Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main dan sesungguhnya kami pasti menjaganya. Ayah mereka berkata “Sesungguhnya kepergian kalian bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala sementara kalian lengah daripadanya” (QS Yusuf ayat 12-13).

Maksudnya, biarkanlah dia bersama kami besok mengembala kambing dan dia juga bisa bermain karena biasanya anak kecil selalu suka bermain dan dia tidak pernah merasa khawatir. Dan kami akan melindunginya dari para pencuri dan serigala. Karena kami terdiri dari golongan yang kuat dan banyak. Maka Nabi Yaqub a.s menanggapi “Demi Allah, aku merasa sangat was-was dan bersedih jika saja kamu pergi membawa dia yang masih kecil ini dari rumah, dan aku khawatir kalau dia sampai dimakan serigala”

Akan tetapi, “Mereka berkata, jika dia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat ), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi” (QS Yusuf ayat 14).

Ungkapan “kalau dia dimakan serigala” adalah hal yang belum terlintas sebelumnya dalam benak mereka. Dan Nabi Yaqub rupanya mudah menerima alasan dan tipu muslihat mereka. Akhirnya merekapun keluar membawa Yusuf. Kini mereka berada di tengah-tengah padang pasir, kambing-kambing sedang asyik makan dan bermain dan mereka juga asyik bermain. Udara sangat sejuk dan tenang. Burung-burung berkicau dan bersenandung. Angin sepoi-sepoi menyapa rerumputan. Namun suasana hati saudara-saudara Yusuf justru bergelora dengan rasa dengki dan benci terhadap saudara mereka yang masih kecil itu. Mereka pun menangkapnya, mengikatnya dengan tali lalu memasukkannya ke dasar sumur.

Yusuf meminta tolong dan dia mengira kalau mereka itu bercanda. Sebelumnya mereka memberikan pilihan kepadanya, antara dibunuh atau dibuang ke dasar sumur. Mereka membuang Yusuf ke dasar sumur sementara dia meront-ronta dan menangis karena diikat dengan tali. Ketika Yusuf sudah berada didasar sumur  mereka akhirnya memotong tali itu. Kini Yusuf hanya berada dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah SWT.

Saudara-saudara Yusuf memotong tali dan membiarkannya sendirian berada di dalam kegelapan dan kepengapan sumur. Sementara, di tengah-tengah padang pasir, di kedalaman sumur tua, Yusuf senantiasa berdikir kepada Allah. Dia sendirian dan hanya Allah saja yang bersamanya. Ketika Sahabat Abdullah Ibnu Abbas r.a membaca surat Yusuf, dia menangis dan berkata “Ikan-ikan hiu saja merasa tenang di lautan karena bertasbih, tetapi Yusuf tidak juga merasa tenang dengan bertasbih”

Serigala-serigala berada disekelilingnya. Udaranya sangat pengap dan suasana mengerikan, tidak ada roti, air dan makanan, tidak ada keluarga, tetangga, orang-orang tercinta, tidak ada juga orang yang bisa dimintai pertolongan dan belas kasihan. Yang ada hanyalah suara lolongan serigala yang meraung di tengah padang pasir yang sangat mencekam.

Allah SWT berfirman ”Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia) dan (sewaktu dia sudah di dalam sumur), Kami wahyukan kepada Yusuf `Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi” (QS Yusuf ayat 15)

Maksudnya hari akan berlalu dan setelah beberapa tahun kemudian kamu akan memberitahukan kepada mereka atas perbuatan jahat mereka kepadamu.

0 3

Akan tetapi karena Yusuf masih kecil dia lupa akan wasiat ayahnya ini sehingga ketika Yusuf duduk-duduk bersama mereka, dia memberitahukan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa jika salah seorang diantara kita bermimpi hendaknya tidak menceritakan kecuali kepada orang yang kita cintai atau amanah.

Kini rasa dengki, benci dan iri pun berkobar pada hati saudara-saudara Yusuf. Mereka pun mulai mengatur strategi makar dan berbuat jahat kepadanya. Dan Nabi Yaqub a.s mengetahui bahwa saudara-saudara Yusuf telah mengetahui perihal mimpinya, maka dia sangat merasa was-was dan khawatir kalau-kalau mereka melakukan tindakan jahat terhadap Yusuf. Allah SWT berfirman “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (yaitu) ketika mereka berkata “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya(Bunyamin) lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita sendiri, padahal kita(ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya bapak kita adalah dalam kekeliruan yang nyata” (QS Yusuf ayat 7-8)

Di samping merasa iri dan cemburu kepada Yusuf karena mimpi tersebut, mereka juga semakin dengki dan benci kepada Yusuf manakala mereka melihat ayah mereka melebihkan Yusuf atas diri mereka. Nabi Yaqub a.s tampak lebih dekat, menyayangi dan menciumnya namun tidak atas diri mereka. Atas hal ini ada pelajaran dan peringatan yang dapat kita petik. Pertama, hendaknya para orang tua tidak melebihkan salah seorang anaknya atas yang lainnya, karena pada akhirnya jika Allah tidak menjaganya dari tindak kejahatan nasibnya akan sama seperti saudara-saudara Yusuf a.s. Ini merupakan satu hal yang tak terbantahkan.

Kedua, janganlah kita mudah tertipu dengan tindakan-tindakan yang bersifat lahiriyah, karena sebagian hati dan sanubari orang memendam perasaannya, sehingga dia akan menumpahkannya pada waktu dan kesempatan yang tepat. Saudara-saudara Yusuf telah membuat strategi makar yang belum pernah disaksikan oleh sejarah kepada saudara mereka sendiri. Sementara Yusuf hanyalah seorang anak yang masih kecil, berakal, bertaqwa dan wara`. Dan dia adalah putra dari salah seorang Nabi Allah. Akan tetap saudara-saudaranya sudah bertekad untuk menyembunyikan dan membunuhnya.

Allah SWT berfirman “(Saudara-saudara Yusuf berkata) `Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian bapakmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik” (QS Yusuf ayat 9)

Mengapa semua ini terjadi ? supaya perhatian bapakmu hanya tertumpah kepadamu saja. Dengan begitu bapakmu akan memperhatikanmu dan dia akan mencintai kamu. Dan setelah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Lalu kamu bertobat dari kesalahanmu meminta ampunan kepada Allah sehingga Allah menerima tobat kamu semua.

Abdullah bin Abbas r.a berkata “Mereka berniat akan bertobat sebelum mereka melakukan dosa”. Allah SWT berfirman “Salah seorang di antara mereka(yaitu putra Yaqub yang paling besar) berkata “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika  kamu hendak berbuat” (QS Yusuf ayat 10).

Disamping karena saudara sulung Yusuf ini mempunyai rasa cemburu tersendiri terhadap saudaranya, rupanya dia juga menyadari bahwa pembunuhan adalah tindakan kejahatan yang sangat keji. Hal ini menjadikannya urung untuk membunuhnya. Dia berkata “Masukkanlah dia ke dasar sumur (yang dalam) jika kalian hendak melakukan perbuatan (jahat) itu “. Dan akhirnya ketika mereka berkumpul dan berdiskusi lagi akhirnya mereka semua setuju dengan usulan saudara mereka yang paling besar itu.

0 12

Orang yang menghayati dan merenungkan kisah Nabi Yusuf a.s akan mendapatkan berbagai pelajaran dan hikmah yang dikandungnya. Di dalamnya juga terkandung makna ketenangan dan membuat hati manusia rindu akan hikmah seperti ini. Pada kisah ini kita akan mengetahui bagaimana fase lahir dan hidupnya salah seorang Nabi Allah yang mulia, sejak kecil hingga ia menduduki jabatan yang sangat tinggi di masanya. Allah SWT berfirman “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang,matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Ayahnya berkata “Wahai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, sehingga mereka akan membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia”

“Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu(untuk menjadi Nabi) dan diajarkanNya kepadamu sebahagian dari takbir mimpi-mimpi, dan disempurnakanNya nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Yaqub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatNya kepada dua orang bapakmu sebelum itu,(yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS Yusuf ayat 4-6)

Dari sahabat Abdullah bin Umar berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda “Yang mulia dari anak yang mulia dari anak yang mulia dari anak yang mulia, yaitu Yusuf bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim “(HR Bukhori)

Suatu ketika Umar bin Khattab r.a masuk ke dalam masjid An Nabawi lalu dia menemukan seseorang yang sedang asyik bercerita di tengah kerumunan manusia mengenai kabar berita kaum jahiliyah dan umat-umat terdahulu. Maka Umar bertanya “Siapakah orang ini ?” orang-orang yang mendengarnya menjawab “Dia adalah seorang tukang cerita”, lalu Umar bin Khattab r.a memukulnya dengan tongkat dan berkata “Wahai musuh dirimu, apakah kamu masih saja bercerita, padahal Allah SWT berfirman “Kami ceritakan kepadamu kisah yang paling baik”(QS Yusuf ayat 3)

Kisah Nabi Yusuf a.s dapat kita bagi menjadi empat episode : episode pertama yaitu berpisah dengan ayahnya selama empat puluh tahun. Selama itu mereka sama sekali tidak pernah berjumpa

Episode kedua, Nab Yusuf a.s difitnah berzina dengan istri penguasa yang sangat cantik rupawan yang berusaha menggodanya

Episode ketiga, masuk penjara karena Allah, dan dia memilih keluar karena keridhoan Allah.

Episode keempat, Nabi Yusuf a.s menduduki jabatan tinggi.

Mimpi Nabi Yusuf a.s

Al Qur`an membawa kita menceritakan Nabi Yusuf dan ayahnya,Nabi Yaqub. Allah berfirman “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang,matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS Yusuf ayat 4)

Yusuf terbangun dari tidurnya. Waktu itu dia masih berusia sekitar sepuluh tahun. Lalu dia duduk di depan ayahnya. Yang menakjubkan, kalau ada seorang anak kecil yang bermimpi melihat sesuatu di dalam tidurnya dan dia merasa gembira maka dia akan menceritakannya kepada ayah dan ibunya. Bahkan, sebagian dari mereka sering menambah atau mengurangi cerita di dalam mimpinya tersebut.

Adapun Yusuf, ia sama sekali tidak mengurangi dan menambahi kisah mimpinya. Dia duduk di hadapan ayahnya dan berkata “Wahai Ayah, tadi malam saya bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan di langit kulihat semuanya bersujud kepadaku”

Serta merta ayahnya terperanjat dan merasa khawatir setelah mendengarkan kisah ini, lalu dia mencernanya dengan cerdas, karena dia adalah salah seorang Nabi Allah, dan dia mengetahui bahwa anaknya ini akan menempati posisi yang sangat mulia dan dia akan menjadi pewarisnya sebagai Nabi Allah SWT.

Nabi Yaqub a.s sangat khawatir kalau Yusuf menceritakan kisah mimpinya ini kepada saudara-saudaranya, lalu setan akan menjerumuskan mereka dan merusak hubungan di antara mereka, kemudian Nabi Yaqub a.s berkata kepada anaknya itu seperti dalam QS Yusuf ayat 5-6 “ Ayahnya berkata `Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar(untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Rabbmu memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkanNya kepadamu sebagian dari tabir mimpi-mimpi dan disempurnakanNya nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Yaqub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatNya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS Yusuf ayat 5-6)

Artikel Terbaru

0 17
Agar seorang mukmin dapat terjaga dari sifat nifak ini, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Mufsidat Al-Qalb: An-Nifaq hlm. 47-52 memberikan beberapa tips yang sebaiknya...
[%%LINKS%%]