Tags Posts tagged with "perang badar"

perang badar

0 17

Sejarah mencatat bahwa pemimpin Quraisy Abu Sufyan bin Harb juga dikenal sangat waspada dan hati-hati. Ia mencari berbagai berita tentang kaum Muslimin dan menanyakan gerakan-gerakan mereka, bahkan ia sendiri ikut melacak informasi tentang kaum Muslimin. Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Abu Sufyan datang dari Syam dengan terlebih dahulu sampai di mata air Badar. Dengan penuh waspada ia bertanya kepada orang-orang yang ada di tempat tersebut “Apakah kalian melihat seseorang ?”. mereka menjawab “Tidak, kecuali dua orang”. Abu Sufyan berkata “Tunjukkan aku kepada tempat tambatan kendaraan kedua orang tersebut”. Kemudian mereka memberitahukannya. Abu Sufyan lalu mengambil tahi binatang dan menghancurkannya sampai dia menemukan biji-bijian. Abu Sufyan berkata “Demi Allah, ini adalah pakan hewan dari Yatsrib”.

Abu Sufyan berhasil mengetahui gerakan-gerakan musuhnya sampai berita tentang ekspedisi investigasi, melalui pakan binatang tunggangannya dan setelah mengamati tahi unta yang ditinggalkannya. Akhirnya ia mengetahui bahwa kedua orang tersebut berasal dari Madinah yakni Kaum Muslimin dan dengan demikian kafilah dagangannya dalam bahaya.

Dari paparan diatas dapat diambil pelajaran bahwa seorang komandan hendaknya menyembunyikan segala sesuatu yang mungkin bisa dijadikan oleh pihak musuh sebagai bahan untuk menyimpulkan informasi. Sesuatu tersebut bisa jadi sangat tidak berharga tetapi hendaknya tidak disepelekan. Di zaman modern musuh bisa mengetahui banyak hal tentang musuhnya apabila diketahui jumlah makanan sehari-hari yang dikonsumsinya. Juga bisa mengambil kesimpulan jika telah diketahui jumlah bahan bakar yang dihabiskan oleh semua kendaraan musuh, sehingga bisa diperkirakan berapa jumlahnya dan apa jenisnya.

Kadang-kadang pasukan menyembunyikan berapa jumlah korban yang dialaminya tetapi ia lupa akan satu sisi yang bisa menjadi indikasinya, misalnya ucapan bela sungkawa di berbagai media massa, sehingga pihak lawan dapat menyimpulkan berapa kerugian yang dialaminya melalui ucapan bela sungkawa tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan benar-benar seorang pemimpin yang patut diingat dengan peristiwa dan kehati-hatiannya. Demikian pula kaum Muslimin patut mengambil pelajaran dari kasus ini.

Setelah menyadari bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya tengah memburu kafilah dan bisa saja mereka menguasainya dalam sesaat, Abu Sufyan segera mengambil dua langkah strategi.
Pertama, memilih Dhamdham bin Amir Al Ghifari sebagai utusan kepada Quraisy untuk meminta bala bantuan bagi penyelamatan kafilah mereka yang tengah dicegat oleh Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Kedua, mengubah jalur perjalanan kafilah yang berkemungkinan telah dicegat oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya menuju kearah pantai laut merah dan berjalan menyelamatkan kafilah melalui jalur Saiful Bahr hingga sampai ke Mekkah.

Dari langkah strategi pertama yang dilakukan Abu Sufyan dapat diambil sebuah pelajaran yang sangat penting, yaitu memilih seseorang yang sesuai untuk tugas yang sesuai. Manusia memiliki sejumlah potensi dan kemampuan yang beraneka ragam, ilmiah, manajemen, kepemimpinan, sosial, peperangan dan lain sebagainya. Seorang pemimpin yang sukses adalah orang yang mengetahui berbagai potensi dan kemampuan prajuritnya kemudian menata dan memfungsikan masing-masing pada posisi yang sesuai dan produktif, yang akan bermanfaat bagi kemaslahatan umum.

Abu Sufyan telah berhasil memilih Dhamdham bin Amir Al Ghifari untuk meminta bala bantuan Quraisy dan menggerakkannya dengan cepat demi melindungi keselamatan kafilah dagang. Lalu Dhamdham bin Amir Al Ghifari melakukan aksi yang menarik perhatian seisi kota Mekkah. Setiap orang yang melihat atau mendengarnya pasti akan terpesona. Ia datang kepada mereka dengan menggeser pelana untanya, memotong hidung untanya, merobek bajunya dari arah depan dan belakang dan masuk Kota Mekkah seraya berteriak lantang “Wahai Kaum Quraisy! Kafilah! Kafilah! Harta kalian yang dibawa Abu Sufyan terancam Muhammad dan para sahabatnya. Aku tidak melihat kecuali kalian harus segera menyusulnya. Selamatkan! Selamatkan!”

0 44

7. Menurunkan bala bantuan Malaikat kepada kaum Mukminin.

Allah SWT berfirman “(ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu,lalu diperkenankanNya bagimu”Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” (QS Al Anfal ayat 9)

Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa seorang pemimpin dan para prajuritnya harus memperbanyak doa dalam peperangan dan meminta bantuan kepada Allah. Nabi Muhammad saw berdoa kepada Allah di Badar,diantara doanya ialah “Ya Allah tunaikanlah janjiMu kepadaku. Ya Allah bantuanMu yang telah Engkau janjikan”

Tidak lama kemudian Rasulullah SAW berkata “Bergembiralah wahai Abu Bakar, golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. Kemudian Nabi saw menunjuk beberapa tempat kematian para tokoh Quraisy. Nabi saw tidak menyebutkan tempat kematian seseorang kecuali orang itu mati di tempat yang telah disebutkan

8. Memasukkan rasa gentar ke dalam hati orang-orang Kafir.

Allah swt berfirman “Kelak Aku akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir” (QS Al Anfal ayat 12)

Allah telah memenuhi hati mereka dengan rasa gentar terhadap kaum mukminin hingga mereka panik dan berpencar ke segala arah, lalu kaum mukminin dengan mudah memenggal kepala mereka dengan arahan langsung dari Allh “Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya dan barangsiapa menentang Allah dan RasulNya maka sesunggunya Allah amat keras siksaNya” (QS Al Anfal ayat 12-13)

Kepala-kepala yang busuk dan otak-otak yang kosong dari kebaikan, yang merancang berbagai maker jahat untuk melenyapkan kebaikan dengan cara membunuh Rasul pembawa kebaikan,Muhammad saw, mengusir kaum mukminin yang tidak berdosa dan merusak citra mereka dengan membuat berbagai propaganda palsu dan kesesatan yang nyata. Kepala-kepala seperti ini sudah tiba saatnya untuk dipenggal dan dipisahkan dari jasadnya.

Tangan-tangan yang telah piawai menimpakan berbagai siksaan kepada kaum mukminin dan mukminat di Mekkah itu, telah tiba saatnya untuk dipotong menjadi beberapa bagian sesuai dengan penyiksaan yang pernah dilakukannya terhadap kaum mukminin dan mukminat yang tidak bersalah. Memang telah tiba saatnya untuk dipenggal atau dipotong dan pemenggal atau pemotongnya adalah orang yang pernah merasakan bakaran apinya dan pukulan-pukulan penyiksaannya. Misalnya Bilal bin Rabah r.a yang membunuh Umaiyyah bin Khalaf sedangkan Abdullah bin Mas`ud r.a yang menebas kepala Abu Jahal.

9. Menaburkan Pasir

Allah mewahyukan kepada RasulNya pada awal pertempuran agar mengambil segenggam pasir lalu menaburkannya kearah kaum musyrikin. Kemudian Rasulullah SAW menghadap kearah orang-orang Quraisy dan menaburkannya seraya berkata “Semoga buruklah wajah-wajah mereka”. Kemudian Allah menyampaikan butir-butir pasir itu ke semua mata pasukan Musyrikin lalu masing-masing mereka sibuk mengurusi matanya dan mengabaikan pertempuran yang tengah mereka hadapi sehingga mereka menjadi makanan empuk bagi pedang-pedang pasukan muslimin yang menebas leher-leher mereka.

Taburan pasir itu memang dilakukan oleh Rasulullah SAW tetapi yang menyampaikannya ke semua mata pasukan musyrikin adalah Allah SWT. Tentang hal ini Allah SWT berfirman “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al Anfal ayat 17)

Sesungguhnya nikmat-nikmat yang dilimpahkan Allah kepada RasulNya dan para sahabatnya ini merupakan faktor kemenangan kaum muslimin dan kekalahan kaum musyrikin di Badar. Namun hal ini tidak hanya terbatas pada masa Rasulullah SAW  dan bukan merupakan kekhususannya. Dengan demkian maka nikmat-nikmat dan faktor-faktor kemenangan ini bisa saja terjadi pada setiap zaman dan kaum yang telah menolong agama Allah tanpa memandang ras,warna kulit, bangsa, bahasa atau faktor-faktor kemanusiaan lainnya.

Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad ayat 7)

Karena itu kaum muslimin hari ini harus menolong agama Allah pada diri,keluarga,masyarakat dan berbagai muamalat mereka dengan menjalankan syariatNya dan mengumumkan jihad di jalanNya di bawah bendera Laa ilaha Illallah Muhammad Rasulullah.

0 123

3. Rasulullah SAW bermimpi melihat kaum musyrikin berjumlah sedikit

Allah memperlihatkan kepada Rasulullah dalam mimpinya jumlah personil dan perlengkapan kaum musyrikin menjadi sedikit lalu Rasulullah SAW menyampaikannya kepada para sahabat.Sebagaimana diketahui setiap muslim bahwa mimpi para Nabi adalah benar,maka ketika mendengar informasi tersebut dari mimpi Nabi Muhammad SAW mereka semakin termotivasi dan terdorong untuk memerangi kaum musyrikin.

Seandainya Allah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW jumlah kaum musyrikin sangat banyak kemudian Nabi Muhammad SAW menyampaikannya kepada para sahabat, niscaya kaum muslimin akan terguncang, akan berselisih pendapat dan takut berperang melawan mereka,lalu timbul perpecahan di kalangan mereka sehingga melemahkan kekuatan mereka dan mengurangi kewibawaan mereka terhadap musuh. Tetapi Allah menyelamatkan mereka dari perpecahan ini dengan memperlihatkan kepada RasulNya jumlah kaum musyrikin nampak sedikit. Allah berfirman mengingatkan para hambaNya kepada nikmat dan karunia ini “Ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu(berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu(berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu” (QS Al Anfal ayat 43)

4. Kaum Muslimin melihat kaum Musyrikin berjumlah sedikit

Untuk menguatkan mimpi yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada kaum muslimin tersebut diatas,Allah memperlihatkan pula kepada kaum muslimin dalam keadaan terjaga (bukan lewat mimpi) bahwa jumlah kaum musyrikin sedikit, sehingga hal ini semakin menggerakkan dan mendorong mereka untuk memerangi kaum musyrikin.

Dari Abdullah bin Mas`ud r.a, ia berkata “Mereka telah dinampakkan sedikit dalam pandangan mata kami pada perang Badar hingga aku bertanya kepada seseorang yang ada disebelahku, apa kamu lihat mereka berjumlah tujuh puluh ? orang itu menjawab,” tidak, tetapi sertus”. Hingga akhirnya kami berhasil menangkap salah seorang diantara mereka lalu kami menanyakannya. Ia menjawab “Kami berjumlah seribu”

5.Mendorong Kedua belah pihak untuk berperang

Agar Allah melaksanakan urusanNya, agar terjadi peperangan dan berlangsung pertempuran berdarah,maka Allah mendorong masing-masing pihak dengan yang lainnya dengan membuat musuhnya nampak sedikit dalam pandangannya. Allah berfirman “Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian ketika kamu berjumpa dengan mereka,berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkanNya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS Al Anfal ayat 44)

Ada hikmah lain dari ditampakkannya sedikit jumlah kaum muslimin di mata kaum Musyrikin sebelum pertempuran ini, yaitu bila mereka menganggap sedikit jumlah kaum muslimin pasti mereka akan menganggap enteng dan tidak optimal dalam persiapan dan kehati-hatian, sehingga hal itu menjadi sebab keunggulan dan kemenangan kaum muslimin atas mereka.

6. Diantara nikmat Allah kepada kaum Mukminin di Badar pada permulaan peperangan ialah bahwa kaum muslimin masih tetap melihat sedikit jumlah kaum musyrikin, sedangkan Allah telah mengubah kondisi kaum musyrikin dengan menampakkan jumlah kaum muslimin menjadi banyak dalam penglihatan mata mereka hingga dua kali lipat jumlah kaum musyrikin. Sehingga hal ini semakin menggerakkan kaum muslimin untuk memerangi kaum musyrikin, menguatkan jiwa,hati dan maknawiyah mereka. Dan pada saat yang sama membuat kaum musyrikin menjadi gentar,karena merasa tidak ada kemampuan untuk memerangi kaum mukminin yang jumlah personil dan perlengkapan mereka jauh lebih banyak. Allah berfirman mengingatkan nikmat ini kepada para hambaNya “Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu(bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat(seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuanNya siapa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati” (QS Ali Imran ayat 13)

0 14

Peperangan yang disebut Al Qur`an  sebagai hari Furqan ini berlangsung dengan tadbir (pengaturan) dari Allah. Karena kedua pasukan (Pasukan Muslimin dan pasukan musyrikin) bertemu pada waktu yang sama dan di tempat yang sama, yaitu di mata air Badar, tanpa kesepakatan sebelumnya. Allah berfirman “ Ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran) pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan” (QS Al Anfal ayat 42)

Kaum muslimin tidak keluar untuk berperang tetapi hanya mencegat kafilah, sedangkan jumlah awak kafilah juga sedikit yang bisa ditumpas dengan mudah. Seandainya mengetahui keberangkatan Quraisy beserta para tokohnya untuk berperang niscaya kaum Muslimin akan memperbanyak personel dan senjata dan tidak cukup dengan jumlah dan perlengkapan seadanya tersebut.

Sementara itu kaum Musyrikin keluar dengan sombong dan pamrih kepada manusia untuk berpesta daging sembelihan,meminum khamar,dan mendengarkan biduanita menyanyikan lagu-lagu hiburan, agar bangsa Arab mengetahui keberangkatan mereka sehingga mereka akan senantisa takut kepada Quraisy sepanjang zaman. Dengan kata lain,keberangkatan mereka ini merupakan unjuk kekuatan militer untuk kepentingan opini massa dan propaganda.

Singkatnya, kedua kelompok itu keluar bukan untuk berperang. Terjadinya peperangan pada perkembangan berikutnya adalah merupakan hal yang insidentil dan diatur oleh Allah sedemikian rupa. Allah memudahkan semua faktor penyebab dan pendorong terjadinya peperangan yang membuat mereka melakukan hal yang diinginkan oleh Allah. Allah SWT berfirman “  akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan” (QS Al Anfal ayat 42). Yakni agar kelompok Mukminin yang berjumlah dan berperalatan sedikit,yang lapar,miskin dan telanjang (Ketika memandang para sahabatnya, Rasulullah Muhammad SAW berdoa “Ya Allah, sesungguhnya mereka tak berkendaraan maka angkutlah mereka, mereka telanjang maka berilah mereka pakaian, mereka lapar maka kenyangkanlah mereka, dan mereka miskin maka cukupilah mereka dari karuniaMu) itu mengalahkan kelompok Musyrikin yang berjumlah dan berperalatan banyak, yang hidup bermegah-megahan, yang tenggelam dalam kemaksiatan, kenistaan dan kerusakan.Agar kaum Mukminin meraih kemenangan dan sekaligus mendapatkan rampasan perang dengan merebut kafilah dagang. Masing-masing kaum mukminin telah pulang kembali dari perang Badar dengan membawa seekor atau dua ekor unta untuk tiga atau empat orang.

Orang yang berakal sehat tidak akan meragukan bahwa hal tersebut termasuk nikmat Allah terbesar kepada Kaum Mukminin, bahkan bukan hanya nikmat ini saja yang dikaruniakan Allah kepada Kaum Mukminin tetapi masih banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang lain,diantaranya :

1.       Rasa kantuk dan tidur, Allah telah mengaruniakan rasa kantuk kepada pasukan mukminin sebelum pertempurn, sehingga mata mereka tertidur, fisik mereka beristirahat, dan jiwa mereka menjadi tenang. Ketika bangun seolah-olah mereka baru diciptakan dengan kejiwaan yang baru,mantap,tenang dan bersemangat menyala-nyala. Sedangkan musuh mereka telah menghabiskan waktu mereka sebelum peperangan dengan senantiasa berjaga, letih dan lesu, sehingga mereka menjadi tegang,lemas,labil,loyo fisik dan tidak tenang. Hal ini semua menyebabkan kemampuan berperang mereka menjadi lemah. Tentang nikmat rasa kantuk ini Allah berfirman mengingatkan karuniaNya kepada kaum mukminin “(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya” (QS Al Anfal ayat 11)

2.       Menurunkan Hujan, Pasukan mukminin tidak memiliki persediaan air padahal mereka sangat memerlukannya untuk berwudhu dan menunaikan shalat yang diwajibkan atas mereka. Kebutuhan mereka terhadap air semakin terasa ketika sebagian mereka bangun dalam keadaan junub dan tidak mendapatkan air untuk bersuci. Kemudian syaitan pun mulai membisikkan kepada sebagian mereka, bagaimana kamu akan shalat dalam keadaan junub tanpa mandi?

Tetapi Allah memuliakan para hambaNya yang beriman dan berjihad, dengan menghapuskan bisikan keraguan dari jiwa mereka lalu Allah menurunkan hujan kepada mereka sehingga mereka bisa wudhu,mandi,minum,dan memenuhi tempat-tempat air mereka. Allah berfirman mengingatkan kaum mukminin kepada karunia dan nikmat ini “Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu) (QS Al Anfal ayat 11).

Ada manfaat lain yang sangat penting dari penurunan hujan yang berkaitan dengan aspek militer, yaitu membuat gerak langkah pasukan semakin cepat untuk mengambil posisi yang strategis. Allah menurunkan hujan dalam ukuran sedang kepada kaum mukminin lalu membuat tanah semakin rekat dan gerak langkah mereka menjadi lebih mudah dan cepat, sehingga mereka bisa sampai ke Badar mendahului kaum musyrikin lalu memilih posisi yang cocok dan mengatur pertahanan di tempat tersebut.

Sedangkan hujan yang turun pada pihak Musyrikin sangat lebat lalu membuat tanah becek sehingga gerak langkah mereka menjadi lamban dan sulit. Hal ini menimbulkan pengaruh pada jiwa pasukan yang berperang. Karena pada saat ia kesulitn untuk bergerak ketempat yang di inginkan, ia melihat musuhnya bergerak dengan mudah dan cepat lalu memilih posisi yang diinginkannya.

Artikel Terbaru

0 23
Mereka yang beramal dengan ilmu, akan mendapat perbedaan beberapa derajat.Sempat dinaikkan di esai KuliahOnline, cerita tentang seorang pegawai yang makan siang usai shalat Jumat....