Tags Posts tagged with "Salahuddin Al Ayyubi"

Salahuddin Al Ayyubi

1 98

Besar di Medan Pertempuran

Salahuddin lahir di Tikrit, di tepi Sungai Tigris Iraq pada tahun 1137. Keluarganya berasal dari suku Kurdi. Ia dibesarkan di sebuah keluarga birokrat terpandang di kekhalifahan Islam di Iraq. Sultan Zengi di Syria menunjuk ayahnya yang piawai di pemerintahan dan diplomasi sebagai gubernur kota Baalbek.

Bernama asli Salah al Din Abu Muzaffir Yusuf ibnu Ayyub ibnu Shadi, Salahuddin menghabiskan masa kecilnya di Baalbek dan Damascus. Saat ia berusia enam tahun, bangsa Muslim sedang dalam masa peperangan dengan bangsa Nashrani. Meski situasi tak menentu, ia tetap ditempa ayahnya untuk menguasai sastra, ilmu kalam, menghafal Al Quran dan ilmu hadits di madrasah.

Di abad pertengahan, harapan untuk hidup termasuk kecil dan kaum muda diberikan tanggung jawab besar sejak usia dini. Pada usia 14 tahun, Salahuddin telah menikah dan ditarik pamannya, Shirkuh yang menjabat sebagai komandan militer senior di kota Aleppo ke dalam divisi militernya.

Dunia kemiliteran semakin diakrabinya setelah Sultan Nuruddin menempatkan ayahnya sebagai kepala divisi milisi di Damascus. Pada umur 26 tahun, Salahuddin menjadi asisten pamannya dalam memimpin pasukan muslimin yang berhasil memukul mundur pasukan salib dari perbatasan Mesir dan Aleppo.

Berada di lingkar pusat militer membuat Salahuddi menyaksikan bagaimana kebijakan strategis politik terhadap pasukan salib diputuskan pihak kekhalifahan. Bakat kepemimpinan dan militernya diendus oleh Sultan Nuruddin. Pada tahun 1169 ia diangkat sebagai wazir atau panglima gubernur menggantikan pamannya.

Meski memiliki ayah dan paman yang telah makan asam garam, mentor utama Salahuddin justru Sultan Nuruddin. Sultan Nuruddin adalah penguasa Muslim pertama yang melihat jihad terhadap pasukan salib dapat berhasil jika bangsa Muslim bersatu.

Tiga tahun kemudian, ia menjadi penguasa Mesir dan Syria menggantikan Sultan Nuruddin yang wafat. Suksesi yang ia lakukan sangat terhormat, yaitu dengan menikahi janda mendiang Sultan demi menghormati keluarga dinasti sebelumnya. Ia memulai dengan revitalisasi ekonomi, reorganisasi militer, dan menaklukan Negara-negara muslim kecil untuk dipersatukan melawan pasukan salib.

Impian bersatunya bangsa muslim tercapai setelah pada September 1174, Salahuddin berhasil menundukkan Dinasti Fatimiyah di Mesir untuk patuh pada kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad. Dinasti Ayyubiyah akhirnya berdiri di Mesir menggantikan dinasti sebelumnya yang bermazhab syiah.

Pada usia 45 tahun, Salahuddin telah menjadi orang paling berpengaruh di dunia Islam. Selama kurun waktu 12 tahun, ia berhasil mempersatukan Mesopotamia, Mesir, Libya, Tunisia, wilayah barat jazirah Arab dan Yaman di bawah kekhalifahan Ayyubiyah. Kota Damascus di Syria menjadi pusat pemerintahannya.

Kota Yerussalem tetap menjadi target utama Salahuddin. Namun ia berusaha berhati-hati dalam mengambil keputusan mengenai kota suci yang dikuasai bangsa Nashrani ini. Ia belajar dari kekalahannya di pertempuran Montgisard oleh pasukan gabungan Raja Baldwin IV Yerussalem, Raynald of Chatillon dan Ksatria Templar di tahun 1177. Hanya sepersepuluh saja dari pasukannya yang berhasil pulang ke Mesir.

Perjanjian damai sempat disepakati antara Salahuddin dan Raja Baldwin IV. Namun sebuah insiden memaksa Salahuddin untuk menggelar kembali misi perebutan Yerussalem. Ini di picu oleh aksi penyerangan Raynald of Chatillon terhadap rombongan pedagang dan peziarah haji yang melintasi wilayah Palestina secara membabi buta. Seorang adik perempuan Salahuddin menjadi korban penyerangan ini.

0 134

Dibalik jubah perangnya melegenda sebuah jiwa ksatria yang dihormati oleh para raja-raja. Ia pembebas kota suci Yerussalem dari bangsa Nashrani sekaligus pelindung setiap nyawa musuh-musuh yang telah ditundukkannya. Ia adalah Salahuddin Al Ayyubi, sultan penakluk terbesar yang dimiliki dunia Islam.

Seisi kota Yerussalem pada tahun 1187 menyambut sang penakluk yang baru saja memasuki gerbang utama kota ini. Setelah pengepungan kota beberapa minggu lamanya, kaum muslimin akhirnya sukses merebut kembali kota suci ini. Salahuddin Al Ayyubi, Sultan dari Kekhalifahan Muawiyah di Mesir bersama pasukannya menerobos kerumunan penduduk Yerussalem yang mengelu-elukannya.

Sebagian penduduk kota bergembira atas datangnya pembebas kota suci Islam dari genggaman bangsa Nashrani ini, lainnya justru berharap cemas atas kelanjutan nasibnya. Setiap orang memikirkan seperti apa kemurahan hati sang penguasa baru ini terhadap penduduk kota yang ditaklukkannya.

Tak ada yang lupa sosok penakluk kota Yerussalem yang terdahulu terhadap para penduduk kota tepatnya 88 tahun yang lalu. Saat itu Yerussalem yang masih dikuasai bangsa Muslim jatuh ke tangan pasukan salib yang menyerbu dari daratan Eropa. Setiap penduduk kota, baik Muslim, Yahudi bahkan Nashrani sekalipun dibantai habis tanpa ampun. Jalan-jalan digenangi darah sampai keganasan itu lelah atau terhenti dengan sendirinya.

Meski bangsa Nashrani pernah membuat Yerussalem bermandikan darah, Salahuddin tidak membalas dendam atas masa lalu. Seperti saat Rasulullah SAW memasuki kota Mekkah bersama 10.000 pasukannya, Salahuddin datang tanpa setetes pertumpahan darah. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang akan menjadi begitu terkenal kepada seluruh penduduk Yerussalem “Pergilah kemanapun kalian hendak pergi, kalian telah bebas”.

Tindakan mulia Salahuddin mencengangkan setiap orang saat itu.Sebagian penduduk penganut agama selain Islam dan pejabat penguasa yang menyerah diperlakukan dengan santun dan baik. Pasukan musuh yang menyerah mendapat perlindungan dari penganiayaan dan diperlakukan dengan hormat.

Sikap ksatria Salahuddin menjadi sebuah legenda heroik di masa abad pertengahan. Ia dicintai tak hanya oleh kaum muslimin tetapi juga dihormati oleh raja-raja dari bangsa Nashrani. Bahkan musuh terbesarnya saat perang salib King Richard Lionheart dari Inggris terpesona dengannya setelah merasakan kehangatan sikap ksatria Salahuddin di medan perang.

Apresiasi terhadap sikap ksatria Salahuddin menghiasi kisah-kisah heroisme masa lalu. Oleh penyair dan sastrawan masa lalu, ia diinterpretasikan sebagai suri tauladan bagi kesopanan dan keksatriaan. Bagi sebagian umat Nashrani, sosok Salahuddin sampai-sampai diartikan sebagai figur dengan darah Eropa di nadinya, dan seorang ksatria nashrani di hati. Namun bagi umat Islam ia lebih dari sekadar ksatria atas panji panji Islam. Ia adalah seorang pria beriman dan visioner, seorang pembangkit semangat serta menjadi panutan atas keilmuan dan keberanian.

Artikel Terbaru

0 3
Kyaw Min, seorang aktivis hak-hak Rohingya di Yangon, Myanmar, menyambut baik kerja sama internasional atas krisis kemanusiaan Rohingya. Menurut Min, kerja sama ini merupakan...